Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Mengikuti Bunga


__ADS_3

"Silahkan Bunga, jika butuh apa-apa silahkan hubungi aku secara langsung." Frans menyerahkan No ponsel pribadinya. yang tidak sembarangan orang mengetahui No ponsel tersebut.


"Oh, terimakasih mas. saya rasa tidak perlu, karena di kantor ini juga sudah ada pihak keamanan, dan tempat khusus bagi karyawan yang ingin melaporkan permasalahan nya." Bunga mencoba menolak. dan memberikan kembali pada Frans, Bunga juga melihat Zerzio tengah memperhatikan dirinya melalui ruangan nya.


"Dikantor ini, Anda tidak bisa menolak apa yang sudah diperintahkan oleh Presdir, termasuk memilih Anda sebagai karyawan wanita yang beruntung mendapatkan perhatian khusus dari nya." terdengar Suara Frans yang penuh penekanan dan dingin.


Emosi Bunga sedikit terpancing, namun dia segera menguasai keadaan.


"Ooo, begitu ya mas, baiklah saya akan menyimpan baik-baik No ponsel ini." ucap Bunga meninggalkan gedung perusahaan dengan kesal.


***


Minggu pagi, Bunga berjalan pelan menuju minimarket elite, yang terletak tidak terlalu jauh dari lokasi Apartemennya, sehingga dia tidak membutuhkan kendaraan. kawasan ini juga dipadati para pejalan kaki lainya, yang merupakan karyawan beberapa perusahaan di sekitar lokasi tersebut.

__ADS_1


Bunga Memilih beberapa susu formula untuk Devano, serta kebutuhan untuk satu bulan kedepannya. dia harus mengirit pengeluaran mengingat saldo tabungan yang tinggal tidak seberapa lagi. menjelang gajian pertama nya.


"Meisya, Devan. ternyata mereka sudah hidup bahagia dan mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik, semoga kalian selalu hidup bahagia selamanya." Bunga menatap sedih pasangan berbahagia itu, dan memakai masker agar Devan dan Meisya tidak mengenali dirinya.


"Aku malu untuk bertemu dengan kalian berdua, coba saja dulu aku Mampu mengendalikan diriku dan emosi ku, sehingga kejadian buruk malam itu tidak menimpali. tapi semua sudah terlambat nadi sudah menjadi bubur, dan aku juga sudah mendapatkan kebahagiaan ku bersamamu putraku Devano." gumam Bunga berjalan menuju kasir.


Bunga segera pergi untuk membayar, dia merasa sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai di apartemen, bertemu dengan putra kecilnya yang selalu membuatnya rindu dan bermanja-manja.


Bunga menghentikan langkahnya, ketika merasa ada seseorang yang terus mengikutinya. namun saat dia memastikan kembali, tidak ada hanya beberapa orang penghuni unit apartemen lainya.


"Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja." gumam Bunga melanjutkan perjalanan menuju lift. menuju kamar apartemen, sambil memangku belanjaan didadanya seolah-olah memeluk. dia hanya fokus pada dirinya sendiri, tanpa menoleh pada tiga orang penghuni lift yang ikut menyerobot masuk.


Bunga melirik ponselnya, sambil memainkannya. namun dari belakang seseorang dengan sengaja terus mendempet ketubuhnya. dengan aroma parfum yang sangat dikenal oleh Bunga. namun dia segera menepis rasa curiga dan penasaran nya.

__ADS_1


" Tidak mungkin Zerzio." Bunga menggeser tubuhnya agak kesamping, tanpa menoleh kearah orang tersebut.


Semakin Bunga menghindar, orang itu terus mengikutinya pergerakan nya. membuat Bunga mau tidak mau menoleh. yang langsung membuat nta terlonjak kaget. namun kembali bersikap biasa.


"Presdir," menyapa sambil menunduk hormat.


Zerzio tersenyum membalas sapaan Bunga, sementara Frans nya. berdiri agak menjauh dari mereka berdua. sambil sibuk dengan ponsel nya sendiri.


"Tuhan kenapa lift ini terasa begitu lama." Bunga mulai resah, karena merasa lift yang dimasuki seolah-olah mati. dan tidak bergerak.


"Cantik kenapa wajahmu terlihat ketakutan seperti itu, aku tidak akan menganggu mu. bahkan aku disini akan menawarkan sebuah kerja sama untukmu." Zerzio terus memepet Bunga hingga tersandar dinding lift. jarak mereka sangat dekat.


"Maaf Presdir, tolong jaga sikap Anda." Bunga berusaha mendorong tubuh Zerzio agar menjauh, namun tenaganya kalah banyak. sementara Frans seakan tutup mata dan telinganya.

__ADS_1


__ADS_2