
"Wah indahnya....,kota dinegara ini benar-benar bersih. tata bangunan nya juga rapi dan sangat unik." ucap Meisya menatap takjub, bibir mungilnya tidak berhenti mengukir senyum.
Mobil jemputan, sudah siap menunggu kedatangan kedua pasangan yang tengah menikmati masa bulan madu, penuh cinta. seorang sopir dengan pakaian khusus menyambut dengan penuh hormat menyapa mereka. Meisya ikut membalas sapaan orang itu dengan mengangguk pelan sambil tersenyum. karena dia menggunakan bahasa Perancis yang belum dimengerti Meisya.
Sepanjang perjalanan, Meisya kembali merebahkan tubuhnya disamping Devan, sambil bergelayut manja. mobil melaju membelah jalanan kota yang sangat ramai. yang akan membawa mereka menuju salah satu Villa mewah.
"Kak Devan, aku merasa seperti bermimpi bisa menginjakkan kaki di Negara ini. bahkan bisa melihat menara Eiffel yang selama ini hanya bisa aku lihat melalui televisi atau media sosial saja." ucap Meisya sebelah tangannya mengelus tangan Devan dengan lembut.
Devan tertawa lepas, dia merasa lucu mendengar penuturan polos istrinya, meskipun ini bukan untuk yang pertama kalinya bagi Meisya berpergian ke luar negeri. namun Devan kembali bersikap biasa. karena tidak ingin menjaga perasaan istri tercintanya, Devan takut Meisya akan tersinggung yang berujung ngambek nantinya.
"Ayo istri kecilku, kita sudah sampai di Villa." Devan mendongak punggung nya menatap luar kaca mobil. memperhatikan suasana lingkungan sekitar villa yang belum berubah. semenjak lima tahun terakhir dikunjunginya.
Mereka masuk sambil bergandengan, senyum bahagia mengembang disudut bibir kedua pasangan beda usia itu. namun tidak menjadi penghalang bagi mereka berdua.
Letak Villa itu sangat strategis, yang berada disebuah perbukitan , sehingga memanjakan mata, untuk melihat pemandangan lepas keindahan negara tersebut. Villa mewah itu hanya ditempati seorang pelayan selama ini, yang bernama Jane, wanita paruh baya. yang sudah lama bekerja di Villa ini.
Jane menyambut hangat kedatangan Devan dan Meisya yang dirasa begitu tiba-tiba, Devan terlihat mulai akrab, dan berbicara menggunakan bahasa Perancis. yang sama sekali belum dimengerti oleh Meisya yang ikut-ikutan tersenyum.
Mereka berdua menuju lantai dua Villa, Meisya sangat takjub memperhatikan semua, kamar tidur yang luas, serta gaya arsitektur bangunan yang begitu unik dan indah.
"Aaaagghhh, tubuhku tersa lelah dan lengket sekali." ucap Meisya sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.
__ADS_1
"Sini aku pijat-pijat biar sayang, agar kamu merasa segar kembali." Devan berjalan mendekati Meisya. yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk.
Jemari Devan mulai melakukan pijatan lembut. membuat Meisya memejamkan matanya. menikmati setiap sentuhan tangan yang membuatnya rileks. namun tidak dengan matanya yang kembali mengantuk akibat pijatan itu.
Devan tersenyum melihat tingkah Meisya yang menurut nya sangat menggemaskan, yang beberapa kali menguap, kemudian langsung tertidur. dengan dengkuran halusnya.
"Istri imutku, wajahmu lucu sekali." Devan memperhatikan lekat wajah Meisya, setelah itu dia menuju kamar mandi. untuk membersihkan tubuhnya yang tersa lengket hapis menempuh perjalanan panjang.
Setelah membersihkan tubuhnya, dengan hanya memakai pakaian santai. Devan berjalan keluar kamar. dia menengok ke lantai bawah. nampak madam Jane sibuk menyiapkan menu makan malam untuk mereka berdua.
Devan mengayunkan langkah pelan, madam Jane terperanjat kaget, tanpa sadar Devan sudah berdiri dibelakangnya.
"Tuan muda, ada yang bisa saya bantu.?" ucap madam Jane, tersenyum ramah.
"Tuan muda, silahkan duduk saja. biar aku saja yang membuatnya."
"Terimakasih madam."
Devan duduk, sambil menyalakan televisi berukuran besar itu. dan memutar-mutar acar televisi yang satupun tidak menarik minatnya sama sekali.
"Aaa... sebaiknya aku kembali ke kamar." menyeruput kopi hitam buatan madam, yang tersa begitu nikmat dan sangat cocok dengan selera Devan.
__ADS_1
"Kak Devan." sapa Meisya yang sudah berdiri disampingnya.
"Kak, kak... kakak, bisa ngak sih ganti panggilan dengan yang lebih menarik." gerutu Devan menatap kesal Meisya yang malah nyengir kuda berjalan kearahnya.
"Suamiku sayang.?"
"Ya itu lebih bagus, dan mampu membangkitkan gairah dan semangat ku," Devan kembali tersenyum.
"Sayang mau kopi." tawar Devan.
"Ngak, Meisya manffi dulu ya kak." Meisya berjalan menuju kamar mandi, sambil mengunci dari dalam, fia tidak ingin Al masuk sehingga mandi nya bertambah lama nantinya, mengingat disini musim dingin. Meisya mandi dengan cepat, tidak begitu lama dia sudah keluar sambil mengunakan jubah mandi.
"Sayang, mandinya pakai kilat khusus ya?" goda Devan.
Belum sempat Meisya menjawab, pintu kamar mereka digedor dari luar. yang ternyata madam Jane.
"Nona Meisya, dan Tuan muda. makan malam Anda sudah siap, silahkan." ucap madam.
"Okey Thanks madam." ucap Devan, menarik tangan istrinya yang baru berpakaian tanpa polesan make up, namun justru membuat Meisya terlihat semakin cantik.
Mereka berdua berjalan menuju meja. mengingat kedua nya sudah merasa lapar. ditambah lagi melihat menu hidangan yang begitu menggugah selera makan.
__ADS_1
"Meisya ini masakan khas negara ini, dan rasanya benar-benar enak dan buat ketagihan." Devan sudah mulai menyendok.
Meisya mengikuti saja, meskipun terlihat ragu diwajahnya. namun akirnya senyum mengembang disudut bibirnya. ketika merasa makanan itu. enak dan nikmat.