
Devano kemudian mengambil ponsel yang ada di atas meja makan dan melihat sebuah nama di layar ponselnya.
'Arka?' batin Devano saat melihat sebuah pesan yang dikirimkan oleh Arka. Dia kemudian menatap Luna yang saat ini tengah membereskan sisa makanan di atas meja makan.
"Luna sayang, bolehkah aku minta tolong padamu?"
"Tentu saja. Ada apa?"
"Aku minta tolong belikan obat sakit kepala di apotek bawah. Kepalaku tiba-tiba sakit."
"Jadi kau sakit?"
"Ho oh, sakit Neng Luna."
"Baik aku ke bawah dulu."
"Luna."
"Apa?"
"Tolong ganti pakaianmu."
"Tanpa kau suruh aku juga tahu Devano, aku tidak mungkin keluar menggunakan pakaian seperti ini."
"Tapi Luna, ganti pakaian saja tidak cukup."
"Apa maksudmu?"
Devano kemudian tersenyum menyeringai. "Ganti pakaianmu dengan pakaian tertutup lalu pakai masker. Ingat, tidak boleh ada yang menatapmu dengan tatapan nakal selain aku, kau mengerti kan Luna?"
"Astaga Devanooooo..."
"Oh iya jangan pake baju pas di badan. Pakai kaosku saja, Luna!"
"Devanoooo..."
"Luna, pakai kaosku!"
"Astaga, baiklah," gerutu Luna. Dia kemudian masuk ke dalam kamar Devano untuk mengambil kaos Devano dan memakainya, sedangkan bawahannya dia menggunakan celana jins model wide legg yang longgar.
"Luna!" panggil Devano saat dia berjalan menuju pintu. Luna kemudian membalikkan tubuhnya, sedangkan Devano memperhatikan penampilannya.
"Sudah cukup! Bagus, sekarang pakai maskermu!"
Luna pun hanya bisa mendengus kesal sambil menghembuskan nafas panjangnya. Setelah Luna keluar dari apartemen, Devano kini tampak mengambil ponselnya kemudian menelepon Arka.
[Halo Arka, bagaimana?]
[Tuan Devano, begini saya sudah tahu alasan mama sering mengunjungi panti asuhan tersebut. Dia sering mengunjungi panti asuhan tersebut untuk mengunjungi seorang gadis yang bernama Dea.]
__ADS_1
[Dea?]
'Dea? Bukankah Dea adalah gadis yang Luna temui di food court tadi siang?' batin Devano.
[Ya, mama datang ke panti asuhan itu untuk menemui Dea. Ibu Panti mengatakan kalau dua puluh tahun yang lalu, mama menemukan Dea di dalam gerbong kereta api. Lalu, mama menitipkan Dea ke panti asuhan tersebut karena saat itu dia juga baru saja melahirkan. Tapi yang membuatku merasa aneh, Ibu Panti mengatakan kalau mama sering memberikan perhatian lebih pada Dea sejak dulu sampai saat ini. Ibu Panti juga mengatakan kalau mama berbuat seperti itu karena kenangannya saat menemukan Dea begitu membekas di hatinya.]
[Benarkah? Aneh sekali kalau dia sampai memiliki rasa sedalam itu pada Dea, padahal dia hanya menemukan Dea di dalam gerbong kereta api.]
[Entahlah, aku pun merasa seperti itu, Tuan.]
[Arka, mungkinkah mamamu sudah menukar Dea dan Luna?]
[Saya juga memiliki pemikiran seperti itu, Tuan.]
[Kalau begitu sekarang yang harus kau lakukan adalah korek informasi pada mamamu tentang jati diri Luna dan Dea sebenarnya. Aku curiga, karena sebuah alasan yang belum kita ketahui, mamamu menukar Luna dan Dea.]
[Ya, aku juga berfikir hal yang sama Tuan.]
[Sekarang, tolong kau cari informasi tentang siapa Luna dan Dea yang sebenarnya, Arka. Cari bukti tentang siapa jati diri Luna dan alasan mamamu menukar mereka berdua. Apa kau mengerti?]
[Iya Tuan.]
[Kalau kau berhasil, aku akan memberikan bonus yang besar untukmu.]
[Baik Tuan.]
Devano kemudian menutup teleponnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar sambil memejamkan matanya.
Dia kemudian masuk ke dalam kamar Luna. "Ah, wangi sekali kamar Neng Luna."
Devano kemudian menuju ke nakas yang ada di samping tempat tidur. Namun saat dia baru saja membuka laci atas nakas tersebut, tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat sebuah benda yang masih utuh dan tertutup rapat.
"Sial Luna sudah membohingiku!" gerutu Devano.
Dia kemudian keluar dari kamar Luna lalu masuk ke dalam kamarnya. Saat baru saja memasuki kamar tersebut, suara langkah kaki pun terdengar memasuki apartemen.
"Devanoooo!"
"Aku di kamar Luna sayang!" jawab Devano.
Luna kemudian bergegas masuk ke dalam kamar Devano dan melihat Devano yang sedang tertidur di atas ranjang sambil memejamkan matanya.
"Lunaaa," rintih Devano.
"Kau kenapa? Apa sakit kepalamu bertambah parah?"
"Iya Luna pijit! Kepalaku rasanya seperti mau pecah."
"Astaga."
__ADS_1
Luna kemudian mendekat ke arah Devano.
"STOP!"
"Ada apa?"
"Ganti pakaianmu dulu, aku tidak nyaman melihatmu memakai baju seperti itu," ujar Devano.
"Kau minum dulu obatnya!"
"Aku minum obatnya, tapi kau juga ganti bajumu dulu."
Luna akhirnya keluar dan mengganti pakaiannya dengan lingerie hitam yang sangat seksi. Melihat Luna yang memasuki kamarnya dengan menggunakan lingerie tipis, Devano pun terkekeh di balik selimut.
'Joni, kau sudah siap bertemu dengan si tembam yang cubby dan berponi kan?' kekeh Devano di dalam hati.
"Luna pijit."
"Iya sebentar," jawab Luna. Dia kemudian naik ke atas ranjang dan duduk di samping Devano lalu memijit kepalanya.
"Pangku kepalaku Luna," ujar Devano.
Luna kemudian menaikkan kepala Devano ke atas pangkuannya. 'Berani-beraninya kau membohongiku, Luna. Kau mengatakan kalau kau sedang datang bulan, tapi ternyata tidak. Saat aku membuka lacimu, aku melihat pembalutmu masih utuh dan belum kau buka sama sekali. Dan setelah melihat kalender di atas nakas juga menunjukkan ini bukan saatnya kau datang bulan. Jahat sekali, kau tidak tahu bagaimana rasanya setengah mati aku menahan Joni'ku yang meresahkan ini,' batin Devano.
"Luna... "
"Apa?"
"Pelukkk!" rajuk Devano sambil membuka tangannya. Luna pun menghembuskan nafas panjang lalu tidur di samping Devano, dan masuk ke dalam dekapannya.
"Bagaiman? Nyaman kan?" tanya Devano sambil mendekap erat tubuh Luna.
Luna pun menganggukan kepalanya, sedangkan Devano kini mulai menciumi tengkuk dan merremas buah dada milik Luna.
"Devanooooo... " legguh Luna.
"Apaaa?"
"Kau bohong padaku kan, Sayang? Kau tidak sedang datang bulan?"
"Darimana kau tahu?"
"Naluri alam Luna, hormon feromonmu memanggilku dan mengatakan kalau Joni harus bertemu dengan lubang itu yang tembam dan berponi,"
"Feromon? Kau pikir aku sapi? Lalu apa itu tembam dan berponi?"
"Sama-sama mamalia. Dan tugas mamalia untuk menyyusui. Pikir saja sendiri siapa yang tembam dan berponi."
"Astaga, kenapa aku harus bertemu manusia messum...."
__ADS_1
Belum sempat Luna menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Devano sudah membalikkan tubuhnya lalu melummat habis bibir merahnya.