Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Operasi luka


__ADS_3

"Apa itu?." Devan terlonjak kaget begitu mendengar suara keributan yang berasal dari ats pohon.


Meisya terdiam, dia mengikuti arah pandang Devan melirik keatas pohon. dia refleks berteriak kembali sambil ketakutan.


"Monyet besarrrr....," mereka berdua langsung masuk kedalam mobil besar Devan. lalu melajukan kencang meninggalkan tempat itu.


"Meisya takut sekali kak." rengek nya ketika mereka sudah berhasil memasuki jalan raya.


Namun naas, mobil Devan tiba-tiba mati sehingga terpaksa mereka berdua turun memerisl kondisi mesin mobil yang biasanya tidak pernah mengalami permasalahan seperti ini.


"Aaaaahhk sial, mana tempat ini sepi banget lagi." umpat Devan.


Kak disana ada halte bis, sebaiknya kita berjalan kaki kesana, sapa tahu kita bisa mendapatkan pertolongan segera." Ucap Meisya, mereka berdiskusi berjalan, Devan membimbing sebelah tangan Meisya yang berjalan agak kesusahan karena badannya yang besar.


"Aduuuuuh capek kak."


"Sedikit lagi Meisya, ayo semangat." ujar Devan sambil menghubungi seseorang untuk memeriksa kondisi mobilnya.


Meisya menarik nafas nya yang masih ngos-ngosan, dia menyandarkan tubuhnya dikursi hatlte. tubuhnya. besar membuat nya mudah lelah dan kehausan.


"Meisya, sekarang ndudah sangat larut. tidak akan ada kendaraan yang lewat." Ucap Devan. dia menoleh kebelakang namun kosong.


"Mana Meisya?" celingak-celinguk mencari keberadaan Meisya yang tiba-tiba menghilang.


"Aku tidak kuat lagi....aku mau mati saja." terdengar suara teriakan dan tangis Meisya, Devan segera menoleh kearah asal suara.


"Ya Tuhan, Meisya turun dek....barusan kamu sudah bersemangat dan janji akan berubah dan membalas mereka, tapi sekarang kamu kembali lemah dan goyah seperti ini....please turun lah dek." bujuk Devan.


"Hu...hu.... Meisya Ngak kuat kak," Meisya menangis, tanpa Devan tahu dia naik memanjat plank iklan rokok yang sangat tinggi. karena terbawa emosi Meisya tidak sadar jika posisi nya sudah sangat tinggi.


"Bagaimana ini kak, Meisya takut.....hu...hu...," tiba-tiba dia terpeleset....


"Aaaaa, hah....hah...kedua tangan montok nya berhasil

__ADS_1


berpegangan pada dua tiang penyangga.


Devan ikut deg...deg kan Melihat aksi menegangkan Meisya, orang-orang yang semula sepi sudah banyak berkmpul, dan kendaraan juga banyak yang berhenti. mereka memberikan bantuan.


"Cepat loncat turun dek, jangan takut merebut pasti akan menangkap mu." teriak Devan dari bawah.


"Meisya takut kak," berteriak memejamkan mata nya sambil melepaskan pegangannya dan bruuuaggkk Meisya berhasil jatuh pada mobil Nok yang berisi tumpukan kardus. meskipun tubuhnya sakit namun dia berhasil selamat.


"Meisya, kakak tidak mau lagi melihat mu melakukan aksi bodoh seperti ini lahi. mengerti." bentak Devan.


"Mengerti kak, maafkan Meisya ya....meis janji akan mendengar perkataan kakak dan berubah." Ucap nya sefih dan menyesal, rasa cinta dan sedih sering membuat akal sehat Meisya tidak bekerja dengan baik.


Meisya menghirup nafas dalam-dalam, dan mengeluarkan secara perlahan, yah gadis itu telah membulatkan tekadnya. air mata seakan tidak ingin menetes lagi dikedua belah pipinya. Pagi itu dia dan Devan terbang Menuju Korea.


Dinegara itu, Meisya akan mengobati dan melakukan operasi plastik bekas luka dibagian wajahnya, serta akan merubah bentuk hidung nya menjadi lebih mancung, pasca patah tulang akibat terbentur pembatas jalan.


"Aldo, suatu saat aku akan kembali. Kalian semua akan menerima akibatnya. Dan aku pastikan kamu akan berlutut mencintai ku. Dan kamu Sally. Aku  akan akan membuat kamu merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kita cintai." Ucap Meisya lirih seiring pesawat yang meninggalkan Negara kelahirannya.


"Meisya apa keputusan mu sudah mantap sekarang?" Ucap Devan.


"Sudah kak." tersenyum lalu mengangguk Mantap.


"Baguslah, mulai sekarang jangan lemah dan mudah menyerah lagi dengan keadaan. ingat kakak akan selalu bersama mu dek." Ucap Devan.


"Terimakasih kak, kak Revano selalu ada buat Meisya." Meisya terharu melihat kebaikan kakak angkat nya.


Devan memang sengaja mencari rumah sakit dan dokter terbaik, agar usaha nya merubah wajah Meisya bisa berhasil meskipun untuk saat ini lebih pada pengobatan bekas luka dan hidung Meisya yang sempat rusak akibat patah kecelakaan kemaren.


"Aldo dan keluarga tidak boleh menikmati apa yang harus menjadi hak mu dek." Ucap Devan.


 Operasi plastik yang dijalani Meisya berjalan lancar, dia seakan tidak  percaya menatap pantulan wajahnya dicermin. Hidung yang terlihat lebih mancung dan wajah yang sedikit tirus. ! meskipun tubuh gendutnya perlu waktu untuk proses diet ketat yang akan dijalani nya setelah ini.


“Benarkah ini aku kak,?” melirik Devan disampingnya.

__ADS_1


“Benar Meisya, cuma hidung mu saja yang diperbaiki, dan goresan-goresan luka dikulit wajamu.” Ucap Devan. Yang membantu berkemas karena sudah seminggu mereka menghabiskan waktu di rumah sakit tersebut.


“Kak, kita pulang kemana ?” melihat Devan yang sibuk.


“Maksud mu dek,?”


“Ya kita pulang kerumah kak Devan atau ketanah air rumah kita...” Ucapan Meisya terputus Karena langsung dipotong Devan.


“Kita kerumah kakak di negara Singapura, dan mulai sekarang kamu akan tinggal dengan kakak sampai kamu benar-benar sembuh. Dan kita menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan kasusmu dan merebut kembali apa yang telah menjadi hak mu dek.”


"Baiklah kak, Meisya setuju karena sudah tidak ada bang Aldo lagi di hati Meisya saat ini." Ucap nya lirih penuh dendam dan kebencian.


Siang itu mereka kembali ke Singapura, Meisya berjalan lesu menuju kamar yang telah disediakan oleh Devan untuk nya.


 "Tempat yang nyaman" gumamnya merebahkan tubuhnya yang terasa lelah fisik maupun mental. Tanpa sadar Meisya langsung tertidur pulas menuju alam mimpi.


Dalam tidurnya Meisya bermimpi, dimana saat indahnya bersama Aldo kembali terulang. Aldo dengan penuh kasih sayang membimbing tangan nya menelusuri jalan perkebunan kelapa sawit yang sangat luas Menuju taman yang sangat indah, disekeliling mereka Bunga-bunga mulai bermekaran.


Meisya menyandarkan tubuhnya dipelukan Aldo, mereka berdanda menikmati alunan musik yang terdengar begitu merdu. Senyum tidak berhenti dari bibit manisnya. Meisya mersa benar-benar bahagia.


Namun tiba-tiba semua berubah, Sally muncul, dia dengan gaun indahnya dan penampilannya sangat cantik bak negeri dongeng. Dengan lemah lembut Sally menarik tangan Aldo. Dan mengajak nya pergi meninggalkan Meisya sendirian sambil memangil-mangil nama Aldo, namun pria itu tidak pernah menoleh lagi pada Meisya yang menangis menunggu nya kembali.


“ Bang Al jangan pergi, bang kembali lah." Meisya berteriak, sebelah tangan nya mengapai- gapai, Air mata Meisya bercucuran.


Devan langsung masuk kekamar Meisya, begitu mendengar ceracauan gadis itu. dan menggoyang pelan bahunya.


"Meisya.... Meisya...bangun dek." Ucap Devan pelan seraya menyeka keringat dingin Meisya.


Meisya langsung membuka matanya yang tersa masih berat, dan kembali tertunduk lesu teringat kembali mimpi buruknya.


"Syukurlah cuma mimpi, bang Al aku akan menghapus namamu di hatiku." Ucap Mei lalu Meisya.


 

__ADS_1


__ADS_2