Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Sepahit dustamu


__ADS_3

Meisya mersa Dunia nya langsung kiamat, dia benar-benar hancur. benteng kepercayaan yang berlandaskan cinta dan kasih sayang yang selalu dipupuk nya selama ini untuk Aldo roboh seketika. langit tempat Meisya berpijak seakan ikut menangis dan menyaksikan betapa hancur dan terluka nya dia saat ini begitu menerima Kenyataan janji-janji manis Aldo berakhir dengan pahitnya dusta.


“Tega kamu bang, tega kamu mengianatiku. Mana sumpah setiamu yang kau ucapkan selama ini. mana Janji-janji manis mu bang?” Ucap Meisya disela isak tangisnya.


"Kamu tidak lebih dari seorang pendusta, penghianat...kamu jahaaaat....jahat..Bang hu...hu....," dengan air mata yang bercucuran deras membasahi kedua pipinya.


Meisya tidak sanggup menyaksikan tubuh polos suaminya, dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya sambil menggelengkan kepalanya pelan tidak percaya dengan kenyataan itu.


Bahkan selama Ini Aldo selalu mencari alasan untuk menolak berhubungan dengan nya, meskipun Meisya sangat menginginkan hadirnya seorang anak ditengah-tengah rumah tangga mereka berdua, namun Aldo yang selalu beralasan, sehingga dia hanya bisa memendam dan mengubur keinginan indahnya itu.


"Sayang....ini tidak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelaskan."


Seketika Aldo langsung bangkit, dan memakai piyama tidur yang tergeletak dilantai, dia menghampiri Meisya yang meringkuk menangis dilantai. Aldo mencoba membujuk dengan jurus-jurus handal yang selalu berhasil membuat Meisya luluh.


“Sayang, dengar dulu penjelasan Abang, semua ini tidak seperti yang kamu lihat, Abang cuma terpengaruh minuman yang diberikan Sally.” Aldo memberi kode Sally agar diam saja, dia berjalan untuk mendekati Meisya dan menyentuh bahunya.


“Aku jijik....jijik melihat diri Abang yang kotor, abang bilang pergi  hanya untuk urusan bisnis, tapi nyatanya apa? Abang mengkhianati cinta Meisya yang begitu tulus selama ini hu...hu...kamu jahat bang.” Tubuh Meisya bergetar menahan isakan tangis nya, dia terhenyak menangis dilantai Apartemen yang dibeli mengunakan uang Meisya.


"Maafkan Abang Meisya, Abang benar-benar khilaf." Ucap Aldo memohon.


Melihat hal itu, Sally yang semula diam menyaksikan dari atas ranjang, ikut turun dengan hanya melilitkan selimut ditubuhnya. Melangkah angkuh melewati Meisya.


“Hey perempuan, kamu ngaca dong. Jangan salahkan semua ini pada kekasihku Aldo , tapi lihatlah dirimu dan bentuk tubuhmu itu. Laki-laki manapun tidak akan Sudi meniduri mu,”  Meisya menarik tangan Aldo supaya berdiri, dia pun bergelayut dilengan Aldo yang tidak bisa menolak sedikit pun sentuhan Sally.

__ADS_1


“Dasar pelakor, kamu telah merusak rumahtangga ku. Mulai sekarang aku minta jauhi suamiku, dan jangan ganggu kebahagiaan rumah tangga ku lagi.” Ucap Meisya berdiri, dia pun menantang Sally.


“Ha...ha wanita bodoh, aku tidak pernah merusak rumah tanggmu, aku dan Aldo dari dulu saling mencintai. Justru kamulah yang merusak dan mengambil Aldo dariku.” Menunjuk wajah Meisya.


“Sudahlah Meisya, nanti kita bicarakan semua ini dengan baik-baik, sekarang sebaiknya kamu kembali pulang.”  Bujuk Aldo.


“Baik aku akan pulang tapi harus bersama mu bang.!” Menatap wajah Aldo dengan penuh pengharapan. 


“Baiklah Abang akan antar kamu pulang.” Ucap Aldo bersiap.


“Tidak bisa bang, kamu tidak boleh meninggalkan ku lagi, hanya gara-gara wanita itu. bang sudah saatnya kamu meninggalkan wanita gorila ini.” Teriak Sally tanpa perasaan. dia mencegat langkah Aldo.


“Tapi Sally, mas harus tenangkan Meisya dulu. dan menyelesaikan masalah kami” Aldo mulai ragu.


“Tidak...tidak akan pernah, apartemen ini dibeli mengunakan uangku, kamu yang harus pergi dari sini, dan kembalikan semua uangku yang telah diberikan bang Aldo kepadamu, aku tidak sufi uangku dipakai wanita ular seperti mu ini.” Teriak Meisya.


“Oooo begitu, jadi kamu sudah mulai hitung-hitungan denganku, dan meminta apa yang sudah aku dapatkan, ingat Meisya aku suamimu, jadi aku berhak atas semua hartamu itu.” Aldo juga tersulut emosi dan membentak Meisya, dia tidak menyangka Meisya akan mempermasalahkan uang yang dimiliki nya.


“Bukan begitu bang, aku hanya tidak rela jika uangku dinikmati wanita ini.” Ucap Meisya, berjalan mendekati Aldo yang menghindari nya. Meisya mencoba menarik tangan Aldo , namun dia mengibaskan tangannya kasar, hal ini membuat Sally mengulum senyum kemenangan.


 "Rasain kamu." umpat Sally.


“Sayang kenakan pakaian mu sekarang, kita pergi dari apartemen ini.” Ucap Aldo, membuat Sally tersenyum senang, dan penuh kepuasan karena Aldo lebih memihak kepada nya sekarang.

__ADS_1


"Bang jangan begini bang, Meisya tidak bermaksud menyinggung mu." Ucap Meisya menangis menghiba, mencoba menghalangi Aldo yang ingin pergi.


"Cukup Meisya, aku tahu jika kamu jauh lebih kaya dan memiliki segalanya, sehingga kamu tidak bisa memperlakukan ku sesuka hatimu. dan mengungkit-ungkit semua harta dan uangmu yang sudah aku gunakan." bentak Aldo.


“Bang bukan begini maksud ku, jangan pergi...., jangan tinggalkan Meisya hu... hu.??.” Tangisnya pecah sambil memegangi kaki Aldo . Dia masih belum rela Aldo pergi meninggalkannya.


“Tidak Meisya, Abang harus pergi. Karena abang tidak memiliki apa-apa semua ini milikmu.” Melepaskan pegangan Meisya dikakinya..


“Bang Al..., Maafkan Meisya bang, Ingatlah janji mu bang yang akan menjaga Meisya sampai maut memisahkan kita.” Teriaknya kembali sambil menunjukkan cincin kawin mereka, serta cicin sebagai bukti dan janji-janji manis Aldo dulu sewaktu mereka diatas bukit.


"Ingat bang, nama kita berdua masih terukir indah diatas batu itu...," Meisya mencoba mengingat kan Aldo, berharap Aldo akan tersentuh dan membatalkan niatnya untuk meningkatkan Meisya.


“Lihatlah bang cicin ini menjadi bukti cinta kita.” Teriak Meisya lagi, dia bingung dan tidak tahu harus mengucapkan apa lagi agar Aldo tidak pergi meninggalkan nya.


“Bukti Cinta katamu, nih sekarang Aku lepas cicin sialan itu.” Jawab Sally seraya  melepaskan cincin  kawin yang melekat dijemari Aldo dan melemparkannya diwajah Meisya, hingga membuat goresan di pipi gadis malang itu, tapi Meisya tidak memperdulikan rasa sakit di pipi nya, karena mempertahankan Aldo jauh lebih penting dari segalanya.


“Ayo sayang kita pergi.” Sally menarik tangan Aldo melangkah meninggalkan Meisya yang masih menangis meneriaki namanya.


"Bang....tunggu.....jangan tinggalkan Meisya bang....hu....hu....Bang Al....aaaaa." tetiak Meisya, membuat pelayan wanita apartemen itu ikut menangis menyaksikan dari jauh.


Meisya menangis tanpa henti, melihat Aldo yang lebih memilih untuk pergi meninggalkannya, dan pergi bersama selingkuhannya Sally. Dari pada melihat ketulusan cinta yang diberikan oleh Meisya selama ini. bahkan Meisya selalu menuruti kemauan Aldo selama ini.


 

__ADS_1


__ADS_2