
Bunga menatap sedih kepergian Devan, cukup lama dia menangis diruang kerjanya yang menjadi saksi bisu betapa hancur dan terluka nya dia saat ini.
Tangan mungil Bunga mengusap kedua belah pipinya, menghapus sisa-sisa air mata. dia mencoba untuk memaksakan senyum keluar dai ruangan kerja. mengayunkan langkah kakinya berjalan meninggalkan Rumah sakit.
Jarak Rumah sakit dan apartemen tidak terlalu jauh, sehingga tidak perlu waktu lama bagi Bunga untuk sampai di apartemen nya, Bunga memasuki lobby sambil berjalan menunduk menyembunyikan wajahnya yang sembab, dia masih sangat kesal dan resah sehingga tidak memperhatikan seorang laki-laki dihadapannya berjalan juga tergesa-gesa dengan arah yang berlawanan.
"Brugghhh," Bunga menabrak tubuh laki-laki itu, hingga ponsel yang sedang dipegangnya ikut jatuh kelantai.
"Kamu punya mata dan bisa jalan ngak sih,?" menghardik Bunga yang tengah menunduk mengambil ponselnya yang jatuh. mendengar nada suara laki-laki itu, Bunga menatap kearahnya dengan tatapan mata yang tidak kalah tajam.
"Hey kamu yang tidak punya mata," Bunga berdiri dan menghadang pria yang terlihat juga sangat dewasa sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Dasar kamu ya, sudah bersalah malah ikut-ikutan menyalahkan ku. sekarang. cepat ganti ponsel baruku yang rusak gara-gara kamu." mengangkat telunjuknya dan mengarahkan pada kening Bunga.
"Tidak, tidak bisa. aku tidak akan pernah mengganti ponselmu itu, karena ponsel ku juga jatuh dan lecet, lagian semua ini bukan kesalahanku." teriak Bunga sambil mendorong tubuh laki-laki itu yang masih mau menghadang langkah nya dan berjalan cepat menuju lantai apartemen nya.
Mood Bunga benar-benar buruk, dia langsung menghempaskan kasar pintu masuk apartemen. dan membuang asal tas dan ponsel yang yang dipegangnya.
"Sial, hari-hari ku sekarang terasa begitu sial setelah bertemu Devan. coba saja waktu itu aku berhasil mendapatkan cinta Devan, mungkin saat ini aku masih menjadi wanita yang paling berbahagia memiliki dirinmu seutuhnya. aku menyesal telah membantu mu Meisya, kembali menjadi wanita cantik, ucap Nadin melepaskan semua kekesalan hatinya.
Setelah merasa lega, Bunga membersihkan tubuhnya, dan mengganti pakaian nya dengan yang lebih terbuka dan berani, dia melaju kan mobilnya menuju salah satu Club malam termahal, yang tidak sembarangan orang bisa memasuki nya. karena Bunga ingin malam ini melupakan kedenya.
Bunga dengan langkah angkuh, namun terlihat begitu mempesona mengayunkan kakinya memasuki Club. dia terlihat sudah terbiasa dengan dunia hingar - bingar kehidupan seperti itu. Bunga memasuki sebuah ruangan khusus dan meminta minum favoritnya yang merupakan teman untuk Bunga melepaskan kegundahannya.
__ADS_1
Bunga terus meneguk minuman itu, tanpa peduli lagi kondisi dan situasi lagi. yang terpenting saat ini dia bisa melupakan Devan, serta kemesraan yang pernah Devan dan Meisya lakukan sewaktu berpelukan dihadapannya. dengan alasan yang dipikir Bunga sengaja dibuat-buat Meisya untuk menarik perhatian Devan.
Bunga sudah mulai mabuk, berbicara dan tertawa sendiri. bahkan gadis itu sekarang tidak peduli lagi dengan kondisi pakaian nya yang sudah terbuka. karena dia terus menariknya karena merasakan panas, efek dari minumannya.
Bunga mengambil botol minuman lalu meneguknya langsung dari mulut botol minuman tersebut, sambil berjalan sempoyongan Bunga menyeret langkah nya Menuju lantai untuk ikut berjoget berbaur dengan pengunjung lainnya.
"Ha...ha...aku bahagia, aku bahagia meskipun tanpa kamu Devan, aku ingin terbang dan mandi di udara." ucap Bunga bernyanyi dan menggerakkan tubuhnya sehingga pakaian nya tidak beraturan lagi.
Seorang laki-laki, tengah memperhatikan semua tingkah Bunga. semenjak wanita itu memasuki Club malam dan mulai meminum minuman keras hingga mabuk seperti sekarang.
"Ternyata kamu masih terlihat cantik, dalam kondisi seperti ini. walaupun terlihat galak dan mudah emosi dalam menghada permasalahanmu," Gumamnya dan berjalan mendekati Bunga.
__ADS_1