
Bertepatan dengan Bunga, yang juga telah membawa kompresan untuk Meisya, langkah Bunga langsung tercekat didepan pintu, menyaksikan kelembutan sikap Devan memegang tangan Meisya dan pandangan keduanya yang terlihat saling menyayangi satu sama lain.
“Tidak, tidak. aku tidak boleh berprasangka buruk. Mereka berdua adalah saudara, buang jauh-jauh pikiran buruk dan cemburu mu Bunga.” Mencoba mengendalikan perasaannya.
“Mmmhhh” Bunga mendehem pelan, seketika Devan melepaskan tangannya dari tangan Meisya, keduanya terlihat salah tingkah. Bunga melangkah masuk dengan telaten Bunga mengompres kepala Meisya.
“Kak Bunga benaran hari ini balik ke Singapura,?” tanya Meisya berusaha untuk duduk.
“Sebenarnya iya Meisya, tapi melihat mu seperti ini aku jadi bimbang dan ragu untuk balik,” Jawab Bunga.
“Kak Bunga aku ngak papa kok, lagian ada kak Devan yang akan menjagaku,” ucap Meisya melirik sekilas Devan yang duduk disampingnya.
“Iya Bunga, kamu tidak perlu khawatir. Aku pasti akan menjaga adikku satu-satunya ini dengan sangat baik, karena aku juga paham pekerjaan mu sebagai dokter jauh lebih mulia dan sangat membutuhkan kehadiran mu segera” Terang Devan agar Bunga teringat kembali akan tugas mulia nya.
“Iya mas, aku besok juga ada pertemuan penting dengan seluruh dokter dirumah sakit tempat aku mengabdi, Meisya maafya jika aku tidak bisa menjagamu disaat seperti ini.” Menatap Meisya dengan rasa bersalah.
“Ngak papa kok kak, nanti jika kakak punya waktu liburan lagi. Kak Bunga kesini lagi atau Meisya yang akan menemui kakak kerumah kak Bunga.” tersenyum kearah Bunga.
“Baiklah, Oya aku harus segera kebandara.” Bunga melirik jam tangannya, penerbangannya jam sepuluh pagi ini, sementara jam sudah menunjukkan sembilan lewat dua puluh lima menit.
“Bersiaplah, aku akan mengantarkan mu segera.” Ucap Devan.
“Meisya sayang kakak pulang dulu ya,” memeluk dan mencium sayang pipi sebelah kanan Meisya. begitu juga dengan Meisya dia melakukan hal yang sama dengan Bunga.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Bunga terlihat sedih. berat rasanya bagi Bunga untuk berpisah dengan Devan, laki-laki tampan itu sudah berjanji untuk belajar mencintai nya juga. sekarang mereka harus melalui hubungan jarak jauh, perlahan Bunga mengusap cairan bening yang menetes di pipinya.
Tangan Devan menggenggam tangan Bunga, seolah-olah memberikan kekuatan dan keyakinan pada Bunga, senyum manis mengembang disudut bibirnya mendapatkan perlakuan istimewa itu. Bunga menggeser posisi duduknya agar lebih berdekatan, tanpa malu dan canggung lagi Bunga merebahkan kepalanya di bahu Devan sambil memeluk erat lengannya.
Bunga mersa begitu damai dan bahagia, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena kesibukan masing-masing dan jarak yang memisahkan, sehingga jarang bagi Bunga untuk dapat bermesraan dan berduaan seperti ini.
__ADS_1
Mobil sudah memasuki pelataran parkir bandara internasional yang sangat luas, saat Devan bersiap hendak turun. tangan Bunga mencegat tangan Devan.
“Tunggu mas,” ucap Bunga memberi kode agar Devan kembali menutup pintu.
“Cup,” sentuhan bibir lembut dan kenyal Bunga menyentuh kulit bibir Devan, Bunga menyingkirkan rasa malu dan memberanikan dirinya mencium bibir Devan. Mengingat Devan yang terlihat pasif tanpa ada inisiatif untuk bermesraan dengan nya.
Arya yang semula kaget mendapatkan serangan tiba-tiba dari Bunga, sangat gugup tapi dia tidak bisa mengelak, Devan tidak ingin sahabat nya ini terluka, meskipun dihatinya kurang menginginkan hal ini. Karena pikiran dan hati Devan teringat Meisya. Seketika dia menyudahi ciumannya, terlihat raut kecewa dan sedih dari wajah cantik Bunga.
“Aku pergi dulu ya mas,” ucap Bunga saat mulai menginjak kan kakinya masuk untuk melakukan cek in, Devan tersenyum sambil membalas lambaian tangan Bunga.
"Selamat jalan Bunga, hati-hati ya." balas Devan.
“Aku tahu mas hati dan cinta mu belum sepenuhnya untuk ku, namun aku akan berusaha menjadi kan aku wanita satu-satunya yang akan memiliki cinta dan kasih sayang mu sepenuhnya.” Gumam Bunga sedih.
Sedangkan Devan langsung menuju kembali ke Mobilnya, setelah melihat kepergian Bunga.
“Aku harus segera balik pulang kerumah, kasihan Meisya sendirian.” Gumam Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Cekklek.....ada apa bi?" Ucap Meisya menahan tubuhnya yang tersa pusing.
"Dibawah ada Tuan Aldo, dia ingin bertemu dengan Non Meisya." Ucap pelayan.
"Aldo?"
Ucap Meisya merasa dikejutkan pagi ini, saat Sorang pelayan wanita nya mengatakan jika Aldo berkunjung kerumah nya. sekarang sedang menunggu di ruang tamu.
“Bilang saja aku lagi tidak enak badan dan butuh istirahat banyak,” ucap Meisya yang sedang malas untuk bertemu kembali dengan mantan suaminya itu, karena cuma Devan yang dibutuhkan Meisya saat ini.
Pelayan wanita itu kembali kebawah menemui Aldo.
__ADS_1
“Maaf Tuan Aldo, Non Gisella sedang tidak enak badan dan butuh istirahat.” Ucap pelayan.
“Apa? Gisella sakit?” Aldo terlihat kawatir dan panik.
“Apa aku boleh melihat nya sebentar saja,” Aldo langsung menuju kamar Gisella anpa mendengar jawaban pelayan itu.
“Tapi, Eh tunggu.. tunggu Tuan. Anda tidak boleh nyelonong begitu saja.” Teriaknya mengikuti langkah Aldo dari belakang.
“Tok...tok... Gisella, apa aku boleh masuk melihat keadaanmu sebentar saja?” tanya Aldo.
“Itukan suara bang Aldo, untuk apa dia masih disini,” ucap Meisya kesal, karena sudah memerintahkan pelayan untuk menyuruhnya pulang. namun Gisella kembali teringat misi balas dendam nya yang baru saja dimulai.
"Sabar dan tenangkan dirimu Gisella." Ucap nya sambil menghembuskan nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, Gisella kembali berusaha untuk bersikap manis.
“Silahkan mas,” terdengar sahutan Gisella dari dalam.
Ceklek, pintu terbuka. Senyum Aldo mengembang sempurna. Matanya tertuju pada Meisya yang tengah memperbaiki posisi tidur nya.
“Gisela, apa benar kamu sakit?” Aldo terlihat sangat kawatir, dia duduk disisi tempat tidur. sebelah tangannya terangkat keatas, ingin menyentuh kening Meisya.
“Ngak kok mas, Cuma pusing dikit paling karena efek kesibukanku akhir-akhir ini.” Terang Gisella mencoba menghindari sentuhan tangan Aldo, menolak secara halus pria yang dulu pernah membuat nya tergila-gila.
Ponsel Aldo seketika bergetar, tanda panggilan masuk dari Sally. segera dia merogoh ponsel yang tersimpan di saku dan mematikan panggilan ponselnya tersebut.
“Kok ngak diangkat mas?”
“ Tidak penting, karena aku sudah capek melayani Sally yang begitu terobsesi untuk mendapatkan cinta dan perhatian ku.” Ucap Aldo kembali menyimpan ponsel itu.
"Pintar sekali kamu bersandiwara mas, bukan kah kamu juga tergila-gila pada Sally dulunya." gumam Meisya yang semakin jengkel melihat Aldo.
__ADS_1
“Aku mulai bosan dan gerah menghadapi sikap Sally, termasuk cinta butanya. Semenjak dahulu dia begitu terobsesi terhadapku, meskipun dia tahu jika saat itu aku telah menikah dengan Meisya. Mantan istri ku dulu.” Ucap Aldo tanpa ada rasa bersalah sedikitpun diwajahnya, sehingga Meisya yang dianggap nya Gisella itu terlihat geram. Seandainya dia punya jurus mencakar harimau, ingin dia mencakar- cakar wajah Aldo saat ini.