Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Gea syok


__ADS_3

Ditengah-tengah kemarahan Aldo, tiba-tiba Devan dan Giselle masuk kedalam rumahnya.


"Untuk apa kalian kesini, untuk memperlihatkan jika kalian berdua sudah berhasil menjadi maling dirumah ku semalam. memanfaatkan kondisi ku yang mabuk." Aldo menatap tajam kearah Devan yang berdiri disebelah Gisella.


"Iya, sekarang aku juga, ingin mengambil Rumah ini." ucap Devan.


"Ha...ha...apa hak mu atas harta Meisya, kamu hanya lah anak pungut." teriak Aldo.


"Aku juga tidak menyangka, ternyata kamu bekerja sama dengan laki-laki ini untuk menghancurkan aku Gisella, kamu memakai topeng dibalik kecantikan mu ternyata kamu tidak lebih seekor ular betina, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan." ucap Aldo mengepalkan tangannya kearah Devan dan Giselle.


"Justru kamu yang serakah Aldo, sebaiknya kamu dan mamamu itu berkaca pada diri kalian berdua." balas Gisella.


"Siapa kamu beraninya mengajari kami." ucap Gea.


"Aku adalah Meisya, yang dulu kalian manfaatkan kepolosan nya, untuk mendapatkan keuntungan, bahkan kamu tidak pernah mencintai ku sama sekali." ucap Giselle.


"Itu urusan pribadi dan Rumah tangga ku, kamu tidak perlu ikut campur dalam hal itu." ucap Aldo.


"Justru itu adalah urusan ku, tatap aku Aldo. aku adalah Meisya istri Jelek mu dulu." ucap Meisya.

__ADS_1


"Tidak mungkin...tidaaaakk." Gea tiba-tiba pingsan. sementara Aldo menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Sekarang aku sudah mengambil kembali hak milikku, yang pernah kalian rampas," teriak Meisya yang didampingi pengacaranya dulu.


Aldo tercekat, dia seakan-akan tidak percaya, Meisya berubah menjadi begitu cantik dan pintar. dia tidak menyangka akan terjebak oleh perbuatan nya sendiri.


"Aku tidak bisa membela diriku lagi, Meisya benar-benar berubah dan kembali untuk membalas perbuatan ku dulu terhadapkunya." Gumam Aldo frustasi.


"Penghianat kamu." bentak Aldo pada pengacara Meisya yang pernah membantu nya pada saat proses penjualan Rumah besar Meisya dulu. Aldo tidak menyangka sama sekali, jika saat itu dia sudah terjebak permainan Devan yang bekerjasama dengan pengacara yang dianggapnya berpihak pada dirinya.


"Maaf tuan Aldo, aku hanya menjalankan amanat dari kedua orang tua Nona Meisya dulu, untuk menjaga harta warisan peninggalan sebaik-baiknya." ucap pengacaranya.


"Aldo, Mama tidak mau pergi dari Rumah ini....tidak Aldo." Gea bersikeras tidak mau meninggalkan Rumah besar itu.


"Tenanglah ma, untuk saat ini kita harus pergi." bujuk Aldo, memapah Gea meninggalkan Rumah tersebut.


*****


"Meisya....." teriak Sally yang tiba-tiba tersadar dari koma, nafasnya memburu seiring keringat dingin yang membasahi tubuh nya.

__ADS_1


"Mimpi ku terasa begitu nyata." Gumam Sally.


Tim dokter yang menangani Sally, langsung memeriksa kondisi gadis yang sudah siuman dari koma panjang nya itu.


"Bagus lah kamu sudah sadar, dan kondisi mu juga sudah stabil." terang dokter.


"Saya dimana?"


"Kamu sedang berada dirumah sakit pusat, salah seorang pelayan mengantarkan kamu kesini dengan kondisi sudah tidak sadarkan diri." ucap dokter.


"Mana Aldo?"


"Tidak ada orang yang bernama Aldo menungguimu, kamu dirawat disini atas jaminan dari Nona Meisya."


"Apa dokter Meisya?" Sally syok mendengar perkataan dokter.


"Apakah Meisya masih hidup? tidak....tida mungkin." Gumam Sally


.

__ADS_1


__ADS_2