
Devan tidak mampu berfikir jernih, karena posisi Meisya begitu membuat nya merasa tertantang seb laki-laki normal. dia merengkuh pinggang Meisya yang terlihat masih terpana dan menariknya kedalam dekapannya, Devan langsung mencium hangat bibir Meisya yang selalu didambakan nya selama ini.
Meisya merasa terhipnotis oleh ketampanan dan terbawa oleh suasana, dia membalas ciuman demi ciuman Devan, yang terus memperdalam ciumannya.
Meisya kembali tersadar, dan teringat bagaimana dia bisa terdampar dikamar yang ternyata bukan kamar tidurnya. Meisya mengenyampingkan rasa malunya, saat melihat kondisi Devan sekarang.
Meisya berusaha bangkit dari dekapan dan menghindari ciuman Devan. dia berbalik hendak berdiri.
"Meisya, kakak minta maaf dan selalu hilang kendali jika bersama mu." Devan tertunduk lesu, dia be tidak berani untuk mengangkat wajahnya saat ini, dia yakin Meisya pasti akan membencinya setelah ini.
"Sudahlah kak, kita lupakan saja." Mei membantu memapapah Devan yang masih lemah dan mendudukkannya di sisi ranjang.
"Kak Devan maafkan Meisya juga, karena kakak keracunan makanan laut juga gara-gara makanan yang Meisya bawakan semalam ," ucap Meisya ikut duduk disebabkan Devan.
"Tidak masalah, tapi kamu harus mendapatkan hukuman dariku atas semua itu," terang Devan tersenyum simpul karena Meisya sama sekali tidak mempermasalahkan tentang cumbuan nya pagi ini.
__ADS_1
"Hukuman?"
"Ya, kamu sudah banyak melakukan kesalahan, termasuk pagi ini. masuk ke kamar mandi ku hingga membuat ku jatuh seperti ini." terang Devan, yang membuat Meisya ingin sembunyi kelobang semut saking malunya.
"Hukuman Pertama, patuh dan taat pada perintah ku."
"Mengurus ku dengan baik selaku kakak mu," terang Devan.
"Baiklah kak, hanya itu?" ucap Meisya.
Devan langsung menoleh saat Meisya Bilang "hanya itu," yang membuat nya merasa tertantang.
"Tidak kak, bukan maksudku seperti itu," Meisya menepuk bibirnya menyesali keceplosan nya barusan.
"Sekarang laksanakan tugas pertamamu, bahkan kamu tega melihat ku kedinginan seperti ini." ucap Devan pura-pura menggigil.
__ADS_1
"Uups maaf kak," ucap Meisya langsung berlari menuju lemari pakaian Devan.
"Kamu selalu meminta maaf, sudah banyak kesalahan yang kamu perbuat." balas Devan.
Meisya mengambil Pakaian Devan dan berbalik. "Ini kak pakaian nya." meletakkan dihadapan Devan.
"Kamu kok tega seperti ini Meisya, lihatlah kakiku masih sakit." Devan sengaja menjaihiliby Meisya, rasanya Devan ingin kembali mengulangi kejadian barusan..
Dengan muka memerah, Meisya membantu memakai kan baju pada Devan, bagian bawah Meisya benar-benar menyerah dan malu, kejadian dikamar mandi barusan kembali melintas dan masih tersa nyata, mata polos dan bersih janda perawan itu sudah ternodai oleh pemandangan yang belum pernah dilihatnya selama ini.
"Sudah kak Devan lanjutkan sendiri," Meisya langsung berlari menuju kamar tidurnya sendiri, sekarang dia sudah tidak peduli lagi dan ingin melanjutkan tidur nya.
"Dek kamu mau kemana?" teriak Devan.
"Meisya tolong...tolong aku." Devan pura-pura jatuh dari tempat tidur, saat ini dia sangat ingin bermanja-manja dengan Meisya, bahkan Devan selalu ingin disentuh gadis yang telah mencuri perasaan nya.
__ADS_1
Dengan kesal, Meisya bangkit dan berjalan kearah kamar Devan yang tidak terlalu jauh dari kamar tidur nya sendiri.
"Kak Devan, kenapa bisa seperti ini?" teriak Meisya begitu melihat Devan meringis dibawah tempat tidur nya.