
“Sayang, aku mempunyai seribu alasan untuk mengelabuinya. Mumpung Mama dan papanya sekarang sedang tiada dirumah. Mereka tengah melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.” Terang Aldo.
“ Baiklah sayang aku sudah tidak sabar lagi menunggu kehadiranmu.. muuuacch by sayang.” Menutup panggilan mereka karena Aldo juga sudah sampai diruangan kerjanya.
Aldo memimpin rapat besar itu dengan sangat sempurna dan penuh wibawa, rapat berjalan cukup lama hingga sore menjelang rapat besar itu ditutup, mengingat begitu banyak hal yang mereka bahas.
Saat hendak pulang kerumah, Aldo teringat janjinya dengan Sally, segera dia memutar arah mobilnya kembali menuju rumah gadis itu yang kebetulan tinggal sendirian dikota ini.
“Maaf sayang, hari Ini aku begitu sibuk sehingga sedikit mengabaikan mu.” Bujuk Aldo ketika sampai dan bertemu Sally.
“Pokoknya mulai sekarang kamu harus punya banyak waktu untukku. aku tidak ingin lama-lama kamu jatuh cinta benararan tuh sama Meisya” Sally merajuk.
“Ha....ha.... Tidak mungkin sayang, mana mungkin aku jatuh cinta pada Meisya, aku begini juga demi kita nantinya, karena cuma kamu wanita yang ada dihatuku ini sayang.” Sambil mengipasi tubuh Sally dengan segepok uang, membuat senyum gadis itu kembali mengembang. Bahkan dia mulai mencumbui Aldo dengan Menaiki tubuh laki-laki itu, mereka bergumul diatas sofa. Aldo benar-benar lupa statusnya yang sudah menikah. dan bagaimana keadaan Meisya dirumah sendirian.
Meisya mencoba menghubungi Aldo, dia sudah mulai resah karena panggilan nya tidak diangkat oleh suami nya itu, padahal sekarang sudah lewat dari jam pulang dari kantor.
“Bang kenapa kamu belum pulang juga, aku butuh kamu bang, aku kesepian dirumah sebesar ini. Sementara mama dan papa masih belum bisa dihubungi.” Gumam Meisya cemas bolak- balik cemas berjalan didepan pintu masuk rumah mereka.
"Itu pasti bang Al "
Meisya langsung berlari menuju meja tempat ponselnya yang satu lagi berdering, tertera nama suamiku sayang. Segera dia mengangkat.
“Hallo bang,” ucap Meisya senang, akirnya Aldo menghubungi nya kembali. meskipun sudah sepatutnya ini.
__ADS_1
“Meisya maaf ya, malam ini Abang ngak bisa pulang. Karena dikantor sedang banyak pekerjaan sehingga Abang begitu sibuk dan harus lembur. Kamu tidur duluan ya malam ini.” Bujuk Aldo , sebelah tangannya membekap mulut Sally yang terus bersuara ingin memanasi Meisya dengan suara ******* nya.
“Ya bang,” jawab Meisya menurut dan berjalan menuju kamar mereka, saat melewati foto kedua orang tua nya. Meisya terlonjak kaget, kerena foto itu tiba-tiba. Jatuh hingga figuranya pecah berderai dilantai keramik berwarna vanilla tersebut.
“Ya Allah, pertanda apa ini.” Jantung Meisya berdetak kencang, dengan tangan bergetar dia memilih serpihan kaca itu, yang langsung melukai tangan nya hingga mengeluarkan darah.
“Hati-hati non Meisya,” pelayan langsung datang membersihkan pecahan kaca, dan pelayan satu lagi membantu mengobati luka Meisya.
“Bi, tolong nyalakan televisi nya. Aku kesepian Karena bang Aldo lembur. Dan juga mersa kawatir mengingat ponsel Mama dan papa masih tidak aktif, padahal seharusnya mereka sudah sampai” Ucap Meisya seraya merebahkan tubuhnya disandaran sofa sambil menyaksikan siaran televisi.
Tiba-tiba Meisya langsung berteriak histeris, membuat semua pelayan dan petugas keamanan rumah besar mereka berkumpul menghampiri nya.
“Non Meisya kenapa?” ucap salah seorang dari mereka.
“Tidak, tidak mungkin itu pesawat yang dinaiki oleh Mama dan papa, karena seharusnya mereka sudah sampai sore tadi.” Ucap Meisya mencoba mengusir kecemasannya.
Namun semakin dia berusaha menyingkirkan prasangka buruk. Semakin kuat persaan yang mengatakan jika itu benar-benar pesawat yang ditumpangi kedua orang tuanya, ditambah lagi dengan foto keduanya yang jatuh tiba-tiba.
“Abang Al , aku butuh kamu Bang hu...hu...,” Meisya mencoba menghubungi suaminya itu, namun ponselnya sudah tidak aktif. Akirnya malam itu dilalui Meisya Dengan menangis dan sholat tahajud berdoa untuk keselamatan orang tuanya dan juga suaminya.
Besoknya Meisya kembali mendapatkan berita yang membuat nya langsung ambruk, pesawat kedua orangtuanya positif mengalami kecelakaan. Pihak kepolisan dan pemerintah masih bekerja sama melakukan pencarian mayat mereka yang jatuh kedalam lautan dalam.
Meisya langsung pingsan, tidak sanggup menanggung kesedihan dan beban hidupnya sendiri. Sementara suami yang sangat diharapkannya belum juga pulang. Ponselnya juga masih belum aktif. Berlipun menghubungi orang kantor. Namun mereka seolah-olah menyembunyikan keberadaan Aldo . Dengan mengatakan jika Aldo sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.
__ADS_1
Setelah Meisya membentak mereka dengan sedikit ancaman, barulah mereka berkata jika Aldo sedang ada pertemuan penting dengan klien diluar kantor.
Meisya tertunduk lesu, hatinya benar-benar hancur sementara orang yang diharapkan nya mampu memberikan nya kekuatan, sama sekali tidak kunjung datang. matanya sembab seakan tidak mampu lagi menetes membasahi kedua pipinya. Sambil memeluk foto Mama dan papanya.
“Mama, papa jangan pergi.. Meisya masih butuh kalian berdua hu...hu....”
"Non Meisya, barusan pihak kepolisian menghubungi untuk segera kerumah sakit pusat. untuk mengidentifikasi mayat yang diduga kuat Tuan dan nyonya yang telah ditemukan." terang pelayan.
Tidak ada perkataan yang keluar dari bibir Meisya, selain air mata dan isakan tangisnya. Dengan ditemani bi Ijah mengasuhnya semenjak kecil, Meisya langsung berangkat menuju rumah sakit, tempat korban kecelakaan pesawat untuk divisum. Dengan tangan gemetar dan takut menerima kenyataan. Meisya membuka perlahan kain putih dinyatakan oleh pihak rumah sakit sebagai kedua tuanya yang tiada.
“Tidak, tidak mungkin hu... hu... tidak.” Meisya menangis memeluk tubuh kedua orang tua nya yang kaku. Tangis histeris memecah keheningan ruangan itu.
Aldo yang dua hari ini sengaja mematikan ponselnya, atas permintaan Sally yang tidak ingin diganggu. Langsung syok ketika melihat berita mengenai kecelakaan pesawat. Dia langsung menghubungi Meisya, dan melihat begitu banyak panggilan masuk dari istrinya tersebut.
Terbersit rasa bersalah dihati Aldo, bagaimana pun juga Meisya dan keluarganya sudah sangat baik terhadapnya selama ini. bahkan Meisya tidak pernah menuntut yang macam-macam terhadap dirinya. apalagi mencurigai Aldo secara langsung.
"Maafkan Abang Meisya," gumam Aldo langsung pergi meninggalkan rumah Sally tanpa menghiraukan teriakan Sally yang masih memanggil namanya.
"Bang Al ....Bang tunggu." tetiak Sally, namun mobil Aldo sudah meluncur pergi membelah jalanan yang mulai ramai.
“Maafkan Abang Meisya.” Gumam Aldo yang langsung berlari menuju mobilnya dan meluncur langsung ke rumah sakit, tanpa memperdulikan lagi ucapan Sally yang melarang nya untuk pergi.
Al langsung membelokkan mobilnya, memasuki pekarangan luas rumah sakit. dengan langkah panjang dia mencari keberadaan tempat korban kecelakaan.
__ADS_1