
“Dasar kamu bang Aldo, kamu membelikan semua ini juga mengunakan uangku.” Gumam Gisel yang perang bathin dengan perasaan nya. Dia benar-benar muak melihat mantan suami bresengsek nya itu, namun demi membalaskan bsakit hati dan merebut kembali hartanya.
Gisella berusaha untuk memasang muka manis, dan membiarkan Aldo yang mulai berani menggenggam tangannya, sementara hati dan pikiran Gisella hanya tertuju pada kak Devan.
“Kak Devan sedang apa ya dia sekarang.?” Gisella mersa begitu merindukan pria itu, dan tidak seketika dia mersa tidak rela Aldo menyentuh tangannya. perlahan Gisella menarik tangan nya dari genggaman Aldo.
Begitu juga Devan, dia mulai resah setelah mengetahui Meisya sedang besama Aldo, kekhawatiran dan rasa cemburu membuat nya tidak tenang.
Devan mondar-mandir didepan teras utama, sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
“Kenapa Meisya belum juga kembali.” Gumam Devan. pikiran nya mulai berkecamuk dan dan resah jika Meisya dan Aldo akan melakukan atau sedang bercumbu mesra.
“Aaaaaggghh, aku bisa gila seperti ini.” Ucap Devan, dia melakukan mobilnya.
"Astaga, sekarang ulang tahun nya Meisya." gumam Devan, kemudian dia tersenyum senang karena dia sudah merencanakan kejutan kecil untuk adik kesayangannya itu.
Devan memesan kue ulang tahun berbentuk love, serta sebuah kalung liontin berbentuk belahan hati yang dihiasi Berlian.
"Kalung yang sangat bagus, semoga saja Meisya menyukai nya." gumam Devan kembali pulang.
__ADS_1
Giselle merasa lega, setelah sampai dirumah. dia melambaikan tangannya pada Aldo yang mengantarkan nya pulang.
“Daaa mas Aldo, terimakasih sudah mengajak Gisela jalan-jalan.” Sambil membawa belanjaan yang dibelikan oleh Aldo.
“Iya Gisel, selamat malam.” Ucap Arya sambil berlalu dihalaman luas rumah Gisella.
“Gisela, kamu benar-benar cantik. dan membuat ku jatuh cinta. tunggu sayang waktu yang tepat.aku akan menjadikan kamu milikku seutuhnya.” Gumam Aldo melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota.
Gisella langsung masuk kerumahnya, mencari sosok kak Devan.
"Kak....kak Devan...," Teriak Gisella langsung berlari kelantai atas karena tidak menemukan Devan dilantai bawah ataupun ruangan kerja tempat Devan biasanya menghabiskan waktu.
Meisya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia benar-benar merasa sangat bahagia dengan kejutan dari Devan, tanpa sadar air mata menetes disudut mata nya yang indah.
“Tiup lilinnya, eits... jangan lupa berdoa dulu. Kakak harap apapun yang kamu minta nantinya segera terkabulkan, amiiin.” Ucap Devan.
Meisya memejamkan matanya mulai berdoa.
“Ya Tuhan, aku hanya ingin bersama kak Devan selama nya, aku sangat mencintai nya.” Doa Meisya dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah meniup lilin-lilin kecil itu, Meisya dan Devan saling suap-suapan kue. yang tersa begitu nikmat karena dari tangan orang dicintainya secara langsung.
“Dek, kamu minta hadiah apa dari kakak?” tanya Devan.
“Mmmmhhhm, minta apa ya?” Ucap Meisya tersenyum senang, sambil memikirkan hadiah yang akan didapatkan nya.
“Meisya hanya ingin bahagia, dan kak Devan tidak pergi
meningalkan Meisya." ucap nya.
"Hanya itu?"
"Iya kak," balas Meisya.
Devan mengeluarkan kotak kecil, berwarna merah hati. yang membuat Meisya mengerutkan keningnya bingung bercampur bahagia, begitu melihat sebuah kalung liontin berbentuk belahan hati.
"Bagus banget kak." ucap Meisya ketika Devan memasangkan dileher indahnya.
"Tentu Meisya, karena kakak selalu ingin memberikan yang tebaik untuk mu." balas Devan.
__ADS_1
"Terimakasih kak." balas Meisya yang langsung memeluk Devan haru dan rasa bahagia mendapat kejutan yang paling indah dalam hidupnya.