
“Oooo, jadi mama mulai menyalahkan ku sekarang. Ingat ma!!! Kamu dan Aldo bisa menikmati harta seperti ini berkat bantuan ku juga yang telah melenyapkan Meisya, kalian berdua seperti kacang lupa kulitnya.” Terang Sally emosi.
“Aku tidak pernah menyuruh mu untuk melenyapkan Meisya, aku Cuma membantu mu membuat nya agar jera dan tidak mencari-cari Aldo terus. Sehingga kalian bisa bebas berhubungan,” Ucap Gea.
“Tapi Mama dan Aldo mendapatkan lebih banyak keuntungan, dari kepergian Meisya, ingat itu.” Terang Sally.
"Aku ingat, aku dan anakku Aldo juga tidak pernah memungkiri jika kami hanya menginginkan harta Meisya,” Ucap Gea.
"Kalian ibu dan anak yang sama-sama bejad." Sally menunjuk wajah Gea emosi.
"Kamu lah yang lebih bejad, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan mu. bahkan Aldo bisa memenjarakan mu jika dia mengetahui dan mendapatkan bukti kejahatan mu yang telah melenyapkan Meisya istrinya." Ucap Gea dengan tubuh bergetar menahan emosi.
"Apa? memenjarakan aku, ha....ha.....sama saja dengan kamu bunuh diri perempuan tua, ingat kita melakukan nya berdua. dan aku tidak akan membiarkan kalian bebas begitu saja." Sally tertawa lepas.
“Hey Sally, perusahaan bangkrut juga atas ulahmu. yang ikut menghambur kan dan berfoya-foya dengan uangnya Meisya. Selama ini Aldo selalu memenuhi keinginanmu. Jadi kamu jangan menyalahkan aku dan Aldo saja. Karena kamu juga terlibat dalam memakai uangnya Meisya.” Pertengkaran antara Sally dan Gea semakin memanas dan saling menyalahkan satu sama lainnya.
"Pokoknya, aku tidak akan rela jika kalian bahagia diatas penderitaan ku,." terang Sally yang terus adu mulut dengan Gea.
Sementara Dikafe, kedekatan Gisella dan Aldo mulai terjalin. Obrolan ringan sudah mengantarkan pada perbincangan hangat mereka.
“Jadi selama ini kamu menghabiskan waktu dan tinggal diluar negeri.” Ucap Aldo menatap kagum Gisella, wanita muda yang sukses. Dia mulai membanding-bandingkan dengan tunangannya Sally.
__ADS_1
“Untunglah aku belum sempat menikahi Sally, kalau tidak dia bisa menjadi penghalang bagiku untuk mendekati Gisella, dan mendapatkan cinta Gisella yang begitu cantik dan kaya raya ini.” Aldo perang bathin dengan perasaannya sendiri, sambil terus menatap Gisella.
“Iya mas, aku juga mempunyai salah satu perusahaan besar di Singapura.” Jawab Gisella sengaja memancing Aldo, ampuh membuat laki-laki itu semakin terpesona.
“Apa bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan minyak kelapa sawit juga.?” Tanya Aldo lagi.
“ Tidak, di Singapore Bergerak dibilang otomotif yang sedang dikelola asisten ku Juna. sedangkan dimalaisia dan diindonesia. baru perkebunan kelapa sawit.” Ucap Gisella yang tidak ingin menyebut nama Devan, agar Aldo tidak merasa curiga.
“Ngak nyangka ya, kita dipertemukan dan menggeluti bidang yang sama.” Aldo menatap bibir Gisella yang begitu menggoda jiwa laki-laki nya.
Gisella sengaja memainkan dan membasahi bibirnya, dia tahu jika Aldo saat ini sangat tergoda., menatap nya penuh gairah tanpa berkedip.
“Rasain kamu Aldo, dulu kamu begitu jijik dengan bentuk tubuh serta bibirku ini. Bahkan kamu pernah menyamakan bibirku dengan bentuk pantat bebek.” Bathin Meisya, yang pernah mendengar obrolan Aldo dan teman-teman nya dulu. yang membuat hatinya begitu perih dan sedih jika teringat masa itu kembali.
“Begitulah kisah sedih mas, semenjak ditinggal Meisya. Mas memilih tidak menikah lagi. Dan tidak pernah juga dekat dengan wanita manapun. Mas sangat menjaga kesetiaan meskipun sebelum meninggal Meisya sempat berpesan agar mas mencari wanita yang benar-benar mas sukai. dan mampu menggantikan poposinya dihati mas. Dan semenjak bertemu kamu, mas mersa seperti mempunyai semangat lagi, dan mulai tertarik meskipun hanya menjadi sahabat mu.” Bujuk Aldo.
“Ya mas, aku juga senang mendengar cerita dan curahan hatimu, sapa tahu dengan kedekatan kita ini. Kesedihan dan kehilangan mu sedikit terobati.” Ucap Gisella, meskipun dihatinya dia merutuki ucapan Aldo yang kebanyakan bohong dan dibuat-buat. Karena dia tidak pernah merasakan Cinta seperti ucapan Aldo barusan.
"Tapi siapa wanita yang bernama Sally yang pernah kerumah waktu itu?" Tanya Gisella teringat pertemuan pertama nya dengan Sally.
"Ooo...itu, dia...cuma, cuma anak temannya Mama, yang kebetulan menyukai ku dan selalu berusaha untuk mendapatkan dan menarik perhatian ku setelah kepergian Meisya. tapi aku hanya menganggap nya sebatas adik, tidak lebih." terang Aldo sedikit gugup sambil mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Begitu ya mas, kirain dia tunangan mu." Ucap Gisella berusaha menyembunyikan senyum nya melihat wajah Aldo sekarang. yang langsung di balas dengan anggukan kepala mantap oleh laki-laki yang dulu begitu dicintai nya.
“Mas Aldo, udah sore aku balik dulu ya.” Gisella mulai bersiap untuk pulang, dia tidak betah berlama-lama berduaan dengan Aldo. Karena pikiran dan hatinya selalu tertuju pada Devan.
“Aku antar kamu pulang ya.” Tawar Aldo.
“Ngak usah mas, soalnya aku bawa mobil sendiri. Berhubung sopirku lagi cuti.” Terang Meisya berdiri dari duduknya.
“Okey, Gisella terimakasih udah menemani dan mau menjadi sahabat dan mendengarkan ceritaku, sehingga membuat ku jauh lebih tenang sekarang.” Ucap Aldo mengulurkan tangannya ingin membimbing Gisella keluar dari kafe.
“Sama-sama mas.” Balas Gisella.
Gisella menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, dia mersa lega bisa segera berlalu dihadapan Aldo. yang membuat nya sesak bila berlama-lama ngobrol dengan pria itu.
"Kenapa dulu aku begitu tergila-gila pada laki-laki seperti Aldo itu? tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya, selain laki-laki pemalas dan jual tampang." gumam Gisella menyesali masa lalunya yang dipikirnya sangat bodoh yang tidak bisa membedakan cinta dan dimanfaatkan orang.
Gisella melajukan mobilnya menuju kantor perusahaan Devan, dia merasa begitu merindukan pria tampan yang telah mencuri hati dan perhatiannya. Mobil Gisella sudah memasuki gerbang utama perusahaan besar Devan.
Dengan langkah anggun, Gisella memasuki lobby perusahaan yang tersa nyaman dan sejuk, semua yang berpapasan dengan Gisella menunduk hormat menyapa gadis itu, yang merupakan pemimpin kedua setelah Devan. dalam lift Gisella memperbaiki penampilan nya agar terlihat rapi dan cantik dipandang Devan.
Perusahaan besar ini merupakan salah satu anak cabang perusahaan Devan yang berada di Negara Singapura. Gisella langsung menuju ruangan kerja CEO lantai sebelas gedung pencakar langit tersebut.
__ADS_1
Semakin mendekati ruangan kerja Arya, detak jantung Gisella semakin kuat. gadis itu mersa seperti ABG yang baru pertama kali jatuh cinta. Sebelah tangan Meisya terangkat dan mulai mengetuk pintu ruangan kerja itu perlahan.