Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Kebangkrutan


__ADS_3

“Aku harus bagaimana sekarang, apa aku jual saja sebagian perkebunan dan rumah peninggalan Meisya. Toh aku dan keluargaku masih mempunyai rumah yang tidak kalah mewahnya. Rumah yang dulu sengaja aku minta dibuatkan oleh istri jelek ku itu untuk keluargaku,”


Aldo kembali tersenyum penuh kemenangan, seolah-olah dia mendapatkan ide yang sangat cemerlang menurut nya.


Pengunjung club, menatap heran dan menggelengkan kepalanya pelan, melihat perubahan sikap Aldo yang semula kasar dan terlihat sangat kacau. Tiba-tiba kembali tersenyum bahagia.


“Udah hilang akal tuh orang, tadi dia marah-marah. Sekarang senyum-senyum tidak jelas.” Bisik wanita malam yang tadi menghadapi nya.


“Mungkin sekarang dia sudah mabuk berat, makannya dia bertingkah seperti ini.” Balas sahabat yang duduk disampingnya.


Aldo tidak menghiraukan tatapan orang-orang disekitar nya. Dia berdiri sambil memasang kembali jas kerjanya. senyum terus mengembang mengingat rencana nya akan berhasil untuk menyelamatkan perusahaan.


“Aku akan menemui seseorang yang bisa membantuku untuk melelang sebagian aset Meisya,” Gumamnya pergi meninggalkan Club, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Astaga aku hampir lupa jika sekarang sudah larut malam, sebaik aku kembali pulang saja.” Aldo melajukan mobilnya kearah jalan pulang kerumah besar kediaman Meisya.


Mamanya Gea langsung membuka kan pintu, dia sudah tahu jika yang datang itu putranya Aldo. meskipun tidak menyukai keadaan anaknya yang suka pergi ke club dan mabuk, tapi Gea tidak bisa dan berani melarang ataupun menegurnya terlalu keras.


“Malam ma,” sapa Aldo begitu dia tahu bahwa yang berdiri di hadapannya adalah mamanya.


“Aldo , kamu meminum, minuman keras itu lagi ya nak ?” tanya Mama membantu memapah tubuh Aldo menuju kamarnya dilantai dua.


“Cuma dikit ma,”


“Kamu kenapa nak, Mama perhatikan akhir-akhir ini sikapmu Banyak sekali berubah. Apa kamu mempunyai masalah dengan Sally atau pekerjaan?"

__ADS_1


“Besok pagi saja aldo ceritakan semuanya pada mama, sekarang Al sedang capek dan ngantuk sekali. Aldo janji besok pagi akan menceritakan semuanya pada Mama.” Memegang bahu mamanya, meyakinkan wanita yang sangat disayanginya itu.


"Baiklah nak, sekarang kamu istrhat dulu.” Pergi meninggalkan kamar Aldo.


Tanpa butuh waktu lama, Aldo sudah tertidur begitu pulas. Sedangkan mamanya tidak bisa melanjutkan tidurnya. Dia merindukan suami dan anak bungsu nya Bella yang lebih memilih untuk hidup sederhana dan meninggalkan dia dan Aldo yang masih tinggal dirumah mewah ini.


“Papa dan Bella sayang, maafkan sifat buruk Mama ini. Perlu kalian ingat Mama dan kakakmu Aldo melakukan ini semua demi kebahagiaan kita sekeluarga kita, Mama capek hidup miskin dan menjadi seorang istri dari buruh perkebunan. Hidup pas-pasan dari bulan ke bulan. Sehingga Mama memanfaatkan kesempatan ini untuk kita mengakhiri kehidupan kita yang seperti dulu.


 Namun sekarang semua nya seakan tidak ada gunanya, untuk apa Mama memiliki ini semua jika kamu dan papa tidak ikut serta menikmati nya, dan tidak mau kembali lagi kerumah ini”


Gumam Gea sambil memperhatikan foto suami dan anak perempuannya. Dia memeluk erat foto tersebut meluapkan kerinduannya.


Paginya Aldo membuka matanya yang masih tersa berat, dia langsung membersihkan tubuhnya. Karena hari ini dia akan menemui notaris dan pihak pelelangan untuk melelang rumah besar Meisya yang mewah ini dan sebagain perkebunan kelapa sawit untuk  menyelamatkan perusahaan induk yang telah mengalami krisis dana. Termasuk para investor yang menarik Saham mereka.


“Pagi ma.” Sapa Aldo begitu melewati sang Mama yang tengah menunggu nya untuk sarapan.


Aldo menyuap sarapannya dengan sikap yang aneh dan tidak seperti biasanya, dia lebih banyak diam sambil  sesekali menyuap. Terlihat sekali jika dia tengah berfikir kersa sehingga menarik perhatian mamanya.


“Sayang kamu kenapa nak?” menatap intens putra kesayangannya itu 


Aldo menghentikan makan, meneguk air putih dihadapannya, sambil membalas tatapan Mama yang masih menunggu jawabannya. Aldo Bingung dari mana dia akan memulai kata-katanya.


“Begini ma, perusahaan induk sedang mengalami masalah krisis keuangan. Beberapa investor juga telah menarik Saham mereka, aku bingung harus bagaimana menyelamatkan nya jika tidak pihak perbankan akan menyita. Aku juga bingung memikirkan nasib ribuan karyawan perusahaan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan itu.” Aldo mengusap kasar wajah nya.


"Jadi perusahaan mu sekarang benar-benar bangkrut nak?"

__ADS_1


"Iya ma," Aldo mengangguk mantap.


Tangis Gea seketika pecah menyesali perbuatan dan juga sifat foya-foya nya selama ini, begitu juga dengan Sally yang ikut mendengar percakapan Aldo dan mamanya.


Langkah Sally langsung terhenti. Dia juga bingung harus bagaimana cara membantu Aldo yang panik dan kebingungan saat ini. Karena secara tidak langsung dia juga ikut menghambur kan uang perusahaan.


“Pagi ma, sayang.” Sapa Sally duduk disebelah Aldo.


Mama Gea dan Aldo tidak membalas sapaan Sally, mereka larut dalam pikiran masing-masing.


“Aldo , kenapa baru sekarang kamu beritahu Mama tentang masalah ini?” ucap Gea kebingungan dan panik.


“Ma, hari ini Al akan melelang rumah besar ini dan juga sebagian perkebunan kelapa sawit. Hasil dari pendapatan lelang itu akan Al gunakan untuk menyelamatkan perusahaan induk.” Terang Aldo mencoba meyakinkan mamanya.


“Terus bagaimana dengan kita?” ujar Mama


“Kita akan pindah kerumah baru yang  dibuatkan oleh Meisya dulu.” Ucap Aldo sambil menahan perih dihatinya, mengingat begitu baik dan banyaknya pengorbanan istrinya itu terhadap dirinya dan keluarganya. sekarang karena keserakahan dan sikap lupa diri nya hingga hampir menghancurkan semuanya.


“Aldo , Mama malu sekali jika teringat Meisya dan keluarga nya. Mama malu termasuk pada Bella dan papa yang lebih memilih hidup sederhana dan meninggalkan kita berdua disini.” Tangis dan air mata Gea kembali membasahi kedua pipinya.


“Ya udah ma, Al berangkat dulu, menyesali keadaan tidak akan merubah sehnya ma.” Aldo berdiri bersiap untuk pergi.


“Tunggu nak, sebelum kamu melelang aset Meisya, sebaiknya kita pergi menuju makam dia dan orang tuanya. Kita harus meminta izin darinya, lagian tujuan utama kita melakukan itu semua untuk menyelamatkan perusahaan dan nasip ribuan karyawan.” Ucap mama Gea. Dia tidak sanggup mengakui kesalahannya sendiri yang merupakan ikut andil dalam berfoya-foya.


Sally lebih memilih diam untuk saat ini, meskipun dihatinya tersenyum senang, mengetahui harta peninggalan Meisya yang hancur. namun dia pandai berakting seakan-akan ikut bersedih dan prihatin.

__ADS_1


“Rasain kamu Meisya, meskipun kamu Telah tiada, namun hartamu pun ikut tiada. Akibat keserakahan laki-laki yang kamu cintai dan mamanya. Meskipun aku ikut menikmati. Anggaplah itu sebagai balasan sakit hatiku yang pernah kamu goresan kan karena dulu merebut Aldo dari sisiku.” Tersenyum penuh kemenangan.


 


__ADS_2