Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Tiga Hari


__ADS_3

"A-apa yang akan kau lakukan, Devano?" teriak Luna.


"Kau kenapa ketakutan seperti itu? Perutku hanya sakit. Jadi, aku melonggarkan celanaku dan melepas ikat pinggangku."


"Huftttt..." Luna pun menghembuskan nafas panjangnya setelah mendengar jawaban Devano.


"Ayo kita turun!"


"Aku tidak mau!"


Devano kemudian menatap tajam ke arah Luna. "Luna, bukankah sudah kukatakan padamu, kalau tugasmu belum selesai! Kau harus menyelesaikan tugasmu, Luna!"


"Bagaimana kalau aku tidak mau? Aku tidak mau menuruti lagi perintahmu, karena bagiku urusan kita sudah selesai! Apa kau belum sadar kalau kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?"


Devano mengangkat sudut bibirnya, lalu menatap Luna dengan tatapan sinis. "Jadi kau mau membantahku?"


"Tentu saja! Aku sudah tidak mau berurusan dengan laki-laki menjijikan sepertimu lagi, Devano!"


"Baik, baik kalau kau tidak mau, Luna. Sekarang juga aku akan memecat adikmu dan aku minta kau kembalikan uang seratus juta yang telah kuberikan padamu untuk membayar hutang-hutang adikmu!"


"Tolong jangan pecat Arka! Tapi tolong beri aku waktu untuk mengembalikan uang seratus juta itu."


"Tidak, aku tidak mau menunggu, Luna. Kau harus mengembalikan uang itu sekarang juga!"


"Kau gila, Devano! Aku bukan orang kaya sepertimu! Aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang!"


"Kalau begitu turuti perintahku! Karena bagiku, kau belum selesai mengerjakan tugasmu untuk melunasi hutang-hutangmu itu!"


"Dasar brengsekk!"


"Kau tidak punya pilihan, Luna. Kau harus menuruti kata-kataku! Kalau tidak, aku bisa melakukan apapun pada hidupmu! Termasuk nenghancurkan hidupmu dan keluargamu!" ucap Devano sambil tersenyum menyeringai.


Luna pun menutup matanya, lalu menghembuskan nafas panjangnya sambil memijit keningnya. Rasanya begitu berat menerima kenyataan yang harus dihadapi. Beberapa detik kemudian, dia membuka matanya lalu menatap tajam ke arah Devano.


"Apa yang kau inginkan dariku?"

__ADS_1


Devano kemudian menatap lekat wajah Luna dengan tatapan begitu hangat. Ingin rasanya dia menggerakan tangannya dan menyentuh wajah cantik itu. Namun dia tahu, hanya akan ada penolakan dari wanita yang ada di hadapannya itu.


"Devano, kenapa kau diam? Apa yang kau inginkan dariku?"


"Tinggalah bersamaku selama tiga hari, tiga hari saja Luna. Karena waktu kita bersama hanya tersisa tiga hari Luna, tiga hari... " ujar Devano yang tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Dia kemudian memalingkan wajahnya, mencoba menutupi air mata yang hampir saja lolos dari sudut matanya. Melihat tingkah aneh Devano, Luna pun tampak mengerutkan keningnya.


"Devano!" panggil Luna. Devano kemudian membalikkan wajahnya lalu menatap Luna.


"Bagaimana? Kau mau kan? Selesaikan tugasmu selama tiga hari!"


"Memangnya kau memberiku pilihan?" ucap Luna sambil menahan perasaan yang begitu sakit. Tak dapat disangkal, rasa cintanya masih begitu besar pada Devano, namun saat mengingat semua rekaman suara Devano yang diputar oleh Viona, hatinya terasa begitu sesak. Mendengar jawaban Luna, Devano kemudian tersenyum kecut.


"Anak pintar. Ayo turun sekarang!" perintah Devano. Dengan berat hati, akhirnya Luna menuruti perintah Devano. Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam gedung apartemen. Devano kemudian menjejeri langkah Luna yang awalnya berjalan di belakangnya, sambil memeluk pinggangnya. Luna kemudian menatap tajam ke arah Devano, namun hanya dibalas kedipan manja olehnya.


"Dasar messum!" gerutu Luna. Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di unit apartemen Devano.


"Luna, masuklah ke dalam kamarmu! Aku sudah membelikan pakaian untukmu. Termasuk kaca mata dan masker baru untukmu!" ucap Devano sambil terkekeh.


"Kaca mata? Masker? Untuk apa? Apa kita mau pergi?"


"Lalu untuk apa kaca mata dan masker itu?"


"Kau polos sekali, Luna! Kaca mata dan masker itu tentu saja untuk membungkus susu kenyal dan si chuby dan berponi milikmu!"


"DASAR MESSSSUMMMM!" teriak Luna, dia kemudian berjalan ke arah kamarnya sambil mendengus kesal. Sementara Devano hanya terkekeh melihat Luna yang kini terlihat begitu kesal.


"Luna, aku sangat merindukanmu. Apapun yang ada pada dirimu selalu kurindukan, beri aku waktu selama tiga hari untuk membuatmu kembali padaku. Jika kau masih belum menerimaku, aku ikhlas untuk melepasmu, sekaligus menerima perjodohanku."


Sedangkan Luna yang masuk ke dalam kamarnya, tampak begitu terkejut saat melihat kamar itu begitu wangi oleh lilin aromatherapy. Dia kemudian melihat ke arah ranjang dan melihat sebuket mawar warna merah dan sebuah papper bag.


Luna kemudian mendekat ke arah ranjangnya, lalu mengambil bunga mawar itu dan menciumnya sebentar lalu menaruhnya kembali di atas ranjang. Dia kemudian mengambil sebuah papper bag, dan melihat isinya.


"Cokelat? Dia membelikan cokelat sebanyak ini untukku?" ujar Luna.


"Ah tidak, Luna. Ingat semua ini hanyalah sandiwara! Semua ini hanya sandiwara! Aku tidak boleh terjebak lagi pada bujuk rayunya!" ujar Luna. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi sambil meletakkan sebuket mawar dan paper bag itu begitu saja.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Luna kemudian keluar dari kamar lalu berjalan ke arah dapur dan memasak makanan sesuai yang diperintahkan oleh Devano. Namun saat tengah asyik memasak, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sentuhan tangan di bahunya.


"Kau mau apa, Devano?" tanya Luna, tanpa membalikkan tubuhnya. Devano hanya diam, detik selanjutnya hanya sebuah suara alat pengering rambut yang terdengar.


"Kenapa kau tidak mengeringkan rambutmu? Kau bisa masuk angin kalau membiarkan rambutmu basah seperti ini Luna," ujar Devano sambil mengeringkan rambut Luna dengan menggunakan hair dryer.


Luna pun begitu tertegun, namun dia mengabaikan perasaan hangat yang merasuk ke dalam hatinya. 'Jangan terpengaruh, Luna. Jangan terpengaruh!' batin Luna. Dia kemudian menyelesaikan masakannya, bertepatan dengan Devano yang telah menyelesaikan mengeringkan rambutnya.


Mereka kemudian duduk di kursi meja makan. "Luna... "


"Apa?"


"Suapi... "


"Makan sendiri, kau punya tangan kan? Memangnya untuk apa tanganmu itu?"


"Tanganku? Untuk menjabat wali Neng Luna saat ijab qabul, ea ea ea."


Luna pun ingin tersenyum, tapi dia tetap mengatupkan bibirnya.


"Aku sedang tidak ingin becanda, Devano!"


"Kau pikir aku becanda? Semua ada di tanganmu, Luna. Kalau kau mau menerimaku, aku akan menikahimu."


"Ingat Devano, aku sudah tidak percaya lagi padamu! Malam itu kau juga berjanji menikahiku kan? Tapi ternyata itu semua hanyalah sandiwara! Sandiwara hanya untuk merebut kesucianku!"


Devano pun hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya. Dia kemudian menggengam tangan Luna, lalu menarik tangan itu hingga tubuhnya terangkat dari kursi, dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Devano, kau mau apa? Lepaskan aku Devano!"


"Ikut aku! Apa kau sudah lupa kalau kau harus menyelesaikan tugasmu!" bentak Devano.


Luna yang panik saat Devano menariknya masuk ke dalam kamar, spontan mengambil sebuah tongkat baseball yang ada di dalam guci dekat kamar Devano lalu memukul kepala Devano dengan pemukul baseball itu.


BUKKKK

__ADS_1


Dan di saat itu juga, tubuh Devano pun ambruk ke atas lantai.


__ADS_2