Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Suara petir


__ADS_3

Devan terus berusaha menyeret langkah. suasana yang gelap dan temaram, ditambah lagi dengan rasa capek dan kwartir mereka berdua sehingga suasana disekelilingnya tidak begitu diperhatikan lagi.


“Tidak Meisya, kita harus segera meninggalkan lokasi ini.” Teriak Devan sambil membimbing menaiki tumpukan dus yang hampir menggunung dan bersembunyi diantara barang-barang tersebut.


Rasa capek karena habis berlarian, membuat keduanya terlelap, entah berapa lama mereka tertidur, dan tidak menyadari jika tumpukan kardus itu berada di atas mobil lori besar yang mengangkut dus- dus tersebut menuju salah satu daerah.


Meisya tertidur diatas lengan Devan yang menyangga kepala nya sendiri. keduanya seperti menikmati pergerakan mobil yang mengangkut mereka hingga sudah berjalan jauh meninggalkan lokasi mereka semula.


Tiba-tiba Meisya terbangun, diliriknya Devan masih tertidur pulas disampingnya. melihat hal itu Meisya tidak tega untuk membangunkan, gadis itu kembali merebahkan tubuh disamping Devan dan menatap langit yang gemerlap dengan cahaya bulan dan bintang yang seolah-olah berlomba-lomba memberikan cahaya mereka.


Seperti tersadar dengan apa yang terjadi, Meisya menyipit kan mata untuk mempertajam penglihatan nya, karena merasa langit yang dipandangnya bergerak, termasuk tubuh mereka seperti sedang berada diatas mobil.


Seketika Meisya langsung panik, dia berdiri untuk memastikan posisi dan tempat keberadaan nya.


“Aaaaaaaaggh tidak...., tidak.” Teriak Meisya histeris, membuat Devan terbangun melirik kearah Meisya yang terlihat sangat syok.


“Kenapa kamu berteriak begitu kencang, apa kamu mau mereka menemukan tempat persembunyian kita.” bentak Devan.


“Kak Devan, lihatlah kesini. Mereka tidak akan mampu menemukan kita.” Ucap Meisya, memberi kode dengan bahasa tubuhnya, agar Devan mendekati nya yang berdiri sambil berpegangan pada sebuah besi yang melintang.


Devan mendekati Meisya dengan rasa penasaran nya, namun dia tiba-tiba pingsan begitu menyadari posisi keberadaan mereka yang ternyata diatas sebuah truk besar yang berisikan tumpukan dus.


"Tidak.....ini tidak mungkin." ucap nya.

__ADS_1


“Kak Devan banguuun,” teriak Meisya cemas sambil berusaha untuk menguncang keras tubuh Devan. hingga membuat Devan kembali tersadar dan membalas tatapan Meisya yang terlihat sangat cemas.


“Meiasy sekarang kita harus bagaimana?” tanya Devan setelah tersadar, dia terlihat kawatir sementara mobil besar dan panjang itu terus membawa mereka menelusuri jalan yang belum Meisya dan Devan ketahui keberadaan nya.


“Meisya juga bingung kak, semua ini kesalahanku hu...hu...coba saja aku tidak ngeyel mengikuti kak Devan sampai masuk kedalam Club. Mungkin sekarang kita masih bisa tersenyum dan tertawa bahagia dirumah.” Meisya sangat menyesal dan merutuki kebodohan nya.


“Sudah lah Meisya, kakak juga bersalah mmeninggalkamu dirumah. coba saja waktu itu kakak langsung mengajakmu untuk ikut mungkin kita sekarang tidak terjebak ditempat ini.” terang Devan.


Mereka berdua saling menyalahkan dirinya dan keadaan, tiba-tiba ucapan keduanya terhenti ketika merasakan pergerakan mobil berhenti, Devan bertindak cepat mengajak Meisya segera untuk meloncat turun, saat melihat truck besar itu berhenti membeli minuman.


“Cepat Meisya dan hati-hati,” ucap Devan sambil berusaha menuntut tubuh Meisya yang ketakutan, Devan berhasil meloncat terlebih dahulu turun. sementara Meisya masih terlihat ragu untuk melompat turun dari ketinggian.


“Ayolah Meisya lompatlah, jangan takut aku akan menangkap mu,” Devan Semakin panik saat melihat sopir dan keneknya sudah mulai masuk ingin melanjutkan perjalanan mereka kembali.


“Lompatlah Meisya, kita sudah tidak mempunyai waktu lagi.” Devan merentangkan tangannya kearah Meisya, tanda-tanda dia sudah sangat siap untuk menangkap tubuh mungil Meisya.


Meisya memejamkan matanya, berharap rasa takutnya bisa berkurang. Mulut gadis itu komat-kamit membaca doa agar terlindungi.


“Satu...., Dua...., Tiga.... brugghhh,” Meisya melompat turun seiring truk yang mulai berjalan pelan.


“Aaaagghhh aduuuuuh sakiiit kak,” teriak Meisya yang berhasil ditangkap oleh kedua belah tangan nya, namun mereka berdua kehilangan keseimbangan. hingga keduanya jauh berguling di tanah.


Devan segera bangkit, begitu dia menyadari telah menindih tubuh Meisya dari atas.

__ADS_1


“Maafkan kakak Meisya, kamu ngak papa kan,?” Devan membantu Meisya untuk berdiri dan berjalan agak ketepi jalan. suasana disekelilingnya masih terlihat gelap, Devan mengeluarkan ponsel dari saku celananya yang udah retak karena benturan keras saat mereka jatuh barusan. sementara Meisya tidak tahu lagi dimana keberadaan ponselnya.


“Ngak papa kok kak.” Balas Meisya berusaha menyembunyikan jika kakinya sebelah kiri pasca operasi dulu tersa perih.


“Kita harus meminta pertolongan, segera meninggalkan tempat ini,” Devan menggeser layar ponsel nya, dan mencoba menyalakan nya.


“Syukurlah, ternyata ponselku masih bisa digunakan .” Gumam Devan


yang langsung menghubungi asisten nya, namun tidak ada balasan mengingat sudah larut malam yang sudah menjelang pagi, akirnya Devan mengajak Meisya memasuki bangunan kosong tanpa penghuni, dia membuka jacketnya dan untuk dijadikan alas bagi Meisya tidur sampai pagi menjelang.


Meisya merebahkan tubuhnya, sementara Devan memilih duduk mencoba menghubungi kembali sopir pribadinya dan mengirim alamat keberadaan nya. yang sudah sangat jauh dari kota asal mereka.


“Aaaahhgg,” teriak Meisya kaget saat mendengar suara petir yang sangat kencang, dia terlihat sangat ketakutan dan langsung menghambur dalam pelukan Devan. seiring hujan lebat turun membasahi bumi.


“ Tenanglah Meisya, kakak akan selalu bersama mu,” membalas pelukan hangat Meisya. hingga Meisya kembali tenang, namun dia belum merenggangkan pelukannya. Perlahan Devan membaringkan tubuh Meisya untuk kembali tidur dan ikut juga berbaring disebelahnya.


Devan mersa sangat tersiksa dengan perlakuan dan suasana mereka saat ini, sesuatu dibawah sana terus meronta membuat Devan mersa pisak celananya tersa sempit dan sesak.


Devan berusaha mengendalikan diri, dan mencoba untuk berfikir secara jernih. Sambil memejamkan matanya berharap bisa tertidur menjelang pagi dan hujan segera reda kembali.


“Kak Devan,” ucap Meisya sambil memeluk erat tubuh Devan dari samping, perlahan Devan membalas pelukan Meisya, dia mersa sudah diambang batas kesabaran dan gairah nya yang terus menggebu.


Devan mendekat kan bibirnya pada bibir mungil Meisya, mulai mencium lembut dan perlahan berharap Meisya tidak marah dengan aksinya. namun tanpa Devan duga, Meisya melakukan hal sama. Dia mulai membalas ciuman lembut dan memainkan lidah Devan. membuat Devan memperdalam ciumannya. seakan-akan dia tidak ingin mengakhiri ciuman yang terasa begitu memabukkan dan sangat manis.

__ADS_1


Tangan Devan dan Meisya seakan tidak mau diam, semakin ditahan permainan ini semakin nikmat. Ciuman demi ciuman hangat mereka terus berlanjut, sebelah tangan Devan sudah mulai ingin membuka kancing baju Meisya satu persatu, tapi tiba-tiba aksi mereka terhenti ketika mendengar suara petir yang menyambar sangat keras, hingga hampir merobohkan tempat mereka berteduh, seakan-akan alam tidak mengizinkan perbuatan mereka berdua.


__ADS_2