
"Pagi cantik, calon istriku tersayang. ternyata kamu baru bangun jam segini?" ucap Zerzio yang membuat Bunga yang baru keluar dari kamarnya terlonjak jaget.
"Pagi-pagi sudah bertemu, emang ini ya cara menjadi tetangga yang baik." sindir Bunga.
"Iya, aku sedih hidup sendiri dan sangat kesepian." berpura-pura memeluk Devano.
"Hu...uu... Om sedih Devano." Zerzio berakting nangis memeluk bocah itu, dan mengedipkan sebelah matanya saat Bunga melotot tajam kearah Zerzio yang berakting untuk menarik perhatian Devano.
"Om jangan nangis, Devano sayang kok sama om." ucap bocah yang masih polos itu.
"Kalau Devano sayang sama Om, berarti Om boleh dong mengajukan permintaan pada pangeran tampan ini?." bujuk Zerzio.
"Tentu boleh, permintaan apa Om.?" ucap nya antusias.
"Om ingin mulai sekarang, panggil Om dengan sebutan Papa, mau nggak sayang...?" ucap Zerzio.
__ADS_1
" Tidak bisa.!!!" teriak Bunga, namun tidak dengan anaknya. dia nampak antusias sekali.
"Mau...mauu... hore Devano punya papa, sudah lama pengen papa....hore....hore...." anak kecil itu tertawa lepas penuh kebahagiaan berlarian.
Zerzio menitikan air matanya, dia terharu mendengar penuturan polos putra nya. timbul rasa bersalah. karena telah menyia-nyiakan mereka. meskipun Zerzio sudah lama berusaha kersa mencari keberadaan Bunga.
Bunga yang semula marah dan kesal, akirnya luluh melihat pancaran kebahagiaan anaknya. memangil Zerzio dengan sebutan Papa.
"Tuan, aku harap kamu jangan besar kepala dulu, mendengar anak ku memanggilmu dengan sebutan itu. aku membiarkanmu karena tidak ingin merusak kebahagiaan putraku itu, dia terlihat sangat senang dan bersemangat bertemu dengan mu, aku harap kamu tidak membuat wajah ceria dan polos nya itu terluka." ucap Bunga lirih.
"Apa.? bren- kamu." Bunga yang kesal langsung mencubit kersa pinggang Zerzio. namun dengan sigap Zerzio menarik tangan Bunga, hingga hilang keseimbangan, dengan sigap Zerzio membawa tubuh Bunga kedalam dekapannya. pandangan mata mereka kembali bertemu.
"Bunda....papa...." teriak Devano menatap heran kedua nya.
"Iiiita Sayang..." ucap Bunga melepaskan tubuhnya dari dekapan Zerzio, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Papa dan Bunda sedang apa.?" ucapnya polos
"Oooo, itu sayang, tadi papa minta Bunda supaya nyuapi papa sarapan. tapi Bunda marah dan nyubitin papa keras...sakit lagi." berpura-pura dihadapan Devano.
"Bunda jangan gitu, kasihan papa..., Bunda tolong ya suapi papa. Devano mohon... mohon....ya" mengatupkan kedua tangannya ke depan dengan wajah imutnya. agar sag bunda luluh.
Bunga tercekat, tidak pernah dia melihat anaknya seperti itu, apalagi sampai memohon-mohon, Devano selalu menerima dan menuruti apapun yang Bunga katakan. tanpa meminta ini dan itu.
"Ba...baiklah nak." Bunga terbata-bata dan berjalan menuju meja makan.
"Hore....hore..." Devano dan Farrel tos bareng sambil tertawa senang.
Bunga yang semula kesal, mau menyuapi Zerzio yang mempunyai seribu cara untuk mengelabui otak polos anaknya, dan mencari-cari kesempatan dalam hal itu.
Namun perasaan ukus dan sayang mengalir begitu saja, begitu tangan mungilnya terangkat untuk menyuapi Zerzio. Keduanya saling pandang, seakan mencurahkan perasaan masing-masing. hingga sendok yang dipegang Bunga jatuh berdering jelang. membuat lamunan keduanya buyar.
__ADS_1
Ratna yang menyaksikan semua, membawa Devano dalam gendongannya, dia seakan-akan ikut terbawa suasana romantis perasaan sang majikannya itu.