
Lama Meisya terdiam, memikirkan dan mencerna kata-kata Devan. meskipun hatinya masih setengah-setengah menerima nasehat kakaknya angkat nya tersebut.
"Ya bang Al hanya memanfaatkan ku," gumam Meisya, karena teringat pengorbananya, meskipun dia juga sudah membangun rumah besar dan mewah untuk kedua orang tuanya Aldo, serta biaya kuliah adiknya Bella selama ini. Tapi apa yang didapatkan nya perlakuan buruk dan penghianatan.
"Pokoknya kamu harus bersembunyi dinegara ini, sampai kondisi mu benar-benar pulih, kakak akan bantu kamu untuk membalas perbuatan mereka." Terang Devan memberikan semangat.
"Baiklah kak, Meisya setuju dan akan mengikuti semua perkataan kak Devan." Sambil mengaguk mantap.
Beberapa kejadian buruk, yang masih membekas kembali berputar-putar di ingatan Meisya. dia teringat bagaimana Aldo begitu menikmati bercinta dengan Sally, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan dan tunjukkan padanya, bahkan Aldo terlihat terpaksa saat mencium ataupun sekedar memeluk tubuhnya. dan lebih sering menutup matanya, seolah-olah jijik melihat wajah istrinya itu, jika Meisya menanyakan hal itu, Aldo akan menjawab dengan berbagai alasan. termasuk belum siap. Kadang dia lebih menikmati bercinta dengan mata tertutup. Alasan yang jelas-jelas dibuat-buat.
Meisya menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, hatinya terasa tersayat pedih mengingat semua Itu. bagaimana pun juga dia merasa dirinya juga berhak untuk bahagia.
"Kak Devan benar, aku harus berubah dan membalas perbuatan mereka terhadap ku, mereka semua jahaaaat....." Api kemarahan dan dendam mulai membara dihati gadis polos itu. Yang masih terbaring disalah satu rumah sakit termewah dan terbaik Negara asing ini.
Bertepatan dengan kecelakaan Meisya, ditemukan mayat tanpa identitas, mereka langsung membawa kerumah besar Meisya, karena mengira itu adalah Meisya, berdasarkan laporan Meisya juga kecelakaan ditempat yang sama. Tanpa memeriksa dan melihat, keluarga Aldo langsung memakamkan mayat yang disangka mereka Meisya.
"Sayang sekali, kak Meisya harus pergi dengan cara seperti ini." Ucap Bella disela-sela isak tangisnya. dia mersa begitu kehilangan mengingat Meisya begitu baik padanya.
"Sudahlah nak, sebaiknya kita berdoa semoga saja Meisya bisa tenang dalam sana." bujuk papanya.
Semua terlihat sedih, termasuk mamanya Gea dan Aldo. Gea semakin jadi menangis dia ingin mengelabui media. Sementara hatinya terlonjak bahagia, Sally juga ikut Melayat berdiri diantara kedua orang tua Aldo dan adiknya. Memakai kaca mata hitam dengan warna kerudung yang senada. dia menunduk dalam-dalam seakan-akan ikut larut dalam kesedihan.
Aldo mengusap pelan nama yang tertulis di batu nisan itu, meskipun dia mengakui tidak mencintai Meisya, namun terbersit juga rasa bersalah terhadap istri yang begitu baik dan mencintainya dengan tulus. Bahkan Meisya tidak pernah menuntut apapun termasuk uangnya yang dipakai Aldo dan keluarganya sesuka hati.
__ADS_1
"Maafkan abang Meisya istriku, karena tidak ada dismpingmu saat kamu membutuhkan abang," Ucap Aldo, tanpa sadar air matanya menetes.
" Al ayo kita pulang nak," bujuk mama Gea.
Aldo terdiam, dan melangkah gontai meninggalkan pemakaman keluarga Meisya. dibelakang nya Sally berjalan mengikuti langkah Aldo, sambil menyembunyikan senyuman penuh kemenangan mengandeng Gea mamanya Aldo berjalan mendekati Mobil.
Seminggu berlalu, semua kekayaan perkebunan dan pabrik diambil alih oleh Aldo dan keluarganya nya. Dia merupakan satu-satunya keluarga yang ditinggalkan Meisya.
"Sayang, Mama sangat bahagia karena sekarang semua ini sudah menjadi milik kita Ha...ha...ha.." keluarga Aldo tertawa sambil minum merayakan keberhasilan mereka memiliki aset kekayaan Meisya yang cukup banyak.
"Iya ma,"
Jawab Aldo, dan tersenyum kecil membalas ucapan dari mamanya itu, dan kembali mengutak-atik Atik ponsel Meisya, yang ditemukan didalam mobil gadis itu setelah kecelakaan. Begitu banyak panggilan keluar dari No ponsel Meisya yang ditujukan kepadanya.
Semenjak ditangkap basah hubungan nya oleh Meisya, Aldo dan Sally saat itu sengaja pergi menghindar ke Bali, mereka berlibur disana. Namun Sally tiba-tiba balik duluan dan meninggalkan Aldo yang masih betah dibali.
“Maafkan Abang Meisya.” Ucapnya lirih.
Mama Gea duduk disebelah Sally, mereka terlihat tegang, Gea membisikkan ketelinga gadis calon menantu idaman nya itu tentang sesuatu yang masih menganjal dihatinya.
"Sally kamu yakin jika itu mayat gadis bodoh itu?" Seraya *******-***** jemari tangannya.
"Yakin banget ma, aku sudah menyuruh orang kepercayaan ku memeriksa mayat itu, dan mereka mengatakan jika itu benar-benar Meisya." Terang Sally percaya diri.
"Apa Kamu juga sudah memastikan tidak ada yang akan mencurigai kita waktu kejadian kecelakaan kemaren.?"
__ADS_1
"Sudah ma, karena waktu nya begitu cepat, dan aku juga memakai plat mobil palsu. Sehingga polisi tidak akan bisa melacak. Termasuk juga membuang identitas Meisya, aku sudah mengatur segala nya." Ucap Sally penuh keyakinan.
"Aku takut kita berdua ketahuan, dan kamu ditangkap polisi." Ucap Mama.
"Ingat ma, bukan aku saja, tapi Mama juga terlibat dan ikut dengan ku sewaktu menabrak Meisya." Ucap Sally tersenyum licik.
“Kita harus merahasiakan semua kejadian ini, termasuk pada suamiku dan anakku anak-anakku.” Bisik mama lagi.
“Siip ma,”
"Mama dan Sally, kalian dari tadi kenapa bisik-bisik terus, seperti ada sesuatu yang kalian berdua sembunyikan?." Ucap papa Aldo yang terlihat masih sedih, karena dialah orang dan Bella dirumah itu yang mencintai Meisya dengan tulus, dan selalu memarahi istrinya dan Aldo karena mengetahui kebusukan dan niat salah anak istrinya itu.
“Tidak kok pa, kami sedang membahas rahasia perempuan. Jadi sebaiknya papa tidak usah ikutan kepo.” Ucap Gea memasang wajah tidak bersalah nya.
Papa berjalan menuju kamarnya, dia sebenarnya malas Melihat Sally. Termasuk sikap dan tingkah gadis itu. Dia lebih menyukai Meisya yang sederhana dan baik hati. Meskipun memiliki segalanya, namun Meisya tidak pernah sombong dan suka membantu.
Seiring berjalannya waktu, kepergian Meisya tidak memberi pengaruh pada orang-orang disekitar nya. seolah-olah semua orang seakan ikut tutup mata. mereka lebih suka Aldo yang royal dari pada memikirkan tentang menghilang nya Meisya gadis polos dengan tubuh gendut itu.
Begitu juga dengan Aldo, pria itu seakan terlihat tanpa beban lagi, kemana-mana dia selalu bersama Sally. Menghabiskan waktu dan malam panjang mereka. Hanya Bella adik Aldo dan sang papa yang masih terlihat kehilangan dengan kepergian Meisya.
"Rumah ini tersa sepi ya pa, tanpa ada kak Meisya lahi." Ucap Bella sedih.
"Iya nak, papa juga sangat kehilangan sekali. dan papa juga masih berharap Mama dan abangmu itu bisa berubah dan taubat." Ucap papa.
__ADS_1