Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Mimpi Meisya


__ADS_3

“Gisella, wajahmu terlihat tegang. Kamu kenapa?” Aldo semakin mendekat.


berusaha untuk menyentuh Gisel.


"Aku ngak papa kok mas, " mencoba mengelak.


Devan yang baru sampai dirumah, langsung menuju kekamar Meisya, namun langkahnya langsung terhenti begitu sampai didepan pintu. Dia melihat Aldo tengah duduk di sisi ranjang Gisela, mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.


Devan merasakan tiba-tiba atmosfer disekitar nya terasa berubah mendung hatinya perih. Rasa tidak ingin kehilangan Meisya begitu kuat merantai persaan nya. namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Meisya semoga kamu tidak kembali jatuh kepelukan laki-laki brengsek itu, kakak harap kamu bisa membentengi perasaan mu.” Gumam Devan pergi menuju kamarnya sendiri.


Sementara Meisya terus *******-***** jemari nya, dia bingung bagaimana agar Aldo segera pulang. berlama-lama dengan pria ini hanya membuat nya gerah dan muak. terlalu banyak kata-kata Aldo yang hanya mengandung kebohongan dan rayuan gombal.


Meisya kembali menguap, kali ini dia sengaja pura-pura sambil memijid pelipisnya. Semakin banyak Aldo bercerita dan ngajak nya ngobrol, semakin muak dan bertambah rasa ngantuk Meisya.


“Gisela kamu pusing ya, mas nanti pijit ya.” Tawar Aldo lagi sok perhatian.


“Ngak usah mas, Gisella Cuma sedikit ngantuk dan pengen istirahat saja. Mungkin efek dari dosis obat yang diberikan oleh dokter barusan.” Alasan Meisya yang mendapatkan ide untuk mengusir Aldo dari hadapan nya sekarang.


“Kalau begitu kamu istirahat lah, mas balik dulu ya. Semoga cepat sembuh biar kita bisa jalan bareng lagi.” Ucap Aldo semanis mungkin.


“Okey mas,” Meisya menunjukkan jempolnya tanda setuju.


“Maaf ya mas, Gisella ngak bisa nganterin mas sampai pintu depan.” Ucapnya dengan wajah dibuat seimut mungkin, membuat Aldo gemes dan ingin menerkam Gisella saat ini. tapi status mereka masih sebatas teman dekat.


"Sabar Aldo, sebentar lagi kamu akan mendapatkan cinta wanita cantik ini, dan kamu irang yang akan paling beruntung berkali-kali lipat, cantik dan kaya raya." Aldo perang batin dengan perasaannya sendiri.


"Mas kok melamun?" tanya Gisella sambil mengerutkan .


“Baiklah cantik, yang penting kamu jaga kesehatan. biar ngak sakit lagi.”

__ADS_1


ucap Aldo tiba-tiba tersadar dari lamunan indahnya.


“Iya mas, terimakasih atas waktu dan perhatian nya.” Balas Meisya tersenyum.


Setelah kepergian Aldo, Meisya menarik nafasnya lega. Dia melangkah pelan berjalan keluar kamarnya.


"Apa kak Devan udah pulang ya?" Meisya sekilas melihat kamar Devan yang sedikit terbuka. perlahan dia mengayunkan langkah memasuki kamar laki-laki yang tidak terkunci rapat dari dalam.


Devan yang habis mandi membersihkan tubuhnya, tidak menyadari kedatangan Meisya yang tiba-tiba. sehingga dengan santai Devan melangkah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kecil, melilit bagian bawahnya dan handuk satu lagi digunakan untuk mengeringkan rambut yang masih basah.


“Aaaagghhh,” Meisya yang baru masuk berteriak kaget saat Devan melepaskan handuk nya hendak memakai dalaman. Devan juga ikut kaget dan menoleh kearah Meisya sehingga adik kecilnya benar-benar terlihat sempurna.


Meisya seketika menutup matanya, dia benar-benar syok melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Meskipun statusnya janda muda, tapi dia masih perawan ting-ting.


Karena Aldo belum pernah menyentuhnya sama sekali. Meskipun dulunya Meisya sangat sedih dengan semua itu, namun sekarang dia sangat bersyukur. Paling tidak dia masih punya sesuatu yang sangat berharga yang akan diberikan nya pada laki-laki yang benar-benar dicintai dan mencintainya.


“Kak Devan, . sungguh Meisya belum liga apa-apa kok.” Ucap Meisya menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


Devan mengulum senyum, dia kembali melilitkan handuk kecil itu. berjalan mendekati Meisya.


Meisya masih menutup matanya, merutuki kecerobohan nya. tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Kak Devan cepat pakai bajunya, Meisya ngak mau lihat kakak seperti ini.” Meisya bingung jika dia berlik keluar dia pasti akan menabrak tubuh Devan, sementara jalan keluar menuju pintu masih jauh dari tempatnya berdiri.


“Sudak kok, kalau nggak percaya buka matamu,” goda Devan tersenyum mesum.


“Ngak mau, kak Devan pasti bohong.”


“Ngak percaya, mana tangan mu.” Devan isengnya, menarik tangan Meisya dan mengarahkan pada posisi adik kecilnya yang sedari tadi sudah berdiri tegak.


“Aaaagghhh.... kak Devan mesum, jahilin Meisya terus.” Tanpa pikir panjang lagi, Meisya lari meninggalkan kamar Devan yang masih tertawa lepas melihat nya dari belakang.

__ADS_1


Meisya kembali kekamar nya, dan berbaring tidur. tanpa menunggu lama dia sudah menuju alam mimpi indahnya bersama Devan.


Setelah kembali berpakaian rapi, dengan masih tersenyum memikirkan tingkah Meisya barusan, yang lari meninggalkan kamarnya, Devan berniat meminta maaf dan menyesali kekhilafan sikapnya terhadap wanita yang sudah dianggap nya sebagai badik kandungnya sendiri.


"Astaga....aku sering kilaf setiap bersama Meisya." gumam nya.


“Tok...tok... Meisya tolong buka pintunya.!” Ucap Devan berdiri didepan pintu kamar Meisya.


Tidak ada sahutan, meskipun Devan sudah mengetik pintu itu berkali-kali, karena kawartir Devan langsung masuk saja begitu tahu jika pintu tidak terkunci dari dalam.


“ Pantasan tidak menjawab, rupanya sudah tertidur pulas.” Devan duduk disisi Meisya menatap wajah cantik yang tidak pernah membuat nya bosan.


Devan tidak bisa mengendalikan gejolak perasaan dan gairah nya, dia perlahan mendekati bibir merah merekah Meisya secara perlahan. tiba-tiba kedua belah tangan Meisya merangkul leher Devan dengan erat dan menariknya kedalam pelukan. Sehingga Devan ikut berbaring disebelah Meisya dengan posisi tubuh sebagian menindih Meisya yang terlihat masih bermimpi.


Devan berusaha untuk bangkit, secara perlahan dia mengangkat tangan Meisya yang masih melingkar erat dilehernya. namun semakin Devan berusaha semakin kuat rangkulan gadis cantik tersebut.


Devan mersa gairahnya sudah mencapai level sembilan puluh delapan, dia kesakitan dibagian bawahnya yang terasa terjepit dan meronta-ronta minta untuk segera dibebaskan.


"Aku harus menghindar, dan bisa mengendalikan diriku." gumam Devan.


“Meisya bangun,”


Devan menguncang pelan bahu Meisya. Membuat gadis itu terbangun sambil mengerjapkan berkali-kali mata nya yang terasa begitu berat.


“Kak Devan, kenapa berada dikamar ku,?”


ucap Meisya terkejut, sambil menatap Devan yang sudah kembali duduk disebelahnya.


“Tadi kamu sedang mimpi apa dan dengan siapa?”


Devan menatap intens wajah Meisya, dia ingin memastikan siapa laki yang sedang dimimpikan oleh Meisya, sehingga dia begitu kuat merangkul tubuhnya.

__ADS_1


“Aku...aku, tidak memimpikan apapun,” Meisya tidak ingin berkata jujur, jika dirinya barusan memimpikan Devan.


“Pasti kamu selalu memikirkan si brengsek Aldo, sehingga terbawa kedalam mimpi segala.” Nada suara Devan seolah-olah tersimpan kecemburuan.


__ADS_2