
"Ayo kalian makan dan minumlah sepuasnya, malam ini aku yang traktir kalian semu," teriak Aldo dihadapan teman-teman nya.
"Ha... ha.... terimakasih Aldo." balas teman-temannya senang.
Aldo mersa hidupnya sangat bebas dan banyak uang, karena selama ini dia berfikir jika Meisya hanya menjadi bebannya, pria itu seakan terlihat seperti kacang yang lupa kulitnya, kemana-mana dia selalu bersama Sally. Menghabiskan waktu dan malam panjang mereka. dia juga jarang pulang dan mengurus Perusahaan peninggalan orang tua Meisya.
"Pa, ma. rasanya Bella Nggak betah tinggal dirumah ini. ini bukan tempat kita dan kita tidak berhak tinggal dirumah ini lagi," Ucap Bella.
"Bella kamu jangan bodoh, ini sudah menjadi milik kita nak. Meisya tidak mempunyai siapa- siapa lagi selain Aldo suaminya yang mewarisi semua harta kekayaan nya ini." terang Gea.
"Ngak ma, bukan begini caranya. tanah makam kak Meisya masih basah tapi Mama dan kak Aldo sudah berpesta ria, bahkan menghambur-hamburkan kan uangnya. kalian tidak bersedih dan kehilangan sedikit pun atas kepergian nya." Ucap Bella tiba-tiba menangis.
"Kami sefih kok Bella, tapi Mama dan kak Aldo mencoba menerima dan tidak larut dalam kesedihan. karena semua itu tidak akan mengubah keadaan." Mama Gea berusaha membela dirinya.
"Tidak ma, aku tahu Mama dan kak Aldo senang kak Meisya pergi selamanya. pokoknya Bella ingin kita pindah kerumah kita yang dulu. kita disana hidup sederhana dan bahagia." Ucap Bella.
"Ha...Ha.... bahagia dari Hongkong, dengan gaji papamu sebagai buruh cukup untuk menyamambung hidup kita dari bulan ke bulan kamu bilang bahagia, bahagia tinggal dirumah kecil dibandingkan istana semewah ini. dasar anak bodoh." Gea sangat marah, tubuhnya bergetar menahan emosi dan pergi begitu saja meninggalkan Bella dan suaminya yang dirasanya sok suci dan bersih.
Bella dan papa mencintai Meisya dengan tulus, dan bahkan mereka menentang sikap Mama dan Aldo baik secara langsung maupun tidak. Namun semua itu tidak memberikan pengaruh pada Aldo dan Mama. Karena mata hati mereka sudah dibutakan ambisinya dan harta.
"Papa, apa sebaiknya kita pergi saja dari rumah ini?" Ucap Bella.
"Iya nak, papa setuju. sebaiknya kamu kejadian semua barang-barang mu. kita pindah sekarang." Ucap papa.
Siang ini papa dan Bella sudah memutuskan untuk pergi dari rumah besar Meisya yang sangat mewah, Bella tinggal diasrama sekolah, tempat yang dirasa nyaman tanpa melihat kebusukan keluarga nya sendiri. Sementara papa memilih tinggal dirumah sederhana mereka dulu, dia juga memilih meninggalkan Mama dan Aldo.
Mama Gea mengusap air mata nya sedih, Melihat anak perempuan dan suaminya yang lebih memilih hidup sederhana.
__ADS_1
"Aku seperti ini hanya demi kalian anak-anak ku, Mama ingin kita hidup tenang tanpa kekurangan lagi, Bella kamu salah menilai Mama nak." Ucap Gea yang hanya bisa melepaskan kepergian anak dan suaminya, tanpa sanggup mencegat mereka.
Di Negara asing ini, Meisya masih larut dalam kesedihan, rasa rindu dan Cintanya kepada Aldo semakin menyiksa gadis itu. Meisya ingin sekali untuk segera kembali pulang. Dia yakin sekali jika Aldo pasti sedang menunggunya dirumah. Setelah melihat Devan, kakak angkatnya itu pergi kekantor. Meisya pun berinisiatif untuk kabur dari rumah besar ini. namun dia mersa seperti tahanan karena setiap pintu pagar sudah terkunci rapat, Seolah-olah Devan sengaja melakukan nya.
"Kak Devan, aku bisa gila terkurung disini....hu...hu... Meisya pengen pulang kak...," Ucap Meisya disela isak tangisnya.
Devan segera bersiap pulang, begitu mendapatkan laporan dari pelayanan jika Meisya tengah bersedih kembali. dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. hari ini Devan berniat untuk menghibur adik angkat nya itu dengan mengajaknya jalan-jalan.
"Aku harus menghibur Meisya, dan memberikan nya perhatian khusus agar dia tidak terlalu larut lagi dalam kesedihan nya." gumam Devan.
Dirumah Meisya berhasil kabur, dia telah menyiapkan surat-surat dan paspornya dan segera memesan tiket penerbangan Menuju Indonesia.
Untuk menjaga keselamatan nya, Meisya memakai kerudung dan masker. dia pergi kebandara Dan lang memesan tiket penerbangan pertama. dia sudah tidak sabar lagi ingin segera kembali pulang.
Devan marah besar, begitu sampai dirumah Meisya sudah tidak ada lagi.
"Kalian tidak becus, menjaga satu wanita saja masih saja terkecoh. padahal Meisya itu tubuhnya besar. kenapa kalian tidak melihat dia yang kabur melompat pagar." bentak Devan.
Semua menunduk, tidak bisa membela dirinya saat Devan memutar cctv, nampak Meisya yang kabur menaiki taxi.
"Maaf tuan, kami pikit dia tertidur begitu habis menangis tadi." Ucap pelayan.
Devan langsung naik ke mobil nya dan memerintahkan orang-orangnya untuk segera mencari Meisya dibandara, namun terlambat gadis itu sudah naik pesawat menuju Indonesia.
__ADS_1
"Aaaahhk sial," umpat Devan emosi.
Sampai dibandara, Devan juga langsung memesan penerbangan menuju Indonesia, dia sangat mencemaskan dan mengkhawatirkan keselamatan Meisya saat ini.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap mu dek." gumam Devan.
Meisya menarik nafas lega dia sangat bahagia begitu menginjakkan kakinya kembali ketanah kelahiran nya.
Meisya langsung menaiki taksi yang sudah dipesannya terlebih dahulu. Taxi melaju menuju tempat kediaman Meisya sendiri. Saat sampai didepan gerbang pintu utama. Meisya meperhatikan dari dalam mobil nampak Bendera kuning, tanda jika ada yang baru berpulang. suasana rumahnya terlihat ada yang mengadakan pengajian, didepan gerbang utama itu juga berjejer karangan bunga belasungkawa atas meninggalnya Meisya Kinari. Yaitu dirinya sendiri.
"Ya Tuhan, begitu mudahnya bang Aldo dan keluarganya menyatakan jika diriku telah meninggal dunia. Tanpa mencari keberadaan ku terlebih dahulu." Meisya mengusap air matanya.
"Aku dinyatakan meninggal beberapa hari yang lalu, berarti ini malam ketujuh kepergian ku." gumamnya.
"Tidak jadi turun neng?" Ucap sopir taxi.
"Kita ke hotel saja pak," Ucap Meisya, dia pun memesan tempat penginapan untuk bersembunyi sementara waktu.
Seminggu dihabiskan Meisya dengan menangis meratapi kekecewaan pada Aldo, sambil menatap pantulan wajahnya di cermin besar kamar hotel itu.
"Aku benar-benar jelek hu....hu....wajahku sekarang sudah bertambah rusak pasca kecelakaan itu, belum lagi dengan bentuk tubuhku yang tidak ubahnya seperti balon terbang." Meisya meratapi bentuk tubuhnya yang gendut, bahkan lehernya sendiri sudah hampir tidak kelihatan oleh lemak yang semakin bertambah.
Selama di indoneia, Devan sengaja mengambil tempat penginapan yang bersebelahan dengan Meisya, tanpa memberitahukan adik angkat nya itu, Devan ingin melihat sejauh mana Meisya bertahan dengan cinta nya yang buta serta kekerasan hatinya yang masih bersikukuh mencintai Aldo.
Devan juga terus mengawasi Meisya, meskipun kadang dia khawatir melihat Meisya yang lebih sering mengurung dirinya dikamar hotel.
__ADS_1