Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Rencana jahat Giska


__ADS_3

"Se... selamat datang Presdir.?" ucap Bunga terbata-bata. sambil mengumpulkan keberanian nya.


"Ya" ucap Zerzio dan melanjutkan melangkah madu keruangan rapat, meskipun sesungguhnya dia sangat ingin membawa tubuh Bunga kedalam pelukannya, Karena dia begitu merindukan wanita iru selama ini.


Giska melonggos kesal, saat melihat tatapan hangat yang ditujukan Zerzio pada saat berpapasan dengan Bunga. sementara dirinya tidak sedikit pun di lirik oleh Zerzio yang merupakan incaran nya selama ini.


Niat jahat menguasai pikiran Giska, saat melihat Zerzio akan memasuki ruangan rapat. diikuti oleh semua peserta rapat. ditambah posisi Bunga selalu sekretaris berjalan tidak jauh dibelakang Zerzio. dengan gerakan cepat dia mendorong tubuh Bunga, hingga gadis itu tidak mampu mempertahankan keseimbangan tubuh. karena sepatu hak tinggi yang dipakainya.


"Ha....ha...rasain kamu cewek sok kecantikan. tamatlah riwayat mu bekerja di perusahaan ini. Zerzio tidak akan mentolerir kesalahan anak baru seperti mu. apalagi saat ini dia sedang pusing dengan masalah yang terjadi diperusahaan ini." Giska tersenyum penuh kemenangan.


"Aaawww... brrruuuaarrgg."


Tubuh Bunga oleng, hingga menabrak tubuh Zerzio. yang dengan sigap menangkap tubuh Bunga. pandangan mereka kembali bertemu, seakan-akan menyampaikan sesuatu yang ada dipikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


"Cantik....dan aroma wanginya masih seperti yang dulu, sayang aku begitu merindukan mu." ucap Zerzio.


"Tidak....dia benar-benar laki-laki itu, semoga dia tidak mengenaliku kembali." Gumam Bunga.


Zerzio kembali tersadar Manarik tangan Bunga dan merapatkan ketubuhnya, seolah-olah mereka sedang berpelukan. Dengan jarak yang begitu dekat. detak jantung keduanya saling berpacu. seakan menyiratkan perasaan mereka yang sesungguhnya.


"Wanita ku malam itu, tatapan mata serta sifat gugup nya. hingga aroma tubuh yang tidak pernah berubah. rasanya aku tidak ingin kehilangan gadis ini lagi. Zerzio ingin mendekatkan wajah. namun dia kembali tersadar. saat Bunga bergerak mundur dan menarik tangannya dalam genggaman hangat Zerzio.


"Kenapa detak jantung ku terus berpacu, saat merasakan kembali hangat sentuhan laki-laki ini? tidak...aku tidak boleh terbawa perasaanku, pada kaki-laki brengsek, yang telah merampas sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ku." ucap Bunga.


Bunga mundur, berdiri disamping Frans yang terlihat ikut cemas.


"Bunga Kamu ngak papa kan ?" tanya Frans.

__ADS_1


Bunga hanya menjawab dengan gelengan kepala, dan tersenyum tipis. seolah-olah menyembunyikan perasaan yang dirasakan saat ini.


Melihat hal itu, Giska bukan nya mengalah. tapi dia mempunyai seribu akal untuk menyingkirkan Bunga.


"Bunga kamu benar-benar keterlaluan, baru beberapa hari bekerja. sudah memberikan kesan yang buruk terhadap Presdir. Presdir tolong maklum sikap anak baru ini memang terkesan sangat ceroboh. nanti jika perlu saya kan meminta kepala divisi untuk memberikan hukuman. jika perlu memecatnya sekalian Bos." ucap Giska antusias. berharap Zerzio sependapat dengan nya.


Zerzio tersenyum sinis mendengar penuturan Giska. dan menjawab dengan nada kesal.


"Tidak perlu, aku tidak butuh pendapat mu. dan lupakan kejadian ini." bentak Zerzio, melanjutkan langkah menuju kursi kebesarannya.


Semua saling pandangan, karena biasa nya Zerzio akan langsung menghukum atau tidak akan mentolerir kesalahan para karyawan. namun sekarang berbanding terbalik.


Bunga duduk disebelah asisten Frans, mereka berdua ibarat satu Tim. sekretaris dan asisten yang bekerja untuk Tuan Zerzio. rapat dimulai dengan Zerzio sebagai pemimpin rapat besar itu. penampilan nya sangat sempurna dan terlihat tanpa emosi dan kemarahan. seperti yang diduga semua peserta rapat. Zerzio sesekali mencuri pandangan kewajah cantik Bunga.

__ADS_1


__ADS_2