Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Merasa tertantang


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun Bunga pagi ini i langsung disuruh datang ke ruang presdir. Zerzio tersenyum sambil menatap Bunga yang terlihat salah tingkah ketika bertemu kembali dengan nya.


“Kenaoa aku begitu ketakutan, apalagi diruangan i i hanya kami berdua.” Gumam Bunga yang tidak berani menatap mata elang Zerzio yang semakin mendekat dan menatap seakan-akan menelanjangi tubuh Bunga.


“Tu...Tuan,” ucap Bunga terbata, ketika dia tidak bisa mundur lagi karena tubuhnya sudah tersandar pada dinding ruangan, dan pergerakan nya juga sudah dikunci oleh tangan kekar Zerzio.


“Tatap mataku.” Ucap Zerzio dingin.


Jarak yang sangat dekat, membuat hembusan nafas Zerzio menyentuh kulit wajah cantik Bunga. yang masih menunduk.


“Tu... Tuan, jarak kita begitu dekat. Bukankah ini tidak baik dimasa pandemi ini.” Ucap Bunga seolah-olah mendapatkan ide.


“Angkat kepala mu, dan tatap mataku.” Ucap Zerzio kembali.


Perlahan Bunga mengangkat wajahnya, dia menatap wajah tampan dihadapannya ini dengan detak jantung yang terus berpacu kencang.


“Matanya.... begitu cantik, rasanya aku sudah tidak sabar untuk memiliki mu seutuhnya sayang." Gumam Zerzio. semakin mendekat kan tubuhnya, nyaris tanpa jarak lagi diantara mereka berdua. Zerzio tidak menyia-nyiakan kesempatan. Meskipun Bunga berusaha menolak namun bibir nya sudah berhasil mencium Bunga dengan buasnya.

__ADS_1


“Le.... lepaskan, tuan Anda benar-benar keterlaluan.” Bunga mendorong kasar tubuh Zerzio hingga dia berhasil lolos dari dekapan kuat Zerzio. dan segera pergi meninggalkan ruangan presdir.


"Syukurlah aku selamat, bagaimana oun aku sudah terikat kontrak dengan perusahaan ini, semoga aku bisa menjaga diriku dari laki-laki mesum itu." mengelap dengan tissue basah bekas ciuman Zerzio barusan.


***


“Bunda pulang,” Bunga memasang senyum terbaiknya begitu sampai kembali diapartemen nya.


“Hore...hore...Mama pulang.” Teriak Devano, mengejar dan menghambur memeluk mamanya, Bunga yang sudah merentangkan tangannya kearah anak kesayangannya.


Kejadian sore tadi masih melekat begitu kuat diingatannya.


“Bagaimana caranya bagiku untuk menghindari bos mesum itu, aku aroma parfum dan cara nya memperlakukan ku sama persis, aku harus hati-hati mulai sekarang. Jika tidak teringat perjanjian kontrak kerja itu, ingin rasanya aku kabur dari pekerjaan ini.” Gumam Bunga gelisah, setiap ingin kemejamkan mata, bayangan wajah tampan Zerzio kembali melintas.


Bunga perang batin dengan perasaan nya sendiri, hingga tanpa sadar dia akirnya tertidur pulas begitu saja.


Pagi ini Bunga ingin membuat penampilan nya sedikit berbeda, dia hanya mengolesi bedak tipis, begitu juga bibirnya yang polos tanpa lipstik.

__ADS_1


“Aku yakin, dengan penampilan ku yang terkesan buruk ini. Presdir gila itu mau memecarku dan membatalkan kontrak pekerjaan yang sudah aku setujui.” Gumam Bunga.


Suasana kantor masih terlihat sepi, hanya beberapa orang karyawan dan clining service yang sibuk bekerja sebelum jam kantor dimulai.


“Apa aku datang kepagian?” gumam Bunga melangkah masuk kedalam lift khusus karyawan, meskipun dia merasa seseorang tengah mengikuti nya dari belakang. Tapi Bunga berusaha untuk bersikap cuek.


“Paling juga karyawan yang lainnya.” Pikir nys melangkah masuk dalam lift yang kosong.


“Presdir?”


Safira mundur beberapa langkah, begitu tahu jika yang ikut masuk dibelakang nya adalah Zerzio.


“Kenapa kamu mesti gugup dan terlihat takut? Bukankah kamu berpenampilan seperti ini ingin menggodanya.” Zerzio menaikan sebelah alisnya.


“Tuan kamu salah, aku tidak pernah menggodamu.” Bunga Memalingkan wajahnya.


Hal itu membuat Zerzio merasa tertantang, mengingat selama ini begitu banyak wanita yang menggodanya. Namun sikap acuh Bunga membuat nya semakin ingin menikmati bibir mungil yang terlihat sangat seksi meskipun tanpa polesan lipstik.

__ADS_1


__ADS_2