Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Menjadi maling


__ADS_3

"Hallo, saya salah seorang pelayan Club malam xxx. saudara Aldo sedang dalam keadaan mabuk berat, bisakah anda menjemputnya kesini,?" terdengar kembali suara diseberang sana, menjawab rasa penasaran Giselle.


"Bisa, saya akan segera kesana." Ucap Giselle sedikit ragu.


“Aku harus memberitahu kak Devan dulu.” Gisella langsung membangun kan Devan dan menceritakan semuanya.


“Ini kesempatan bagus, kita antar Aldo kerumahnya, mumpung dia tidak sadarkan diri. Kita bisa mengambil surat-surat berharga dan beber perhiasan peninggalan Mama dulu.” Ucap Devan.


“Iya, aku setuju sekali kak. Meskipun kita berdua harus menjadi maling untuk merebut milik dan garta kita sendiri.” Ucap Giselle.


“Biar besok begitu Aldo sadar, dia sudah kembali pada kehidupan nya semula.” Ucap Giselle tersenyum penuh kemenangan.


“Ayo dek, Kakak akan temani kamu. kita akan menghadapi mereka bersama-sama.” Ucap Devan sambil memakai masker begitu juga Gisella. Seakan-akan keadaan pandemi ini mendukung aksi mereka.


"Kita sudah sampai," Ucap Devan, ikut keluar dan membukakan pintu mobil untuk Giselle.


"Terimakasih kak," ucap Giselle berjalan dibelakang Devan memasuki tempat yang belum pernah dia kunjungi. gadis itu celingak-celinguk melihat lampu berkelap-kelip berbaur dengan suara musik yang memekakkan telinga.


Aroma alkohol yang menyengat membuat Giselle Ingin muntah, namun gadis itu berusaha sekuat tenaga menahan nya. dia terus mengikuti langkah Devan yang terlihat sudah hafal dengan seluk beluk ruangan Club itu.


"Aldo," ucap Gisella begitu melihat kondisi tubuh Aldo, yang sudah mabuk berat, sehingga tidak mengenalinya lagi.


"Ayo dek, kita papah menuju mobil." ucap Devan.


“Ini benar-benar kesempatan emas, Mama Aldo kebetulan juga sedang tidak ada dirumah itu.” Bidik Devan.


“Dari mana kakak tahu?”


“Salah seorang pelayan Rumah Aldo, adalah orang suruhan kakak.” Bisik Devan.


Suasana Rumah baru Aldo terlihat sepi, mereka langsung membawa Aldo kekamar nya, Devan dan Giselle dibuat melongo menatap kondisi kamar yang berantakan, seperti habis perang dunia. berbagai pertanyaan berkecamuk tentang apa yang telah terjadi.


Devan langsung menidurkan Aldo yang sudah tidak sadarkan diri diranjanng.

__ADS_1


“Kalian awasi situasi dan kondisi diluar,” perintah Devan pada pelayan.


“Baik tuan” balas mereka.


Gisella dan Devan langsung bertindak, memeriksa lemari, laci atau tempat apapun dikamar itu namun kosong.


“Sepertinya dia tidak menyimpan surat-surat dikamar ini kak?” Ucap Giselle.


Pencarian dilanjutkan di ruang kerja Aldo, tidak butuh waktu lama bagi Giselle dan Devan, berkat kepintarannya Devan mampu membobol berangkas Aldo.


“Alhamdulillah,” Ucap Giselle tersenyum senang begitu berhasil mendapatkan surat-surat berharga kepemilikan perkebunan, pabrik, mobil dan harta Meisya yang lainya.


“Ini kalung kesayangan Mama...hu...hu...” Ucap Meisya menangis memeluk perhiasan mamanya.


“Dek, jangan lupa kamu harus mengambil sertifikat Rumah ini, karena mereka tidak berhak.” Ucap Devan.


“Tentu kak, meskipun semula aku memberikan Rumah ini untuk bang Aldo, tapi setelah mengetahui niatnya menikahi ku, aku jadi sangat membenci nya.” Ucap Giselle.


“Iya kak, aku juga berharap seperti itu.”


“Sekarang, tugas dan misi kita sudah sepenuhnya berhasil. Tinggal menyelidiki siapa dalang dibalik kecelakaan mu. Dan kakak rasa bukan Aldo dan keluarga nya tapi ada orang lain dibalik semua ini.” Ucap Devan.


“Iya kak, aku ingin semua permasalahan kita segera tuntas.” Jawab Giselle.


Devan dan Giselle langsung pergi meninggalkan Rumah Aldo, dengan senyum penuh kemenangan.


“Ternyata sangat mudah untuk melawan orang seperti Aldo.” Ucap Devan tertawa lepas yang diikuti Gisella.


Pagi nya Aldo terbangun, dia memijid pelan pelipisnya mencoba mengumpulkan kesadarannya.


“Aduuuuh, rasa sakit di kepalanya bertambah. Begitu melihat kondisi kamarnya yang bertambah hancur dan berantakan, lebih parah dari kondisi semula sewaktu dia habis bertengkar hebat dengan Sally.


Aldo menyeret langkah meninggalkan kamar, dia ingin mengetahui kondisi Sally, dengan menanyakan pada pelayan.

__ADS_1


“Apa kalian yang membantu Sally?”


“Iya tuan.” Jawab mereka takut-takut.


“Aku sudah muak melihat wanita itu, kenapa dia tidak mati saja.” Gerutu Aldo kembali keatas ingin mencari-cari mamanya Gea.


“Ada apa sih Al, Mama masih ngantuk.” Balas Gea yang baru subuh sampai dirumahnya.


“Mama dari mana saja?”


“Mama pergi ke Rumah teman, Mama capek menghadapi calon istrimu itu.” Ucap Gea ketus.


“Sama ma,” balas Al.


“Al dari kemaren perasaan Mama terus gelisah, dan Mama mimpi buruk. Kita seperti dulu lagi hidup miskin dan tidak mempunyai apa-apa lagi.” Ucap Gea teringat mimpi nya barusan.


“Aldo juga seperti itu ma,” balas Aldo.


“Jangan-jangan?” Ucap Gea.


“Maksud Mama?”


“Apa Sally sudah mengambil semuanya, dan kabur.” Ucap Gea khawatir.


“Tidak mungkin ma,” balas Aldo.


“Sebaiknya seluruh aset peninggalan Meisya, kita simpan ditempat yang jauh lebih aman. Mama khawatir seseorang akan mengambilnya Al.” Ucap Gea.


“Iya ma, Al setuju sekali.” Ucap Aldo.


Mereka berdua langsung menuju ruangan kerja Aldo, Ceklek..... pintu terbuka.


“Tidakkk.... tidakkk...” teriak Gea syok melihat berangkas yang kosong dia pingsan seketika.

__ADS_1


__ADS_2