Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Mengakui Kebenaran


__ADS_3

"Dea!" teriak sebuah suara yang membuatnya terkejut, dan seketika menghentikan aksinya.


Mendengar suara itu, Dea lalu membalikan wajahnya dan melihat Shakila yang sudah berdiri di ambang pintu dan saat ini tampak mendekat ke arahnya. Dea kemudian menjauhkan tubuhnya dari Rahma lalu tersenyum miring pada Shakila.


"Bagus sekali, Kak. Jadi, kau mengikutiku? Kau memang benar-benar licik!"


"Licik? Bukankah kau yang licik, Dea? Kau sudah tahu jati dirimu yang sebenarnya dan kau tidak mau mengakui itu pada kami? Apa itu namanya kalau bukan licik?"


"Kak Shakila apa kau sudah lupa? Semua kesalahpahaman ini terjadi karena kedua orang tuamu, dan aku tidak melakukan kesalahan apapun, Kak. Semua ini karena kesalahan Papa Dimas dan Mama Delia."


"Ya, semua memang berawal dari kesalahan papa dan mama. Tapi kau tidak sepantasnya bersikap seperti itu, Dea. Kau bukanlah Sachi yang sebenarnya dan kau harus berbesar hati mengakui itu!"


"Enak saja! Enteng sekali kau berkata seperti itu! Jadi menurutmu aku harus menanggung kesalahan yang tidak pernah aku lakukan? Itu maksudmu kan, Kak?"


"Ini bukan tentang menanggung kesalahan, Dea. Tapi mengakui sebuah kebenaran."


"Dan kebenaran itu, tertutup oleh kesalahan yang dilakukan oleh kedua orang tuamu. Memangnya aku salah, kalau aku hanya melanjutkan kejadian yang sudah terjadi? Memangnya aku salah kalau aku menjadi Sachi? Bukankah orang tuamu yang mengakui sendiri kalau aku adalah Sachi?"


"Sangat salah karena kami juga sudah bertemu dengan Sachi yang sebenarnya, dan dia adalah Luna! Jadi kau tidak usah mengaku-ngaku dengan identitas palsumu, Dea. Sampai kapanpun, kau adalah Dea, bukan Sachi!"


"Oh jadi kedua orang tuamu sudah bertemu dengan Sachi?"


"Tentu saja karena Sachi adalah anak kandung kedua orang tuaku, dan Luna berhak mendapatkan identitas dan jati diri yang sebenarnya!"


"Tapi itu tidak akan kubiarkan, karena Sachi akan tetap melekat pada diriku!"


"Enak sekali kau bicara seperti itu! Kau bukan Sachi dan selamanya kau tidak akan pernah bisa menjadi Sachi. Kau bukanlah adikku, bukan anak kandung dari kedua orang tuaku, dan bukan bagian dari keluargaku!


"Baiklah aku terima kalau aku bukan bagian dari keluargamu, tapi aku tidak bisa melepaskan perjodohan itu begitu saja karena itu adalah hakku. Mama Delia yang sudah menjodohkanku dengan Devano. Lagipula, aku juga sudah bertemu dengan orang tua Devano. Dan, dia sudah menyetujui pernikahan kami."


"Dea! Dia menyetujui pernikahan itu karena mengira dirimu adalah Sachi! Coba kalau dia tahu kau bukankah Sachi, aku yakin Tante Viona tidak akan pernah menyetujuimu menikah dengan Devano."


"Tapi sayangnya semua sudah terlambat, besok kami akan menikah karena Tante Viona terlanjur mengira kalau aku adalah Sachi yang sebenarnya, begitupula Devano. Apa tadi Kak Shakila tidak melihat bagaimana sikap Devano padaku? Dia terlihat sangat tertarik padaku kan?"


"Jangan pernah bermimpi Dea! Devano tidak pernah tertarik padamu!"


"Dea, Devano sudah menikah dengan Luna!" sambung sebuah suara di belakangnya. Dea kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Rahma.

__ADS_1


"Apa katamu?" tanya Dea pada Rahma yang baru saja mengatakan kalau Luna sudah menikah dengan Devano.


"Dea, Luna sudah lama menjalin hubungan dengan Devano, bahkan sejak mereka belum tahu kalau Luna adalah Sachi."


"Tidak mungkin!"


"Itulah kenyataannya, Dea!"


"Kalau Devano sudah menikah, kenapa Devano mau melanjutkan perjodohannya? Bahkan dia sempat menyematkan cincin di jarimu kan saat kau menggantikan Sachi pada acara pertunangan itu?"


"Itu karena kisah cinta mereka tidak mudah dan banyak kesalahpahaman karena orang tua Devano yang tidak menyetujui hubungan itu."


"Oh jadi Tante Viona tidak menyetujui hubungan mereka?"


"Ya, tapi setelah tahu Luna adalah Sachi, aku yakin Tante Viona pasti akan menyetujui hubungan mereka. Apalagi saat ini mereka sudah menikah, tidak ada yang mampu memisahkan mereka. Termasuk kau Dea, kau tidak bisa merampas sesuatu hal yang bukan menjadi hak dan milikmu! Kau harus sadar, Devano tidak pernah tertarik padamu!"


"Kak Shakila bukankah kau tahu kemarin, bagaimana sikap Devano padaku? Dia bahkan mau menikah denganku kan?"


"Kupikir kau pintar, tapi ternyata kau bodoh Dea. Bukankah tadi sudah kubilang agar kau jangan pernah bermimpi. Devano melakukan semua itu untuk berpura-pura di depan orangtuanya. Bukankah kemarin kalian sudah melakukan drama di depan Devano? Memangnya kau pikir Devano tidak bisa bermain drama?"


"Hahaha, tentu saja dan satu lagi Devano juga sudah tahu kalau istrinya adalah Sachi yang sebenarnya. Jadi, jangan pernah bermimpi kalau Devano mau meninggalkan Luna dan menikah denganmu. Karena wanita yang dicintai Devano hanyalah Luna."


"Jadi, kalian semua sudah mempermainkan aku?"


"Kau juga sudah mempermainkan kami."


"Aku tidak mempermainkan kalian, bukankah kau tahu aku melakukan semua ini karena kesalahan kedua orang tuamu!"


"Dan, kau tidak sepantasnya meneruskan kesalahan itu! Dea bukankah sudah berulang kali kukatakan padamu agar kau harus berbesar hati menerima kalau kau bukanlah Sachi yang sebenarnya!"


"Bagaimana kalau aku tetap tidak mau?"


"Kau jangan gila Dea! Kau harus sadar siapa dirimu yang sebenarnya!"


SREKKKK


Ditengah perdebatan itu, tiba-tiba terdengar suara berat dari pintu yang terbuka. Lalu sosok perempuan wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan itu. Di belakang wanita itu tampak Devano yang menggandeng tangan Luna.

__ADS_1


'Brengsek kau Devano!' batin Dea.


'Jadi, laki-laki yang dimaksud Luna sebagai kekasihnya saat kami bertemu di food court adalah Devano?' batin Dea kembali.


"Dea!" panggil wanita paruh baya tersebut.


"Ada apa Mama Delia?" tanya Dea.


Tiba-tiba, Delia menangis dan bersimpuh di hadapan Dea. "Dea maafkan aku, maaf karena akulah yang menjadi penyebab kesalahpahaman ini. Tolong maafkan aku. Bagaimanapun juga kau bukanlah putri kandungku."


"Jadi maksudmu kamu membuatku begitu saja, setelah bertemu putri kandungmu yang sebenarnya?"


"Tidak Dea, tolong maafkan aku. Kau bukanlah putri kandungku tapi sampai kapanpun aku mau menganggapku sebagai putriku."


"Hanya itu saja Mama Delia?" tanya Dea.


"Dea sekarang aku tanya padamu, apa yang kau dapat dari semua ini? Kau tidak bisa selalu memaksakan keadaan. Kau bukanlah Sachi, dan akan selamanya seperti itu."


"Diam kau Devano! Kau memang bajinggan, berani-beraninya kau membohongiku!"


"Kau yang terlebih dulu membohongi keluargaku Dea! Kau bahkan berani mengaku-ngaku sebagai Sachi pada orang tuaku dan meminta pernikahan kita dipercepat! Padahal saat itu kau sudah tahu jika kau bukanlah Sachi! Kau tidak pantas bersikap seperti itu, sedangkan Luna saja tidak pernah bertindak seperti itu!"


"Luna lagi, Luna lagi! Kenapa semua orang selalu membela Luna? Kalau begitu lebih baik kau mati saja Luna!" ujar Dea sambil berjalan ke arah Luna.


"Dea, kalau kau berani berbuat macam-macam pada istriku aku tidak segan-segan untuk menghabisimu!"


"Dea jangan!" teriak Rahma.


BRUUKKKK


"Aaaaaaaaaaa!!"


Bersambung...


NOTE: PENGEN NGAKAK SAMPE SAKIT PERUT YANG TOKOHNYA HAMPIR MIRIP DEVANO BACA NOVEL OTHOR DIBALIK CADAR ROMLAH YA. DIJAMIN NGAKAK ABIS 😭😭😭


__ADS_1


__ADS_2