Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Rasa Penasaran Meisya


__ADS_3

Pagi ini Aldo terlihat sangat rapi dan tampan, dia melintas lewat begitu saja dihadapan Meisya yang tengah menantinya untuk sarapan.


“Abang mau kemana? Kok tergesa-gesa sekali, sarapan dulu ya udah Meisya siapkan kok.” Menarik tangan Aldo untuk sarapan bareng.


“Ngak Meisya, aku ada urusan penting. Kamu habiskan saja semua makanan itu. Biar tubuhmu yang seperti balon itu bertambah besar.” Ucap Aldo ketus dan langsung meninggalkan Meisya yang berdiri terpaku mendengar ucapannya.


Aldo melangkah penuh percaya diri, memasuki mobil keluaran terbaru yang beberapa hari ini dibelinya dengan harga yang sangat fantastis. Meisya tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena dia sangat mencintai Devan.


“Abang tunggu.” Meisya mengejar Aldo, namun saat dia sampai dihalaman Aldo langsung meluncur pergi, mengabaikan teriakan Meisya yang memangil namanya.


Meisya tidak kehabisan akal, dia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi aldo kembali.


“Apa lagi sih Meisya?”  Aldo mengusap kasar wajah nya, sambil fokus mengemudi mobil nya.


“Abang mau kemana?”


“Aku ada urusan penting ke Bali beberapa hari ini, mengurus kafe baru yang akan aku buka disana nantinya, jadi Abang harap. kamu jangan bawel dan banyak tanya lagi. Kamu itu Mustinya bersyukur punya suami tampan dan bekerja keras seperti aku ini Meisya.” Aldo Mulai meninggilkan nada suaranya.


“Maafkan Meisya Abang.”


“Ya sudah, Abang pergi dulu. Baik-baik dirumah.” Aldo menutup panggilan mereka, dan melemparkan asal ponsel nya ke jok belakang mobil.


Sebulan berlalu, Aldo tidak pernah pulang kerumah. Setiap kali Meisya menghubungi ponselnya selalu tidak aktif. Sehingga Meisya mulai cemas tentang keberadaan suaminya itu.


"Ma, sebenarnya bang Al pergi kemana sih?. sudah hampir sebulan dia tidak memberikan kabar pada Meisya." Tanya Meisya pada Gea yang terlihat jauh lebih tenang dan santai.


"Meisya, kamu jangan terlalu banyak menuntut pada Aldo, dia itu tengah sibuk mengurus bisnis barunya. jadi kamu tenang dan berdoa untuk kesuksesan suamimu itu." Gea terlihat kesal.


"Tapi bang Al tidak pernah menghubungi Meisya, aku khawatir terjadi sesuatu padanya ma." Ucap Meisya.


"Al tidak apa-apa, dia sehat-sehat saja." terang Gea.

__ADS_1


"Dari mana Mama tahu, apa bang Al sering menghubungi mama?" Tanya Meisya.


Gea langsung tergagap, dan hampir keceplosan jika sesungguhnya sekarang aldo sedang liburan dengan Sally. dan mereka pun sering telpon-telponan.


"Ini perasaan seorang ibu yang begitu kuat ikatan batin nya dengan anaknya, kamu tidak mungkin bisa merasakan nya Meisya. karena kamu tidak pernah hamil. sudah masuk tahun kedua pernikahan kalian, tapi kamu belum juga mampu memberikan ku seorang cucu." Ucap Gea tanpa peduli perasaan Meisya saat ini.


"Gimana aku mau hamil ma, bang Aldo tidak pernah mau menyentuh ku sampai detik ini." gumamnya sedih.


Meisya pergi kekamar, dia lebih memilih untuk menyendiri agar kesedihan nya sedikit banyak bisa berkurang.


"Sebaiknya aku merapikan pakaian bang Al,"


Meisya membuka lemari pakaian, yang khusus menyimpan pakaian Aldo. namun dia secara tidak sengaja menemukan bukti transaksi pembelian sebuah apartemen mewah di lipatan pakaian Aldo.


"Pembelian apartemen mewah?" gumam Meisya.


Meisya yang masih penasaran, memeriksa berkas-berkas itu, yang ternyata apartemen itu dibeli Aldo untuk seorang wanita yang bernama Sally Amora, jantung Meisya langsung berdetak kencang. Tangannya bergetar dengan tangis membasahi kedua pipinya.


“Aku harus mendatang apartemen itu, mencari bukti sendiri meskipun aku masih berharap ini Cuma salah paham nantinya.” gumam Meisya, dia Langsung berlari menuju mobilnya.


"Kak Meisya mau kemana?" teriak Bella yang ingin mengajak kakak iparnya itu menonton film kesukaannya.


Namun Meisya mengabaikan saja, teriakan Bella itu karena urusan nya saat ini lebih penting dari segalanya. Meisya mersa kepercayaan nya sudah runtuh. sepanjang perjalanan bayangan sikap buruk Aldo seolah-olah melintas se! purnama dipikiranya. yang dulu sering disangkal oleh pikiran nya sendiri.


“Kak Meis mau kemana, tunggu Bella.” Teriaknya namun Meisya telah melajukan mobilnya. Kearah apartemen tersebut. dia melakukan Mobil nya dengan kecepatan tinggi, Meisya seakan-akan tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri.


Sampai di apartemen yang dituju, Dengan ragu Meisya memencet tombol bel Apartemen mewah itu dengan perasaan was-was, seorang pelayan wanita paruh baya membuka kan pintu untuk Meisya.


“Nona pasti teman yang ditunggu non Sally, silahkan masuk dan tunggu disofa, karena non Sally masih di kamarnya sama mas Aldo .” Ucap seorang pelayan wanita paruh baya.


Darah Meisya langsung memanas, begitu perempuan paruh baya itu menyebutkan nama suaminya. Namun dia masih berusaha untuk menutupinya. Meisya mengaguk pelan mengiyakan perkataan pelayan itu,  dan mulai melangkah kan kakinya sambil mengedarkan pandangannya keseliling ruangan apartemen yang sangat mewah.

__ADS_1


 "Ternyata selama ini bang Aldo tinggal disini bersama selingkuhannya," gumam Meisya dengan tubuh bergetar, susah payah dia mencoba mengendalikan perasaan dan tangisnya, dia terus berjalan masuk kedalam.


Meisya tidak ingin ketakutan nya menjadi kenyataan, dia belum siap jika Aldo juga akan meninggalkan nya Setelah orang tuanya. Apalagi harus menerima kenyataan jika mendapatkan perlakuan dan penghianatan dari suaminya. Namun dia tidak boleh gegabah. Meisya mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang selalu dia bawa.


“Apa Aldo yang ada difoto ini maksud ibuk?” tanya Meisya memperlihatkan foto Aldo dari layar ponselnya.


“Betul sekali Nona. Dia adalah kekasih Nona Sally” jawabnya.


“Ya Tuhan, ternyata dia benar Aldo suamiku. Tega sekali kamu mas. Kamu tega mengkhianati ku selama ini.” Gumamnya air mata tidak mampu dia bendung lagi.


Hati Meisya benar-benar hancur,


"Kurang apa lagi aku bang, semua keinginan mu selalu aku turuti." gumam Meisya.


“Dimana kamar mereka?” Meisya berusaha bersuara meskipun dia kesusahan, mengingat dadanya yang tersa begitu sesak.


“Lantai dua, kamar utama Nona.” Ucap pelayan itu polos. Sambil menatap heran kearahnya.


Tanpa Pikir panjang lagi, Meisya langsung berlari menuju lantai dua, tanpa peduli lagi suara pelayan tersebut memangilnya dan melarang Meisya untuk naik keatas.


“Mbak tunggu, jangan naik kesana aku bisa dipecat mas Aldo jika membiarkan Nona masuk.” Mencoba mengejar Meisya. Namun dia kalah cepat dari langkah panjang Meisya yang emosinya sudah mencapai level sepuluh.


“Pasti ini kamar mereka.” Begitu mendengar ******* seorang perempuan dan suara laki-laki yang sangat dikenalinya.


Meisya langsung membuka pintu yang yang tidak terkunci rapat tersebut.  tangan gemetaran dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya yang memanas.


Ceklek....,,pintu terbuka mengagetkan dua pasangan yang saling memadu kasih di ranjang berukuran besar itu. mereka yang tengah bergumul dalam balutan selimut tebal. itu refleks melihat kearah pintu masuk dengan mulut ternganga seolah-olah tidak percaya dengan penglihatannya mereka berdua.


 


 

__ADS_1


__ADS_2