Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Mencintai dalam diam


__ADS_3

"Aaaagghhh.” Ucap Bunga dengan ekspresi pura-pura takut dan langsung menyandar dan memegang tangan Devan. Bunga tidak ingin kehilangan kesempatan indah ini.


“Sorry Devan, filmnya membuat ku takut.” Sambil terus memegangi tangan laki-laki yang merupakan cinta pertamanya.


“Ngak papa kok Bunga santai saja.” bisik Devan.


Sekarang Devan benar-benar dibuat dilema, diapit oleh dua orang wanita cantik, sama-sama baik. Namun perasaan terkecil Devan lebih menikmati sentuhan Meisya. Sedangkan untuk Bunga, dia hanya merasa hampa dan biasa saja ketika bunga menyentuhnya.


Orang-orang yang duduk di jejeran belakang mereka, menggeleng pelan, ada juga yang menatap kearah Devan takjub dan kagum, karena diapit oleh dua orang wanita cantik dan akur.


“Enaknya ya mas memiliki dua pacar yang sangat cantik, dan akur kayak gini. Pasti masnya pakai pelet ya.” Ucap salah seorang penonton yang duduk di jejeran kursi paling depan.


"Tidak mungkin di pakai pelet, tapi dia benar-benar tampan." bisik satunya lagi.


Yang dibalas Devan dengan senyum penuh bangga, sehingga mendapatkan cubitan kecil dari Meisya yang kesal melihatnya tersenyum seperti ini.


“Aduuuh sakiiiitt dek.” Mengusap bekas cubitan Meisya ditangannya.


Meisya sengaja mencubit Devan, karena mersa tertipu semula Meisya mengira hanya dia sendiri yang bergelayut dan memeluk lengan Devan. Tapi ternyata disisi sebelah kirinya Bunga juga melakukan hal yang sama. Meskipun Devan tidak menggenggam jemari Bunga seperti yang dilakukan nya dengan Devan.


“Kakak salah apa kok kamu kesal dan nyubit, yang rasanya seperti teriris pisau.” Goda Devan, dia bisa menangkap sinyal cemburu dari wajah kesal Meisya yang cemberut.


Membuat Meisya langsung tersadar akan tindakan nya, dia perlahan menarik kembali tangannya di genggaman Devan.

__ADS_1


 “Kenapa aku marah dan kesal begitu tahu jika ternyata Bunga juga melakukan hal yang sama, Meisya tolong kendalikan perasaanmu. Orang-orang pasti akan mencemooh dan menertawakan mu jika mereka mengetahui jika kamu jatuh cinta pada kakak angkat mu , dan cemburu pada calon kakak iparnya.”  Meisya perang bathin, antara ingin menolak perasaan cinta atau menyerah.


“Ditanyain malah bengong.” Ucap Devan tersenyum.


 Meisya tidak menghiraukan ucapan Devan lagi, dia melipat tangannya dan menjaga posisi duduknya agar tidak mendempet lagi pada Devan. Dia mulai fokus menyaksikan alur cerita film yang diputar.


Namun tidak dengan Devan, dia tidak nyaman dan mulai gelisah. Dia lebih suka jika yang bergelayut dan menentang lengan nya adalah Meisya bukan Bunga. Sehingga dia tidak dapat menikmati lagi film kesukaannya itu. Pikiran nya tertuju bagaimana supaya Meisya kembali mendempet pada tubuhnya.d an menggenggam tangan nya kembali.


Sementara sebelah nya lagi, Bunga seolah-olah enggan melepaskan tangannya dari lengan Devan. gadis yang sudah lama menjadi sahabat dekatnya itu terlihat nyaman.


“Ada apa denganku sekarang, aku bersikukuh dan berusaha untuk mengganggap Meisya sebagai adikku sendiri. Namun terkadang aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri, gadis kecil yang dulu aku sayangi sekarang sudah menjelma menjadi seorang gadis cantik. Senyum nya seakan mengikutiku dan memberikan semangat untuk ku menjalani hari-hari berasa disampingnya.


Tidak...aku harus bisa mengendalikan perasaanku ini, Meisya tidak mencintaiku. Dihatinya hanya ada Aldo, aku harus membentengi dariku dari perasaan yang salah Ini, karena saat ini Meisya tengah terluka sehingga dia butuh pelampiasan dan pelarian. Aku tidak boleh terhanyut dan terbuai, karena jika saatnya tiba Meisya Pasi akan kembali pada perasaannya dan Cinta nya semula.” Kata hati Devan.


“Iya Meisya, aku juga penasaran. Film ini seperti ngegantung penontonnya,” Bunga ikut mersa kecewa.


“Aku pengen kisah cinta pasangan pemeran utama itu bersatu, ini malah dihadirkan orang ketiga Kan kasihan.” Gerutu Bunga kembali.


“Cerita ini sedikit banyak menyinggung kehidupan pribadi ku, tapi kalau Meisya mending cari cowok  yang lain saja dari pada kembali pada laki-laki yang sudah berkhianat dan selingkuh,” Ucap Meisya sambil melirik Devan dengan sudut matanya.


Namun yang dilirik terlihat cuek, seperti sengaja mengabaikan Meisya. Sehingga membuat Meisya melonggos kesal memalingkan wajahnya kearah lain.


“Kenapa sih dengan sikap kak Devan? Kadang lembut dan hangat, namun cepat juga berubah dingin seperti es batu dan cuek padaku. Apa sih maunya?” gumam Meisya mengikuti langkah Devan yang duluan berjalan keluar dari gedung bioskop.

__ADS_1


Sementara Devan, dia sengaja membimbing tangan Bunga, dia berharap Meisya tidak memiliki perasaan lebih terhadap nya, apalagi jika menjadikan dia sebagai pelampiasan sakit hatinya terhadap Aldo.


“Silahkan masuk Bunga,” Devan membukakan pintu mobil untuk Bunga duduk didepan bersebelahan dengan nya. Sementara Meisya mengepalkan tangannya dongkol, meskipun dia berusaha untuk tersenyum, dan duduk dijok belakang mobil sendirian.


“Tahan dirimu dan belajar lah untuk mengendalikan perasaan cinta ini Meisya, kendalikan perasaanmu dan biarkan Devan bahagia dengan wanita pilihan nya. Meisya sadar diri lah, kamu itu seorang janda muda meskipun kamu masih perawan. Tapi Devan tidak mengetahui semua itu. Statusmu hanya lah seorang adik dihatinya tidak lebih.” Gumam Meisya dalam hati, sambil fokus menatap ke luar jendela kaca mobil. Memperhatikan jalanan ibukota yang basah habis di guyur hujan deras.


Devan sesekali memperhatikan wajah Meisya yang melamun, dia berfikir saat ini gadis itu, masih sedih pasca pertemuan nya kembali dengan mantan suaminya.


"Meisya, biarlah perasaan ini kakak simpan didalam hati saja," kembali melirik Meisya, yang sengaja memejamkan mata. merebahkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.


Sampai dirumah Bunga sengaja tidur satu kamar dengan Meisya, mereka saling ngobrol dan curhat tentang kehidupan masing-masing. Bunga juga mulai berterus  pada Meisya jika sebenarnya dia sudah lama jatuh cinta pada Devan.


"Bunga selamat istrahat ya." Ucap Devan.


"Iya mas," Ucap Bunga yang begitu bahagia mendapatkan perhatian dari Devan.


“Meisya, tujuan ku datang keindonesia ini Cuma igin mengejar cintanya mas Devan. Kami sudah lama menjalin persahabatan dan cukup dekat. Sehingga aku tidak bisa melirik laki-laki lain selain Cinta nya mas Devan. Meisya apakah kamu mau membantu ku,?” Bunga mengatup kedua tangannya mencoba untuk membujuk adik dari laki-laki yang dicintainya.


Lama Meisya terdiam, mencoba bersikap sewajarnya. sementara hatinya didalam sangat sedih dan terluka.


"Kenapa kisah cinta ku selalu berantakan, ya Tuhan. apakah aku tidak berhak mendapatkan cinta dari laki-laki yang aku Sayangi. rasanya begitu berat menerima kenyataan ini. aku jatuh cinta pada orang yang salah.


Cinta kenapa engkau singgah kembali, tak sanggup aku menahan rasa ini yang tersa menyiksa." gumam Meisya sambil memaksakan senyum terbaiknya.

__ADS_1


 


__ADS_2