Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Masakan Meisya


__ADS_3

“Kak Devan ada hal penting, yang ingin Meisya beritahukan.” Meisya duduk berhadapan dengan Devan, yang membalas tatapan nya dengan serius.


“Hal penting apa Meisya, paling kamu mengatakan jatuh cinta lagi setelah bertemu Aldo ya Khan?.” goda Devan yang membuat Meisya cemberut.


“Tidak kak, perasaan Meisya terhadap bang Al sudah Meis buang jauh ke dasar samudera Atlantik. Dan sudah tidak ada lagi Meisya yang cengeng dan selalu dimanfaatkan, sekarang tinggal Gisella. Wanita cantik yang akan membalaskan dendam Meisya yang dulu sering dikatakan gadis kebo yang bodoh yang sangat mudah untuk dimanfaatkan orang.” Ucapnya penuh penekanan.


“Bagus dek, tapi dimana letak permasalah pentingnya?” ucap Devan.


“Mereka berniat menjual rumah peninggalan Mama dan papa, Termasuk sebagian perkebunan kelapa sawit. Alasan mereka ingin menyelamatkan perusahaan induk dan nasip ribuan karyawan. Tapi mereka lupa akan kesalahan mereka yang telah menghambur kan uang perusahaan, serta sistem pengelolaan yang kurang baik dari bang Aldo.” Terang Meisya.


“Brengsek mereka, dasar serakah,” Devan mengepalkan tangannya emosi.


“Kak Devan kita harus bagaimana menghadapi mereka, Meisya tidak ingin perusahaan dan perkebunan, hasil kerja susah payah papaku beralih ke tangan orang lain, mereka tidak mempunyai hak sama sekali memperlakukan harta ke sesuka hatinya.” Meisya terlihat cemas dan gusar.


“Tenanglah Meisya, kita tidak boleh bertindak gegabah dan terburu, justru ini kesempatan kita untuk merebut kembali asetmu secara perlahan. Kakak tidak akan membiarkan mu menghadapi masalah ini sendirian.” Ucap Devan mantap.


“Terimakasih kak, karena sudah begitu baik dan tulus pada Meis selama ini.” Meisya spontan menarik tangan Devan kedalam genggaman hangat tangannya.


Devan merasakan detak jantungnya berpacu dua kali lipat dari biasanya, persaan nyaman dan bahagia tiba-tiba muncul mengalirnya begitu indah ketika merasakan sentuhan lembut Meisya.


"Tidakkkkk ini salah, aku tidak boleh larut dalam perasaan ini, karena Meisya sudah aku anggap sebagai adikku sendiri." wajah Devan terlihat tegang, dia perang bathin dengan perasaan nya sendiri. Devan kembali menguasai keadaannya, dengan menarik perlahan-lahan tangannya. Agar Meisya tidak tersinggung.


“Nanti kakak akan memata-matai mereka, melalui orang-orang suruhan kakak. Kita akan mengikuti permainan mereka.” Devan Meminum minuman segar yang telah disiapkan pelayan.


“Kak Devan pasti belum makan? Meisya mau Masakin menu spesial buat kakak.” Ucap gadis itu antusias.


“Emang kamu bisa masak?” menatap ragu kearah Meisya.

__ADS_1


“Kak Devan jangan meremehkan kemampuan memasak Meisya, gini-gini Meis pernah ikut les memasak dengan chef terkenal lho. percuma dong jika ngak Meisya pratekin ilmu dan keahlian itu.” Meisya pura-pura ngambek.


Membuat Devan bertambah gemas melihat tingkah nya.


“Meisya jika kamu seperti ini, bisa-bisa kakak salah makan.” Goda Devan tanpa disadarinya.


“Maksud kak Devan?”


“Bukan masakan kamu yang kakak makan, tapi kamu.” Jawab Devan menunjuk bibir mungil Meisya, sambil mengulum senyum Devan berjalan masuk kedalam rumah.


“ Kak Devan ngomongnya menakutkan gitu, emangnya kakak kanibal mau makan Meisya segala.” Teriaknya berjalan menuju dapur.


“Bisa jadi.” Balas Devan berjalan menuju lantai dua kamarnya. 


Meisya tertawa bahagia dengan kedatangan Devan, dia berjalan menuju dapur sambil Minta bantuan pelayan menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.


“Aku akan mencoba membuat capcay dan spaghetti, dengan resep terbaru ku, aku yakin sekali jika kak Devan pasti akan menyukai nya.”


Tangan lembutnya, mulai mengaduk makanan dan menyiapkan dengan tata yang semenarik mungkin. Meisya tidak  menyadari jika Devan sedari tadi memperhatikan tingkah laku nya dari belakang.


"Meisya kamu benar-benar cantik, bisa-bisa kakak kilaf Dengan gairah dan perasaan yang sekarang jauh berubah, dulu jajak sangat menyayangi mu layaknya saudara perempuan, sekarang kakak seolah-olah ingin memilikimu seutuhnya." gumam Devan yang masih berusaha menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya dari Meisya.


Saat Meisya membalikkan badannya, refleks dia menabrak tubuh kekar yang sedari tadi berdiri dibelakang nya dengan jarak yang sanga dekat.


“Kak Devan.” Ucap Meisya tergagap karena dia hampir jatuh, namun dengan sigap Devan menarik tubuhnya dan membawa kedalam dekapannya.


Pandangan mata mereka bertemu, Meisya gemetar dia tidak menyangka akan berada dalam dekapan Devan. Laki-laki yang sangat dikagumi dan disukainya saat ini. Seandainya bisa memilih Meisya akan memilih Devan untuk menjadi kekasih nya, dibandingkan harus menjadi kakak angkatnya.

__ADS_1


“Uuups, maaf Meisya kakak ngak sengaja membuat mu kaget.” Melepaskan kembali tubuh Meisya dan mengajaknya duduk disebelahnya.


“Wah-wah, kelihatan nya masakan mu enak sekali dek. Kakak penasaran apa rasanya seenak bentuknya?” canda Devan, membuat Meisya yang semula tegang kembali ceria.


“ Tentu enak dan lezat kak, kalau Nggak percaya ni coba dikit dulu.” Meisya menyendok makanan itu sedikit dan menyuapi kemulut Devan. Sambil memperhatikan mimik wajah dan ekspresi laki-laki tampan itu.


Devan sengaja menggoda Meisya, dua memasang ekspresi wajah yang sulit diartikan, sehingga membuat Meisya mengernyit kan keningnya bingung untuk mengartikan nya.


“Lagi.” Ucap Devan dengan mimik wajah yang sangat serius.


Meisya kembali menyuapi, sambil memperhatikan sikap Devan yang menurutnya masih seperti semula. Sehingga dengan kesal Meisya duduk dan memakannya sendiri.


“Dek kok nggak disuapi lagi.”


“Jawab dulu, bagaimana menurut kakak masakan Meisya,?”


“Baiklah adikku sayang, masakan mu enak banget rasanya kakak Cuma pengen masakan kamu saja dan nggak ingin makan diluar lagi.” Mulai menyuap makanan nya.


Senyum mengembang dibibir Meisya, sesekali dia mencuri-curi pandang, memperhatikan wajah tampan Devan, yang selalu membuat nya mersa tenang, nyaman dan bahagia. Semenjak bertemu Devan tidak ada lagi rasa kecewa dan kesedihan mendalam yang dialaminya dulu.


“Kak Devan aku akan mencoba mencintaimu dalam diam, aku takut jika kamu tahu aku mencintaimu sebagai seorang kekasih, bukan sebagai saudara seperti yang kamu pikirkan.” Bathin Meisya.


“Hey kok bengong?” Devan menjentikkan jarinya dihadapan Meisya, membuat gadis itu terlonjak kaget.


"Apaan sih kak Devan," Ucap nya kembali menguasai keadaan.


“Ntar Kesambet kuntilini sebelah rumah, kalau kebanyakan bengong dan mikirin Aldo terus.” Ucap Devan lagi.

__ADS_1


“Ih sapa juga yang mikirin laki-laki ngak guna itu, aku mikirin kak Devan tau.” Ucap Meisya refleks menutup mulutnya dengan punggung telapak tangan. menyesali keceplosan nya barusan. raut mukanya langsung merah merona karena malu.


"Bodoh.... bodoh kamu Meisya," gumamnya


__ADS_2