Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Sally koma


__ADS_3

Begitu juga Aldo, rahangnya langsung mengeras dia mengabaikan mamanya yang pingsan. Memeriksa kembali berangkas, dan tiap laci Ruangan memastikan penglihatan nya.


“Ini tidak mungkin...harta ku habis.... tidakkk, aku tidak ingin hidup miskin lagi.” Teriak Aldo.


“Awas kamu Sally, aku akan membalas mu.” Teriak Aldo.


Setelah Gea tersadar kembali, Aldo dan mamanya langsung menuju Rumah sakit tempat Sally dirawat.


"Kita harus membuat perhitungan dengan Sally, dia tidak bisa seenaknya berbuat seperti ini terhadap kita. jika perlu kita akan memenjarakan nya."Ucap Gea.


"Ya, ma kesabaran Al juga sudah habis menghadapi perempuan itu." ucap Aldo dengan penuh kemarahan.


Dengan langkah cepat Aldo dan Gea langsung menuju ruangan tempat Sally, yang membuat mereka berdua kembali syok. begitu mengetahui kondisi Sally yang terbaring koma tidak sadarkan diri.


“Kalau kondisi Sally seperti ini, terus siapa pelakunya ma.” Ucap Aldo mengerutkan keningnya bingung.


"Mama yakin ada seseorang dibalik kejadian ini."


"Tapi siapa ma?" ucap Aldo.


"Cctv."

__ADS_1


"Kamu benar, kenapa kita tidak terfikir untuk mengecek cctv terlebih dahulu sebelum kesini." ucap Gea.


Aldo dan mamanya kembali pulang, dan memutar cctv tentang kejadian semalam. benar-benar dibuat lebih syok lagi. begitu melihat pelakunya tidak lain adalah Devan kakak angkat mantan istrinya, dibantu seorang perempuan cantik incaran Aldo yaitu "Gisella." ucap Aldo tidak percaya dengan penglihatannya.


"Ternyata mereka pelakunya," Aldo mengepalkan tangannya geram.


"Aldo kamu mau kemana nak?" teriak Gea.


"Aku harus membuat perhitungan dengan laki-laki bresengsek itu ma."


"Jangan nak, kita tidak akan menang melawan nya." bujuk Gea.


Pelayan suruhan Devan merekam semuanya, dan mengirimkan pada Giselle dan Devan.


bagaimana perdebatan Aldo dan Gea pagi ini.


“Sekarang kalian rasakan pembalasan ku.” Ucap Giselle.


Sementara dirumah sakit, Sally kehilangan banyak darah, kondisi nya semakin menurun drastis. Bahkan untuk bernafas dia dibantu dengan oksigen.


Dalam komanya, Sally seperti memasuki lorong panjang dan sempit.

__ADS_1


“Dimana aku?” Ucap Sally begitu melihat sekeliling nya yang terlihat sangat menyeramkan.


“Aku takuttt.” Sally terus berjalan ditempat sunyi dan gelap, tidak seorang pun yang datang untuk menolongnya, meskipun Sally sudah berteriak menangis dan meminta tolong.


Brrruuggghh....tubuh Sally jatuh dia terguling-guling, bajunya dipenuhi lumpur yang sangat bau, seperti bangkai.


Sally sangat ketakutan, dia hanya bisa menangis dan menangis, pasrah dengan apa yang akan terjadi seterusnya, sebuah bayangan putih terus mendekat dan mendekat. Sally memastikan penglihatan nya.


Nampak wanita bertubuh gendut, tersenyum manis dan tulus mengulurkan tangannya kearah Sally.


“Meisya?”


“Ya aku Sally, wanita yang pernah kamu sakiti. Bahkan kamu menabraknya hingga meninggal.” Ucap bayangan itu.


“Meisya maafkan aku, aku menyesal...hu...hu...” tangis Sally pecah, dengan rasa penyesalan. Ketika Meisya de tulus membantu nya untuk berdiri.


“Terimakasih Meisya, kamu begitu baik. Aku malu ....malu bahkan untuk menatap wajahmu.” Ucap Sally menundukkan kepalanya.


“Kembali lah Sally, dan pertanggung jawabkan lah semua perbuatan dan kesal ahanmu itu.” Ucap Meisya.


“Iya aku bersalah, dan siap untuk bertanggung jawab,” Sally memeluk tubuh Meisya, dengan perasaan lega dan haru. melihat ketulusan Meisya yang mau memaafkannya.

__ADS_1


__ADS_2