Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Perubahan Aldo


__ADS_3

Sampai dirumah sakit, Aldo langsung mencari keberadaan Meisya, sambil menanyakan ruangan tempat korban pesawat. Setelah mendapatkan informasi dia langsung berlari menuju ruangan yang dimaksud.


“Meisya.” Ucap Aldo langsung menghampiri Meisya yang terhenyak dilantai.


"Mama..... papa.... jangan tinggalkan Meisya hu... hu...," tangis Meisya terus memangil kedua orang tua nya.


Tangan Aldo bergetar, dia membuka kain putih penutup tersebut, dia ingin mematikan secara langsung.


"Astaga," Aldo syok, yang terbujur kaku dihadapannya benar-benar kedua orang tua Meisya. Aldo ikut sedih menatap kedua orang tua Meisya yang telah pergi, semua tersa begitu mendadak.


“Meisya kamu sabar ya sayang,” membawa Meisya yang masih menangis kedalam pelukannya.


“Abang,” tetiak Meisya dengan Isak tangisnya yang tiada henti.


“ Sudahlah Meisya, Abang akan selalu bersamamu sayang.” Mengusap lembut punggung Meisya yang masih berguncang menangis diperlukan nya.


"Mama dan papa sudah Ngak ada lagi bang, mereka sudah pergi meninggalkan Meisya hu..hu...,"


"Meisya harus kuat dan sabar, biar Mama dan papa juga tenang di alam sana." bujuk Aldo.


Devan langsung syok begitu mendengar kabar mengenai kedua orang tua angkat nya, dia langsung mengambil penerbangan pertama agar segera sampai di indoneia. bagaimana pun juga kedua orang tua Meisya sangat berjasa bagi kehidupan Devan yang dulunya hanya anak jalanan yang terbuang. mereka merawat dan menyekolahkan Devan hingga sukses seperti sekarang.


"Mama...papa maaf kan Devan, karena terlalu sibuk sehingga Devan hampir tidak mempunyai waktu untuk kalian, hingga kalian berpulang pun Devan terlambat datang," Ucap Devan menyesali dirinya sendiri.


Pemakaman kedua orang tua Meisya berjalan hikmad, setelah sempat tertunda beberapa saat menunggu kedatangan Devan.


"Kak Devan," Meisya langsung menangis dipelukan sang kakak.


"Sudahlah dek, kita harus kuat menghadapi semua ini." bujuk Devan.


“Sabarya dek, kakak juga sangat sedih Atas kepergian kedua orang tua kita.” Mencoba menenangkan Meisya kembali.

__ADS_1


“Iya kak, tapi Mama dan papa begitu cepat meninggalkan kita semua, Meisya belum siap untuk kehilangan mereka berdua kak.” Ucap Meisya mengusap air mata nya.


Proses pemakaman itu diliput media, yang sedang hebohnya menyiarkan berita tersebut. Mereka juga meminta waktu untuk wawancara dengan Meisya ataupun Devan yang masih berduka, sehingga terpaksa Aldo didampingi mamanya Gea mengambil alih.


Seminggu berlalu, Meisya masih dirudung kesedihan mendalam. sebenarnya Devan tidak tega meninggalkan Meisya. karena dia melihat Aldo dan keluarga bukanlah orang baik-baik, namun dia tidak bisa juga mengutarakan keinginannya tersebut, mengingat mereka yang sudah menikah. terpaksa Devan memendam saja keinginan tersebut, dan berharap Meisya benar-benar bisa bahagia dengan laki-laki pilihan nya itu.


"Dek, kakak harus segera kembali ke Singapura. mengingat perusahaan kakak sedang membutuhkan kehadiran kakak disana. kamu baik-baik ya." pesan Devan sebelum dia berangkat.


"Iya kak, terimakasih atas perhatian kakak selama ini." Ucap Meisya sedih.


"Tentu dek, karena kamu adikku." balas Devan tersenyum.


Megingat kesibujanya, Devan yang menjabat sebagai seorang CEO muda, begitu banyak pekerjaan yang menyita waktunya. sehingga dia langsung pergi meninggalkan Indonesia, Sekarang tinggal lah Meisya yang kesepian dirumah yang cukup besar itu. Menjalani hari demi hari sendirian.


Sementara Aldo mulai jarang pulang kerumah dengan alasan yang sama, sibuk mengurus perusahaan dan perkebunan kelapa sawit milik keluarga Meisya yang sangat luas.


Aldo lebih banyak menghabiskan waktu bersama kekasihnya Sally, termasuk huru-hara dengan teman-temannya. dia juga sudah jarang memperhatikan Meisya, bahkan dia semakin alhi membohongi gadis polos itu.


"Aldo, kenapa wajahmu kusut begini nak, seperti jeruk purut saja," celetuk mamanya Gea.


"Iya ma, habis Aldo kesal banget tuch sama gorila," umpatnya kesal, sehingga mengatakan jika Meisya gorila.


"Memang dia menuntut apalagi?" Gea ikutan kesal.


"Dia selalu minta ditemani, bilang kesepian lah, itulah.. lama-lama Aldo bisa marah dan ninggalin tuch cewek." Ucap nya.


"Jangan sayang, ingat Aldo kita belum dapat setengah nya, cuma rumah mewah ini yang berhasil kamu buatkan untuk Mama dan papa. Aldo kamu harus bersabar dulu nak sampai kita mendapatkan banyak keuntungan dari wanita itu." bujuk Gea pada anaknya.


"Bagaimana caranya ma, Aldo sudah mulai bosan untuk membujuknya." balas Aldo.


"Begini saja, alasannya Meisya dia cuma kesepian. biar Mama dan papa pindah saja kerumah besar dan mewahnya itu. sehingga dia tidak akan kesepian lagi. kamu juga bisa bebas sesuka hatimu nantinya." bujuk Gea.

__ADS_1


"Ide Mama bagus juga," mereka berdua tertawa lepas.


"Mama Ngak sabar lagi, tinggal dirumah yang seperti istana itu nak." gumam Gea menerawang.


 


Sorenya, Aldo kembali pulang. kali ini dia akan mengumpulkan jurusan andalan nya untuk membujuk Meisya, agar mengizinkan kedua orang tuanya tinggal dirumah besar keluarga Meisya.


“Meisya sayang, bagaimana apakah kamu setuju, jika keluarga Abang pindah kerumah kita ini ?” bujuk Aldo.


 "Maksud Abang?"


"Yah, biar kamu ada temanyanya, dan Ngak akan kesepian lagi. mengingat Akir-akir ini Abang begitu sibuk."Ucap Aldo.


“Meisya setuju bang, dan sangat Senang karena Meisya tidak kesepian nantinya.” Ucapnya, meskipun dia hanya ingin Aldo yang selalu disisinya meskipun itu waktu pulang kerja. Namun keinginan nya itu terpaksa diredam karena menurutnya Aldo bekerja keras demi dia dan perusahaan peninggalan papanya.


Kehadiran keluarga Aldo, dirumah besar sedikit banyak membuat Meisya tidak kesepian lagi, karena adik perempuan Aldo yang bernama Bella dan papa Aldo sangat baik dan perhatian padanya, beda dengan mamanya Gea yang lebih suka shoping dan meminta satu persatu perhiasan peninggalan mamanya.


"Masya Allah Meisya, Kalung ini benar-benar indah....Mama sudah lama menginginkan Kalung Berlian ini nak, Meisya... Mama boleh pinjam ya nak." mencoba membujuk Meisya.


"Tapi ini Kalung kesayangan Mama ku," Ucap Meisya ragu.


"Sayang, Mama kan cuma minjam doang. masa sama mertua sendiri saja pelit." Ucap gea.


Meskipun keberadaan namun Meisya bisa apa, karena Mama Gea pasti akan mengadu pada Aldo. Sehingga Aldo akan meminta Meisya untuk memberikan nya.


 Meskipun waktu terus berputar, namun Meisya masih belum bisa melupakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Dan dia masih larut dalam lesedihan panjang, ditambah lagi perlakuan dan sikap Aldo yang juga mulai menunjukkan perubahan. Dia sering marah-marah tidak menentu, jarang pulang bahkan untuk menyentuh Meisya dia seolah-olah engan.


Begitu juga dengan Gea, rumah yang dulunya tenang dan bersih. sekarang seperti di neraka. Meisya mulai mersa tidak betah tinggal dirumahnya sendiri.


 

__ADS_1


 


__ADS_2