
Luna kemudian mengangkat panggilan pada ponsel Devano, sedangkan Devano dengan sedikit kesal terpaksa mengenakan pakaiannya.
"Baru aja mau karokean, lagi enak-enaknya udah ada yang ganggu. Sabar ya Jon, ini bukan rejekimu. Tapi nanti malam kita habisi wanita seksi pemilik Dora itu di ranjang. Apa kau setuju?" Devano kemudian melihat bagian bawahnya.
"Oh kau berkedut, berarti kau setuju kan? Anak pintar," kekeh Devano.
[Halo Sachi]
[Halo Kak Shakila, ada apa?]
[Sachi bisakah kau dan Devano mengikutiku pergi sekarang?]
[Ikut pergi denganmu? Pergi kemana Kak?]
[Entahlah, aku juga tidak tahu.]
[Kakak, aku benar-benar tidak mengerti. Kak Shakila menyuruh kami pergi mengikutimu, tapi kakak juga tak tahu pergi kemana? Apa maksudnya Kak?]
[Sebenarnya begini Sachi, tadi aku melihat Dea keluar dari rumah dengan mengendap-ngendap. Lalu, aku ikuti saja mobil yang ditumpangi oleh Dea. Kita ikuti kemana Dea pergi, Sachi. Aku takut dia bertindak hal yang tidak-tidak.]
[Jadi, Kak Shakila menyuruh kami untuk mengikuti kemana Dea pergi?]
[Iya, kau benar Sachi. Nanti kukirimkan map kemana arah kemana kami pergi.]
[Oh baiklah kalau begitu, Kak. Aku bilang dulu ke Devano.]
[Iya Sachi.]
Luna kemudian menutup panggilan telepon dari Shakila. "Ada apa Luna? Kelihatannya serius sekali?"
"Devano, kata Kak Shakila, Dea pergi dari rumah dengan mengendap-ngendap. Kak Shakila curiga, takut Dea berbuat sesuatu hal yang tidak-tidak."
"Astaga, benarkah itu?"
"Iya, kalau begitu kita ikuti saja kemana Dea pergi."
"Iya Devano."
Mereka kemudian merapikan penampilan mereka, lalu keluar dari rumah dan mengikuti petunjuk arah map yang dikirimkan oleh Shakila.
"Bukankah ini arah menuju ke rumah sakit Devano?"
"Iya kau benar, Luna."
"Apa ini artinya Dea akan mengunjungi Mama Rahma?"
"Kemungkinan seperti itu, mungkin dia ingin bertemu dengan ibunya."
"Mama Rahma memang ibu kandungnya, tapi kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak seperti ini? Apalagi saat mengingat sikap Dea pada Mama Rahma."
"Iya, aku juga Luna. Sebaiknya kita ikuti saja dulu kemana Dea pergi, apa benar dia pergi ke rumah sakit?"
"Iya Devano."
Beberapa saat kemudian, arah map yang ditunjukkan oleh Shakila ternyata menuju ke rumah sakit tempat Rahma dirawat.
__ADS_1
"Benar Devano, ternyata Dea pergi ke rumah sakit."
"Iya, kita ikuti saja permainannya."
"Devano aku hubungi Kak Shakila dulu."
"Iya Luna."
Devano kemudian memarkirkan mobilnya sedangkan Luna tampak menghubungi Shakila. "Bagaimana Luna?"
"Kak Shakila juga sudah sampai disini."
"Oh baik kita tunggu saja diluar."
Saat mereka berdua keluar dari mobil, tiba-tiba sesosok wanita mendekat kearah mereka. "Sachi, Devano!" panggil sebuah suara wanita.
Mereka kemudian membalikkan badannya, dan melihat seorang wanita yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Kak Shakila!" sapa Luna.
"Sachi, aku takut Dea berbuat hal yang tidak-tidak."
"Iya, aku juga takut dia menyakiti Mama. Sachi coba kau hubungi Arka, barangkali dia masih ada di ruangan Bu Rahma.
"Iya, Kak."
Luna kemudian menghubungi Arka, namun Arka mengatakan kalau saat ini dia sedang mengantarkan Kayla pulang karena beberapa kali perutnya terasa mulas.
"Kak Shakila, Arka sedang pulang ke rumah."
"Iya Kak, kalau begitu cepat kita masuk ke dalam. Aku takut Dea berbuat nekad pada Mama."
"Iya, ayo!" jawab Devano. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah sakit.
Sementara itu, Dea yang saat ini sudah sampai di depan ruang perawatan Rahma, perlahan membuka pintu kamar perawatan itu.
CEKLEK
Rahma yang sedang memejamkan matanya tampak kaget saat mendengar suara pintu yang terbuka. Belum hilang rasa kagetnya itu, tiba-tiba jantungnya seakan terasa berhenti berdetak saat melihat kedatangan sosok Dea.
Dea yang melihat Rahma tampak begitu terkejut dengan kedatangannya hanya tersenyum menyeringai.
"Mama!" panggil Dea.
"Mau apa kau kesini, Dea?" tanya Rahma.
"Apa aku salah kalau aku ingin bertemu denganmu? Apa aku salah kalau aku ingin bertemu dengan ibu kandungku? Sebegitu tidak berarti kah diriku bagimu, Ma?"
"Bukannya seperti itu Dea, aku hanya tidak ingin kau berbuat hal bodoh yang akan merugikan dirimu sendiri."
"Hal bodoh apa maksudmu?"
"Dea, mama tahu mama telah banyak melakukan kesalahan padamu. Tapi, tidak sepantasnya kau bersikap seperti ini, Dea."
"Karena itulah aku datang ke sini! Karena itulah aku hanya ingin minta padamu agar kau tidak semakin memperkeruh masalah ini!"
__ADS_1
"Memperkeruh masalah ini? Apa maksudmu, Dea?"
"Sekarang aku tanya padamu, apakah kau sayang padaku?"
"Tentu Dea, aku sangat menyayangimu. Bahkan aku rela berpisah denganmu, semua kulakukan untuk menyelamatkanmu agar kau bisa mendapatkan perawatan terbaik. Semua kulakukan hanya untukmu, Dea. Apa kau tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang dipisahkan dari anaknya? Sangat sakit. Tapi Semua kulakukan hanya untukmu, percayalah pada mama, Nak."
"Sudah cukup aku tidak mau mendengar perkataanmu itu, aku tidak mau mendengar alasanmu! Sudah cukup rasa sakitku saat kau lebih memilih merawat wanita itu. Bahkan saat ini kau lebih memilih untuk membelanya, kan?"
"Dea mengertilah semua kulakukan hanya untuk menebus rasa bersalahku."
"Cukup! aku tidak mau mendengar kata-katamu itu! Sekarang jika kau menyayangiku tolong aku minta kau jangan pernah melaporkan masalah ini pada pihak yang berwajib, cukup hanya kita yang tahu tentang semua ini, tentang penusukan itu."
"Dea, kau tenang saja. Mama tidak akan pernah melakukan semua itu, Nak. Mama terima apapun yang kau lakukan. Mama anggap ini adalah sebagai perwujudan sakit hatimu. Mama terima, dan mama tidak akan melaporkanmu pada pihak yang berwajib."
"Bagus aku kupegang janjimu!"
"Iya Dea, kau tenang saja mama tidak akan pernah melaporkan mu."
Tanpa sengaja, netra Dea tertuju pada meja yang ada di dalam ruang perawatan tersebut. Tampak di meja itu ada berbagai macam makanan dan buah-buahan. Dea yang merasa heran hanya mengernyitkan keningnya.
"Apa itu kenapa di atas meja itu banyak sekali makanan?"
"Oh itu kiriman dari Nyonya Delia dan Shakila, tadi mereka menjenguk mama."
"Apa? Mereka menjengukmu? Bagaimana mungkin?"
"Iya tadi Arka tidak sengaja bertemu dengan Nyonya Delia di kantin, jadi mereka menyempatkan diri menjenguk ke ruangan ini."
Mendengar perkataan Rahma, Dea kemudian menatap wanita itu dengan tatapan tajam. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Mereka menjengukmu?"
"Iya, mereka menjengukku. Memangnya kenapa?"
"Kau jangan berpura-pura bodoh, mereka pasti memiliki tujuan tertentu sampai menemuimu di sini kan?"
"Dea, kenapa kau berkata seperti itu?"
"Tolong jujur padaku, apa yang mereka lakukan di sini?"
"Dea mereka hanya menjengukku."
"Jangan bohong mereka pasti meminta bukti itu kan? Mereka pasti memintamu untuk berkata yang sebenarnya tentang jati diriku kan?"
"Dea memangnya kenapa? Bukankah kebenaran harus diungkapkan?"
"Perlu berapa kali kukatakan padamu tolong mengertilah keadaanku? Kenapa kau tidak pernah membiarkan aku bahagia?"
"Setiap orang tua pasti ingin anaknya hidup bahagia, tapi tidak seperti itu caranya Dea. Aku tidak ingin kau bahagia diatas kepalsuan!"
"Kenapa kau tidak bisa mengerti keadaanku?" bentak Dea. Dia kemudian mendekat ke arah Rahma dan menatapnya dengan tatapan tajam, lalu mengangkat tangannya dan menempelkan tangan itu di leher Rahma. Rahma hanya bisa memejamkan matanya, dua hanya bisa pasrah karena saat ini kondisi fisiknya benar-benar tidak berdaya.
NOTE:
Mampir ke karya bestie othor ya, novel kak Nirwana Asri dijamin ceritanya oke banget deh.
__ADS_1