
Luna kemudian mengangkat panggilan telepon dari Arka.
[Halo Arka.]
[Halo Mba Luna.]
[Iya kenapa Arka? Kenapa kau malam-malam seperti ini menelponku?]
[Mama Mba, keadaan Mama memburuk.]
[Apa? Keadaan mama memburuk?]
[Iya Mba, maafkan aku mba. Aku lupa memberi tahu kalau beberapa bulan ini mama memang menderita penyakit diabetes, dan luka di perut Mama sulit sembuh karena penyakit diabetes mama tersebut.]
[Jadi, mama menderita penyakit diabetes?]
[Iya mba.]
[Astaga!] Luna pun begitu terkejut mendengar perkataan Arka.
[Arka, ini sangat menakutkan.]
[Iya mba, aku baru ingat. Maafkan aku karena itulah aku menelepon Mba Luna agar Mbak Luna bisa datang menemui mama secepatnya, apalagi saat ini ada infeksi di luka tersebut karena luka jahitan itu sempat robek.]
[Astaga, kalau begitu aku ke rumah sakit sekarang.]
[Iya Mba.] jawab Arka.
"Ada apa Luna?" tanya Devano.
"Devano, ternyata mama menderita penyakit diabetes."
"Apa diabetes?"
"Iya Devano."
"Ini menakutkan sekali, Luna. Bukankah luka pada penderita diabetes itu sangat sulit sembuh?"
"Iya Devano karena itulah aku sangat mencemaskan keadaan Mama. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit sekarang?"
"Iya kita ke rumah sakit sekarang!" jawab Devano. Mereka kemudian bersiap-siap ke rumah sakit untuk menemui Rahma.
***
__ADS_1
Ketiga polisi yang membawa Dea tampak membalik tubuh Dea.
"Bukankah kau cuma menembaknya di kaki? Kenapa dia jadi seperti ini? Kenapa dia pingsan seperti ini?"
"Mungkin karena penyakit jantung yang diderita olehnya, bukankah tadi dia mengatakan kalau dia menderita penyakit jantung?"
"Oh iya kau benar, mungkin ini karena penyakit jantung," ujar salah seorang polisi tersebut.
"Kalau begitu, cepat kita bawa ke rumah sakit sebelum kondisinya semakin parah."
Ketiga polisi itu lalu membawa Dea ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian, polisi tersebut yang sudah sampai di rumah sakit lalu menghubungi Arka.
[Halo Tuan Arka.]
[Iya ada apa Pak?]
[Ini tentang saudara perempuan anda, Dea. Saat ini dia ada di rumah sakit.]
[Apa? Kak Dea ada di rumah sakit?]
[Iya, memangnya ada apa Pak Polisi?]
[Tadi dia berusaha melarikan diri dan kami menembak kakinya. Tapi entah kenapa dia tiba-tiba pingsan mungkin efek dari penyakit jantung yang diderita.]
"Arka, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Mama, Kak Dea tadi berusaha melarikan diri, jadi polisi terpaksa menembak kakinya. Tapi mungkin karena dia menderita penyakit jantung, jadi dia tidak sadarkan diri."
"Dea tidak sadarkan diri?" ucap Rahma lirih dengan deru nafas yang begitu tersengal-sengal.
"Iya ma, dan saat ini dia ada di ruang emergency," jawab Arka.
"Mama ingin bertemu Dea," ucap Rahma begitu lirih. Deru nafasnya kini mulai melemah dan tak beraturan.
"Tapi ma kondisi mama sangat tidak memungkinkan, lihat keadaan mama saja seperti ini."
"Tidak apa-apa," sahutnya pelan seolah tanpa tenaga.
Melihat Rahma, Arka pun merasa iba. Dia kemudian keluar dari ruang perawatan Rahma untuk meminta bantuan perawat agar bisa membawa Rahma ke ruang emergency.
Seorang perawat lalu mendorong brankar Rahma ke ruang emergency. Brankar itu lalu diletakkan di samping brankar Dea, yang tampak kini tidak sadarkan diri.
Rahma kemudian menatap tubuh Dea dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
'Putriku sayang, apapun yang pernah kulakukan padamu, percayalah kalau aku sangat menyayangimu. Apapun yang pernah kulakukan padamu itu untuk kebaikanmu. Jangan pernah ragukan rasa sayangku padamu,' batin Rahma sambil meneteskan air matanya.
Tiba-tiba Rahma sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di perutnya, dia kemudian menatap Arka seolah memberi kode agar putranya itu mendekat ke arahnya. Arka kemudian mendekat ke arah Rahma lalu memegang tangannya.
"Ada apa Ma? Apa yang ingin mama katakan?"
Tepat di saat itulah Luna juga sampai di ruang emergency itu. Luna lalu mendekat ke arah Rahma. Wajah Rahma tampak begitu pucat, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya. Sedangkan tangannya terlihat begitu gemetar dalam genggaman Arka.
Rahma kemudian menatap Luna dengan tatapan sayu. "Maaf," ucap Rahma lirih.
Dia kemudian memandang Arka sambil memegang dada sebelah kirinya dan mengucapkan sebuah nama yaitu, Dea.
Setelah itu, mata Rahma terpejam, deru nafasnya pun tak lagi terdengar, tubuh itu pun kini tampak membeku.
"Mama!" teriak Arka dan Luna.
***
Entah berapa lama Dea tertidur, saat dia membuka matanya, dia merasakan nyeri di bagian dada kiri dan kakinya. Samar-samar, dia melihat Arka yang kini duduk di sampingnya.
"Kau sudah bangun, Kak?" tanya Arka. Raut wajah adiknya itu tampak begitu sendu. Dea pun mengangguk, rasanya dada sebelah kirinya begitu sakit, tapi dia tidak tahu apa yang terjadi.
"Kenapa dada sebelah kiriku sangat sakit? Bukankah polisi itu menembak kakiku? Kenapa dada kiriku yang sakit?"
"Itu karena kau baru saja melakukan operasi transplantasi jantung, Kak."
"Apa? Operasi transplantasi jantung? Siapa yang mendonorkan jantungnya padaku?"
Arka pun tidak bisa menjawab pertanyaan Dea, hanya air mata yang keluar dari sudut matanya. Dia kemudian memberikan sepucuk surat pada Dea.
Madiun, 20 Oktober 2002.
Sebuah tanggal yang akan selalu kuingat dalam hidupku, ketika aku melahirkan malaikat kecilku. Malaikat kecil yang begitu cantik dan indah di mataku. Namun, selain kebahagiaan aku juga harus merasakan kesedihan karena ternyata putriku tidaklah seperti bayi yang lain. Rasanya hatiku begitu berkecamuk, apapun yang terjadi, aku memang akan menerimanya, tapi bagaimana dengan suamiku? Aku sangat bingung apa yang harus kulakukan. Aku sangat menyayangi putriku, tapi bagaimana dengan suamiku? Rasanya aku ingin mati saja jika membayangkan suamiku yang tidak bisa menyayangi putriku. Lalu bagaimana dengan biaya pengobatan yang tak bisa kutanggung?
Lalu, saat sebuah kesempatan itu datang, aku memang tidak berpikir jernih karena yang kupikirkan saat itu adalah menyelamatkan putriku, agar putriku tetap bisa bertahan hidup. Aku juga tidak ingin putriku hidup dalam kondisi tertekan karena suamiku yang tidak menyayanginya. Bagaimanapun juga, aku adalah seorang ibu, seorang ibu yang sangat mencintai putrinya dan mau berbuat apapun untuk menyelamatkan putrinya. Meskipun saat itu aku akhirnya melakukan hal terbodoh di dunia, aku tak peduli. Meskipun seluruh dunia marah padaku bahkan mengutuk sikapku, aku juga tak peduli karena yang kupikirkan saat itu adalah keselamatan putriku. Putriku, maafkan aku kalau caraku ini salah. Maafkan aku kalau aku sudah menyakitimu, apapun yang terjadi ketahuilah kalau aku sangat menyayangimu aku hanya ingin kau bertahan, seperti sekarang. Dea, tolong perbaiki hidupmu melalui kehidupan baru yang telah Tuhan berikan padamu.
Daun-daun yang menghiasi kerangka pohon pun suatu saat akan jatuh dari tangkainya, ia akan jatuh dengan sendirinya menuju hamparan tanah ketika sudah waktunya. Tidak ada satupun hal yang mampu melawan takdir, semua akan kembali pada Sang Pencipta, entah bagaimana caranya. Saat ini aku harus kembali pada Sang Pencipta dan memberikan kehidupan baru padamu. Dea, hiduplah dengan kehidupan barumu. Aku akan selalu menyayangimu.
Salam sayang,
Rahma, orang tua terbodoh yang pernah menyia-nyiakan dirimu.
Setelah membaca surat tersebut, tetes air mata pun keluar dari sudut mata Dea. "Mama," ujarnya lirih.
__ADS_1