Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Bidadari Empang


__ADS_3

Viona tampak berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Dia terlihat begitu cemas sambil beberapa kali melihat ponselnya.


"Kenapa sejak kemarin Devano tidak mau mengangkat panggilan dariku? Jadi, dia sudah berani berbuat lancang padaku? Kurang ajar sekali Devano! Pasti ini semua terjadi karena dia dipengaruhi oleh wanita sialan itu!"


Viona tampak menautkan alisnya. "Tapi bukankah aku kemarin sudah memberi peringatan pada wanita itu? Apa dia belum pergi juga dari kehidupan Devano? Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan! Lebih baik aku sekarang pergi ke rumah mereka, dan akan kuberi peringatan lagi pada mereka berdua! Terutama kepada wanita sialan itu!"


Namun saat Viona akan melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu, tampak Dea sudah berdiri di depan rumah itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu manis.


"Selamat pagi Tante Viona," ucap Dea.


"Se-Selamat pagi Sachi," jawa Viona terbata-bata karena terkejut melihat Dea yang kini sudah ada di hadapannya.


"Tante rapi sekali, apa Tante mau pergi?"


Viona pun tampak begitu gugup. Kenudian, tiba-tiba di saat itulah Viona mendapatkan sebuah ide. 'Mumpung aja Sachi di sini, aku manfaatkan saja keberadaannya,' batin Viona.


"Kenapa Tante Viona?"


"Aku tidak apa-apa Sachi. Emh, begini Sachi maukah kau membantuku?" tanya Viona dengan sedikit ragu-ragu.


"Tentu saja apa yang bisa kubantu Tante Viona?"


"Begini, maukah kau membantuku untuk membuat Devano datang ke sini? Dari kemarin ponselnya sangat susah dihubungi, pasti dia sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga mengabaikanku begitu saja."


"Apa? Devano mengabaikan Tante?"


"Emh sebenarnya Devano anak yang baik, hanya saja kalau dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dia bisa saja melupakan tante, karena dia merasa dia itu sudah besar dan bukan anak mami itu maksud tante."


"Oh seperti itu?"


"Iya, Devano sangatlah mandiri. Dia tidak mau diurusi oleh orang tuanya lagi, dia juga anak yang sangat manis dan berbakti pada kami. Kau pasti tidak menyesal memiliki suami sebaik Devano. Kalian pasti akan jadi pasangan yang sangat cocok."


"Tante bisa saja."


"Iya, itulah kenyataannya Sachi. Kau mau kan membantuku?"


"Memangnya apa yang harus kulakukan Tante?"

__ADS_1


"Emh begini," jawab Viona dengan membisikkan sesuatu di telinga Dea yang membuat dia tersenyum.


"Bagaimana kau mau kan?"


Dea kemudian mengangguk. "Iya tante."


"Bagus Sachi, akan kupastikan hari ini juga kau bertemu dengan Devano."


"Terima kasih, Tente."


'Dan takkan kubiarkan Devano pergi dari rumah ini. Setelah Devano datang, tak akan kubiarkan Devano pergi dari rumah ini, dan menemui wanita sialan itu lagi karena Devano harus menikah dengan Sachi secepatnya. Hahaha,' batin Viona dalam hati.


***


Sementara itu Devano yang saat ini yang tengah sibuk di kantor tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah suara di ponselnya. Devano pun hanya berdecak sebal, namun ponsel tersebut berulang kali berbunyi. Akhirnya, Devano pun terpaksa mengambil ponsel itu dan melihat sebuah pesan yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal yang merupakan nomor dari Dea.


Pesan itu berisi foto yang memperlihatkan Viona sedang terbaring di atas tempat tidur dengan tangan yang terluka, dan dipenuhi dengan darah.


"Astaga apa-apaan apa-apaan ini?" ujar Devano yang kini mulai terlihat panik. Dia kemudian membaca pesan yang di yang ada di bawah foto tersebut.


"Devano, mamamu melukai dirinya sendiri. Tolong kau pulang dan temui mamamu sekarang."


Saat sedang mengendarai mobilnya, sebuah pesan masuk ke ponsel Devano. Devano lalu melirik layar ponsel dan melihat nama Shakila yang mengirim pesan padanya. Dia kemudian tersenyum kecut saat melihat video rekaman yang dikirimkan Shakila berupa pengakuan dari Rahma yang mengatakan kalau Dea adalah anak kandungnya, disertai bukti lainnya, berupa hasil tes golongan darah dan perbedaan foto Dea dan Luna saat mereka masih bayi.


****


Dea dan Viona tampak menunggu kedatangan Devano dengan sedikit cemas di dalam kamar Viona. Mereka khawatir jika Devano tidak datang ke rumah, namun saat Viona menelepon kantor, salah satu staf kantor mengatakan kalau Devano keluar meninggalkan kantor tersebut beberapa saat yang lalu.


"Tante," pangggil Dea pada Viona yang tampak sedang memainkan ponselnya.


"Ada apa Sachi?"


"Emh, Tante percaya padaku?"


"Tentu saja tentu tante percaya padamu, Sayang. Memangnya ada apa? Apa ada yang ingin kau sampaikan pada tante?"


"Iya Tante ini tentang hubunganku dengan Kak Shakila. Sebenarnya hubunganku dengan Kak Shakila tidaklah baik. Kak Shakila tidak terlalu menyukaiku."

__ADS_1


"Astaga benarkah begitu Sachi? Iya Tante, Kak Shakila tidak terlalu menyukaiku, dia bahkan selalu menjelek-jelekkan aku, dan berkata yang tidak-tidak pada. Dia juga pernah menuduhku kalau aku bukanlah anak kandung dari Papa dan Mama."


"Benarkah sampai separah itu Sachi?"


"Iya Tante, itulah alasannya selama ini aku hidup di luar negeri. Karena hubunganku dengan Kak Shakila tidak terlalu baik."


"Aku benar-benar tidak menyangka Shakila tega berbuat seperti itu padamu. Dia terlihat sangat manis dan sopan, aku tidak menyangka jika dia ternyata memiliki sifat buruk seperti itu."


"Iya, Kak Shakila memang sangat cantik, sikapnya pun sopan dan sangat manis. Tapi, itulah kenyataannya Tante, Kak Shakila tidak sebaik yang semua orang pikirkan. Dia bahkan selalu menjelek-jelekkan aku, Tante percaya padaku kan?"


"Tentu saja, tante percaya padamu karena kau adalah calon menantu tante."


"Terima kasih, Tante. Emh sebenarnya begini Tante, Kak Shakila selalu menuduhku kalau aku bukan anak kandung Papa dan Mama, jadi nanti kalau Kak Shakila menjelek-jelekkan aku tolong jangan percaya padanya Tante. Percaya saja padaku, Tante mau kan percaya padaku?"


"Oh tentu saja tentu saja mau karena kau adalah calon istri dari putraku, aku sangat percaya padamu Sachi."


"Terima kasih Tante."


"Iya sayang."


Tak berapa lama, suara deru mobil yang berhenti di depan rumah pun terdengar. "Mungkin itu Devano, sebaiknya kau bukakan pintu untuk calon suamimu itu."


"Oh iya, baiklah akan kubukakan pintu untuk Devano."


Dea lalu keluar dari kamar Viona, dan berjalan menuruni tangga untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, Dea pun begitu terkejut melihat seorang laki-laki tampan yang ada di hadapannya.


'Astaga jadi ini yang namanya Devano? Tampan sekali, dia bahkan lebih tampan dibandingkan Kak Derren pacar Kak Shakila itu. Tentu saja aku mau kalau aku harus menikah dengan laki-laki setampan Devano. Kalau begitu, aku tidak akan melepaskan Devano begitu saja,' batin Dea.


Devano yang melihat Dea yang ada di hadapannya lalu tersenyum kecut. "Hai, jadi kau yang bernama Sachi?"


Dea pun tampak gugup. "I-ya aku Sachi," jawab Dea.


"Kau cantik sekali Sachi, senang bertemu dengan wanita secantik dirimu," ujar Devano sambil mencium punggung tangan Dea.


"Terima kasih banyak Devano. Ayo kita masuk kedalam mamamu sudah menunggumu," jawab Dea yang kini tersipu malu mendapat pujian dari Devano. Devano lalu masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Dea ke kamar Viona.


'Sepertinya Devano tertarik padaku,' batin Dea.

__ADS_1


'Kau memang sangat cantik, seperti bidadari. Bidadari turun dari empang, mimi peri dong hahhaahaha. Ayo kita mulai permainan ini bidadari empangku,' batin Devano.


__ADS_2