
"Ini kesalahan ku, bayi ini tidak berdosa sama sekali. sayang..... bagaimana pun caranya kamu hadir di rahim Bunda, sebisa mungkin bunda akan mempertahankan dan menyayangi mu nak." Bunga mengelus pelan perutnya yang masih rata, dengan air mata yang membanjiri wajah cantik nya.
Tubuh mungil Bunga, langsung melorot jatuh di lantai kamar mandi, dengan shower menyala, cucuran air membasahi wajah Bunga, sehingga air mata dan air yang turun sudah menyatu membasahi wajah cantik itu.
"Bagaimana caraku untuk menjelaskan kepada orang tua ku nanti, aku telah merusak kebahagiaan dan mencoreng nama baik kedua orang tua ku sendiri hu...hu...aku anak tidak berguna." ucap Bunga disela-sela isakan tangis nya.
Cukup lama Bunga menangis, hingga dia merasa cram pada perut bagian bawah, yang membuat dia merintih kesakitan.
"Maafkan bunda nak, karena telah menyakiti mu sayang." Bunga berusaha untuk bangkit dan menyeret langkah untuk keluar dari kamar mandi. segera mungkin Bunga mengganti pakaian nya, dan merebahkan tubuhnya untuk mengurangi rasa perih diperutnya.
"Tok...tok... Bunga kamu ngapain nak, dari tadi berkurung diri dikamar terus." terdengar suara Mama yang tiba-tiba mersa khawatir. karena tidak mendapat Jawaban, mana langsung membuka pintu.
"Ceklek... Bunga." Mama langsung menghambur menghampiri Bunga yang tengah meringkuk kesakitan, keringat membawahi tubuh.
"Sakiiit....ma," Ucap Bunga pelan hingga hampir tidak terdengar.
"Sabar sayang, Mama akan bawa kamu kedokteran secepatnya." ucap Mama cemas memangil suaminya, dan sopir untuk segera menyiapkan mobil.
__ADS_1
***
Setelah Sampai diruangan dokter, dengan serangkai pemeriksaan. dokter menarik nafas dalam-dalam berjalan menghampiri kedua orang tua Bunga, sementara Bunga *******-***** jemarinya yang tersadar dingin, ketakutan membayangkan reaksi kedua orang tua nya bayi setelah mendengar keterangan dari dokter.
"Maaf apa anak ibu sudah menikah?" tanya dokter sambil menatap intens kedua orang tua Bunga dihadapannya.
"Be...belum dokter." jawab mereka gugup.
"Bagaimana bisa, anak ibu sekarang tengah hamil muda." terang dokter.
"Apa?"
"Tidak mungkin, dokter pasti salah." Ucap Mama yang menangis, bahunya berguncang menahan isakan nya.
"Beginilah pergaulan remaja sekarang hu, mereka tidak mampu mengendalikan dirinya, tanpa memikirkan akibat dari perbuatan mereka." terang dokter ikut prihatin.
Papa yang sedari tadi diam, nampak nafasnya yang naik turun menahan emosi.
__ADS_1
"Sebaiknya kita segera pulang." jawab papa langsung berdiri meninggalkan ruangan dokter.
Sepanjang perjalanan, kedua orang tua Bu lebih banyak diam, hanya suara isakan tangis Mama dan Bunga lah yang memecah kesunyian diantara mereka.
"Dasar anak tidak tahu diri kamu Bunga,"
Terdengar suara lantang papa yang menghardik Bunga, dia mendorong kasar tubuh Bunga hingga terhempas disofa ruangan keluarga.
"Papa, jangan kasar. papa bisa menyakiti Bunga dan bayinya." ucap Mama berlari ! membantu Bunga untuk duduk dengan benar.
"Diam kamu." papa menunjuk Mama dengan kemarahan nya.
"Cepat katakan, siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu.?" ulang papa kembali.
"Ampun pa....hu...hu...a!Puni Bunga, yang tidak mengetahui siapa laki-laki yang telah menghamili Bunga ini." ucap nya disela-sela isakan tangis sambil memeluk sebelah kaki papanya, berharap papanya akan luluh.
"Apa tidak tahu? dasar anak tidak berguna. cepat gugurkan kandungan mu." bentak papa.
__ADS_1
Bunga langsung terlonjak kaget, begitu juga sang Mama. mereka menatap papa seakan-akan tidak percaya apa yang terlontar dari mulut papa yang biasanya lembut dan sangat sabar.
"Tidak pa, Bunga tidak akan pernah mengugurkan anak hunfa sendiri." ucap nya memeluk perutnya sendiri.