
Lama Meisya meringkuk menangis dilantai dingin apartemen itu, hingga dia kembali mencoba menguatkan hatinya, Meisya menyeret langkah meninggalkan ruangan kamar yang berantakan. hatinya benar-benar jijik melihat tempat tidur bekas percintaan Aldo dan Sally masih membekas disana.
Meisya melajukan mobilnya, sepanjang perjalanan dia tidak henti-hentinya menangis. hingga tanpa disadarinya. gadis malang itu menghentikan mobilnya didepan pintu gerbang makam keluarga. dia melangkah masuk dan menangis diatas makam kedua orang tuanya.
"Mama....papa....maafkan Meisya, yang selama ini tidak mendengar kan nasehat-nasehat kalian, aku terlalu dibutakan cinta bang Aldo. sekarang semua perkataan Mama dan papa menjadi kenyataan. Bang Al tidak pernah mencintai Meisya, melainkan Harta kita hu....hu...." Meisya menangis sambil memeluk nisan mamanya, hingga dia tertidur. masih terdengar sesekali isak tangisnya.
Cukup lama Meisya tertidur, hingga wajah cantik nya diterpa sinar matahari langsung, Meisya mengucek-ngucek matanya yang silau.
"Astaga, aku ketiduran dimakan Mama dan papa," gumamnya, namun seketika tangis Meisya kembali pecah, saat teringat perlakuan dan pengkhianatan Aldo dan Sally semalam.
"Mama... papa maaf Meisya, Meis pulang dulu. semoga Mama dan papa tenang disana." Ucap nya, sambil menyeret langkah meninggalkan pemakaian keluarga itu.
Sampai dirumah Meisya mendapat tatapan tajam Gea, dia begitu marah begitu Aldo memberitahu nya jika Meisya sudah memergokinya.
"Pagi ma," jawab Meisya sopan, begitu turun dari mobil nampak Gea berkacak pinggang menghadang langkah nya.
"Dari mana kamu semalaman," Ucap Gea
"Aku dari makam Mama dan papa," balas Meisya dengan mata sembab.
"Meisya, Mama harap kamu bisa merubah sedikit sikapmu itu, kurang apa lagi Aldo selama ini, coba jika tidak ada Aldo, mungkin perusahaan peninggalan kedua orang tuamu pasti sudah hancur, karena tidak ada orang yang mengurusnya. jadi Mama harap kamu terimalah apapun kenyataan nya. dan jangan menuntut macam-macam lagi dari Aldo." Ucap Gea.
Meisya hanya diam, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut nya, dia melangkah masuk kekamar, membersihkan tubuhnya dan kembali menangis memeluk foto kedua orang tuanya.
__ADS_1
Hari-hari dilalui Meisya dengan kesedihan panjang, Aldo seperti ditelan bumi menghilang begitu . Meisya terlihat seperti orang yang sedang frustasi berat, dia selalu menghubungi ponsel Aldo yang tidak pernah aktif. Penampilannya pun sudah terlihat sangat kacau.
Begitu juga dengan orang mamanya Aldo, dia seolah-olah tutup mata dengan menghilangnya Aldo . dia tidak peduli terhadap Meisya sedikit pun, hanya belaa dan papa Aldo lah yang selalu membujuk dan menyemangati Meisya, meskipun mereka berdua juga tidak mengetahui keberadaan Aldo yang sebenarnya. karena Aldo hanya memberi tahu Mama saja. mengingat adiknya Bella dan papanya sangat menentang Segala apa yang dia dan mamanya lakukan.
Meisya terus mencari dan mencari pria itu. Cinta nya yang kuat seakan telah menutup pintu hati Meisya, untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya. bagi Meisya bertemu Aldo dan meminta nya untuk kembali bersama nya sudah cukup. diapun akan bertekad untuk menerima Sally sebagai madunya, asalkan Aldo tidak meninggalkan nya lagi.
"Bang kamu dimana?" gumam Meisya.
Siang itu, Meisya langsung turun dari mobilnya begitu melihat laki-laki yang sangat mirip dengan Aldo melintasinya, tanpa menoleh kiri dan kanan Meisya langsung berlari mengejar laki-laki tersebut, dari arah yang berlawanan mobil sedan mewah melaju kencang kearahnya.
“Aaaaaaagghh” Meisya menutup matanya, dia tidak bisa mengelak lagi.
“Brruuuhhggg..,”
Mobil tersebut langsung menghantam tubuh besar Meisya, hingga dia terpental jauh dan terhempas pada pembatas jalan. orang-orang berkumpul mengerumuni tubuhnya, dengan kondisi yang mengenaskan, Wajah dan tubuh Meisya dipenuhi darah.
"Toloooong..tolong... aku kesakitan." ucap Meisya pelan sambil meringis kesakitan. dengan tubuh dipenuhi darah dan luka.
“Dia masih hidup, cepat beri pertolongan.” Terdengar suara ribut orang-orang yang mengerumuninya.
"Cepat larikan gadis ini kerumah sakit, dia masih bernyawa." Ucap salah seorang dari mereka yang melihat langsun. Beberapa orang mengangkat tubuhnya dan segera melarikan Meisya kerumah sakit terdekat.
Meisya kehilangan cukup banyak darah, dalam kondisi pingsan sebelum sampai dirumah sakit. Dia seperti memasuki sebuah lorong panjang. Tubuhnya tersa ringan dan melayang bebas berputar seperti sebuah kapas.
__ADS_1
“Dimana aku?, apakah aku sudah meninggal?” berjalan ditempat yang terasa asing dan aneh.
“Mama, papa.” Teriak Meisya saat melihat sosok bayangan putih mirip kedua orang tuanya tengah menatapnya penuh dengan kesedihan. mereka merentangkan tangannya seakan ingin memeluk Meisya.
“Meisya anakku sayang, kamu harus kuat nak. Bertahanlah masih ada orang yang menunggu dan menyayangimu dengan tulus kembalilah nak ini bukan tempat mu.” Ucap bayangan putih yang terlihat seperti mamanya.
“Tidak ma, mereka semua jahat. Aku ingin kikut kalian saja. Meisya sudah ngak kuat lagi ma. Meisya benar-benar tidak sanggup lagi hu...hu... ” Tangisnya pecah, sambil berlari ingin memeluk mamanya tapi tidak bisa.
Meisya kembali merasakan tubuhnya terbang berputar-putar kelorong yang sama, dan kembali tersadar. Dan menangis lagi begitu menyadari nasip buruk yang menimpanya.
“Kamu jahat Bang , Jahaaattt..,Jahaaattt...hu....hu.....apa salah dan dosa ku, hingga kalian begitu tega memperlakukan ku seperti ini."
Meisya, Kembali Mengusap-usap dan memekul dadanya yang terasa begitu sesak menahan isakan tangis dan gejolak emosinya, dia seakan tidak perduli lagi dengan rasa sakit serta situasi dan kondisi nya saat ini.
Tangis memilukan pecah, memenuhi setiap ruangan rumah sakit tempat gadis malang itu dirawat dan terbaring dengan kondisi tubuh yang dipenuhi luka dan kaki yang sebelah kiri yang patah. Wajahnya pun rusak di bagian pipi dan pelipisnya.
"Tubuhku terasa sakit semua nya, namun tidak sebanding dengan rasa sakit yang kalian goresan di hatiku." Teriaknya lagi.
Dokter ditemani dua orang perawat masuk, memeriksa kondisi gadis bertubuh gendut tersebut, sambil menatap kasihan.
"Tenangkan dirimu dek, sebab lukamu masih basah dan kondisi kakimu sangat parah." Ucap dokter mencoba menenangkannya.
"Untuk apa kalian mengobati ku, aku tidak ingin hidup. Aku ingin mati saja sekarang, menyusul kedua orang tuaku hu....hu...., Papa...Mama...., Meisya nggak kuat lagi kenapa kalian tinggal kan Meisya sendirian di Dunia ini." Ucap nya.
__ADS_1
Melihat kondisi Meisya, dokter Akirnya terpaksa memberikan suntikan.. tidak berapa lama Meisya langsung terdiam dan mulai tertidur. sehingga perawat bisa leluasa mengobati dan menjahit luka-luka nya. mereka menggelengkan kepalanya kasihan melihat gadis itu.