Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Aldo jatuh cinta kembali


__ADS_3

“Aldo, ternyata Gisella cantik banget ya, Sally saja tidak ada apa-apa nya dibandingkan kecantikan dan kekayaan Gisella.” Puji Gea dia sudah membayangkan bagaimana bahagia nya, jika bisa menjadikan Gisella menantunya.


“ Biasa aja kok ma.” Elak Aldo mencoba menyembunyikan perasaannya. karena terlalu cepat baginya untuk jatuh cinta pada gadis itu.


“Aldo, Mama pikir sudah saatnya kamu mencari ganti, Meisya juga sudah lama pergi, dan arwahnya itu tidak pernah menganggu kita lagi, berarti dia sudah tenang disana.” Bujuk Gea.


“Ntah lah ma, Aldo sudah mulai gerah menghadapi Sally, tapi tidak Mudah juga lepas begitu saja dari gadis licik itu ma.” Ucap Aldo mengusap wajahnya, semenjak bertemu Gisella. Pikiran Aldo selalu tertuju pada gadis itu.


Aldo merasa ini pertama nya jatuh cinta, Karena dia belum pernah merasakan perasaan ini terhadap Sally maupun Meisya.


“Justru itu nak, Mama juga sudah ngak suka lagi tuh sama si Sally. Mending kita mencoba mendekati Gisella saja, udah cantik, kaya dan baik lagi.” Puji Gea.


Aldo memperbaiki posisi duduknya, dia mulai terpengaruh ucapan mamanya. Mengingat dia juga sudah mulai tertarik melihat pesona Gisella. hari-hari Aldo terasa indah setiap kali membayangkan wajah cantik dan senyuman Gisella.


“Gisella benar-benar cantik, tatapan matanya teduh dan lembut. Jauh beda dengan Sally. Tapi bagaimana caraku untuk mendekatinya, sementara aku merasa minder mendekati gadis secantik Gisella. Bahkan aku tidak mempunyai no ponsel Gadis itu, aku tidak mempunyai keberanian menanyakan tentang Gisella meskipun melalui asistennya nya.”


Gumam Aldo, dia mengenali asisten Gisella, yang mempunyai informasi lebih tentang gadis itu.


“Aldo, Mama punya kartu nama Gisella lho, serta No ponsel pribadinya.” Gea bisa membaca isi hati dan kegundahan anaknya.


“Benar ma.”


“Sebentar Mama ambilkan dulu.” Gea mencari kartu nama Gisella dan menyerahkan ketangan Aldo. Namun bukannya senang Aldo semakin ragu setelah memegang kartu nama tersebut.


Gea mengambil ponsel Aldo yang terletak disampingnya, Gea memencet satu persatu No yang tertera di kertas Itu dan mulai medialnya.


“Jangan ma.” Cegah Aldo karena dia mersa belum siap untuk berbicara langsung dengan Gisella. Namun Gea tidak menggubris ucapan anaknya. Gea memberi isyarat dengan jari telunjuknya menyuruh Aldo untuk diam dan mengikuti saja permainan barunya.


Dirumahnya, Gisella dan Devan yang tengah menikmati teh hangat dan makanan sambil diselingi obrolan ringan, menghentikan aktivitas mereka. Melirik ponsel Gisella yang terus bergetar diatas meja.

__ADS_1


 "Dek, aku yakin jika yang menghubungi mu itu adalah Aldo. karena kakak sudah hafal tabiat laki-laki yang menjual tampangnya untuk mencapai tujuan mereka." Ucap Devan.


“Kak Devan benar , itu No ponsel Aldo. Aku sempat menyimpan nya karena aku tahu dia pasti akan menghubungi ku.” Terang Gisella.


“Bagaimana sekarang kak,? apa aku harus mengangkat panggilan nya,?” tanya Berliana ragu sambil menatap layar ponselnya yang tetus bergetar tanda panggilan masuk.


“Angkat saja, kita ikuti permainan mereka. Sekarang saatnya untuk kamu melepaskan rasa sakit hatimu pada laki yang tidak setia itu, termasuk kekasihnya yang bernama Sally.” Devan memberikan semangat pada Gisella .


“Baik kak.”


“Meisya, Buat dia jatuh cinta dan tergila-gila padamu, seperti yang pernah dilakukannya dulu. sekarang lah kesempatan kita untuk membalas perbuatan dan perlakuan mereka yang keji." Ucap Devan.


"Tentu kak."


Meisya mengangguk mantap, dan mengangkat tombol hijau dilayar ponselnya.


“Ini....aku Aldo,” terdengar Suara Aldo yang grogi.


“Oooiya aku ingat, mas Aldo pemilik pertama rumah ini kan,?” Ucap Meisya sok akrab.


“Betul sekali Gisella, maaf jika aku telah menganggu waktumu.” Aldo dan Gea terlihat senang karena Gisella mengangkat panggilan nya dengan ramah.


“Ngak papa kok Mas.” Elaknya sambil saling memberi kode dengan Devan yang masih duduk disampingnya.


“Oya Gisella, boleh ngak kita ketemuan di kafe xxx. Aku pengen ngobrol-ngobrol aja ama Kamu, sapa tahu kita bisa jadi sahabat baik.” Ucap Aldo yang masih di dukung oleh sang Mama disebelah nya.


“Mmmhhh, boleh juga. Mengingat aku masih baru di indoneia, dan butuh teman juga sih.” Jawab Gisella sambil menahan senyum.


Sorenya sesuai janji yang telah mereka buat, Gisella mengunakan Pakaian yang sang cantik dan sesuai sekali dengan warna kulit nya yang putih bersih. dia mengendarai mobilnya sendiri Menuju kafe tersebut.

__ADS_1


Dari kejauhan dia sudah melihat Aldo yang duduk diruangan VIP menunggu kedatangannya. Dengan langkah anggun, Gisella berjalan mendekati Aldo. Semua mata tertuju dengan kecantikan gadis dengan rambut tergerai panjang. Begitu juga dengan Aldo. Jantungnya terus berdetak kencang seiring dengan langkah kaki Gisella yang terus mendekat.


“Gi... Gisella, si silahkan duduk.” suara Aldo terdengar bergetar dan tergagap melihat kecantikan Gisella dari dekat.


“Ya terimakasih mas.” Balas Gisella duduk disebelah Aldo, aroma wangi farfum yang tercium dari tubuh Gisella. Membuat kenyamanan dan perasaan yang begitu indah bagi Aldo.


Dia tidak peduli dengan ponselnya yang terus bergetar, tertulis nama Sally dari sipenelpon. Aldo benar-benar telah melupakan Sally wanita yang dulunya dicintai Aldo mati-matian.


“Aldo brengsek.” Teriak Sally melemparkan ponsel Kedinding kamar, dia benar-benar kesal karena panggilan nya selalu diabaikan Aldo yang sudah berubah drastis sekarang.


Dengan kesal Sally menyambar kunci mobilnya dan melajukan kencang kearah rumah baru Aldo. Sepanjang perjalanan Sally tidak henti-hentinya merutuki kekasihnya itu. Serta rasa cintanya yang tidak pernah berubah untuk Aldo.


Beberapa kali Sally hampir bertabrakan dengan pengendara lainnya, karena dia tidak fokus lagi antara menangis bercampur emosional,dia begitu kesal dengan Perubahan sikap Aldo sekarang.


Sally berhenti dihalaman luas rumah Aldo, mengedarkan pandangannya mencari mobil Aldo yang tidak terlihat.


“Pergi kemana Aldo?” gumam nya sambil berjalan masuk kedalam rumah. Suasana rumah terlihat sepi. Hanya ada seorang pelayan wanita yang tengah membersihkan lantai.


“Aldo,” teriak Sally menuju kamar Aldo dilantai dua.


“Sally, kamu kok datang tiba-tiba dan berteriak-teriak seperti ini.!” Tanya Mama Gea yang muncul dari arah taman yang didesain khusus dekat balkon.


“Mana mas Al ma, kenapa dia tidak mengangkat panggilan ku.?”


“Aldo sedang sibuk Sally, katanya sih mau memantau perkebunan kelapa sawit langsung.” Mama Gea mencoba membohongi Sally, dia tidak ingin Sally mengetahui jika Aldo saat ini tengah bertemu dengan Gisella.


“Tapi kenapa dia mengabaikan panggilan ku, tidak biasanya Aldo seperini.” Wajah Sally terlihat jutek dan kesal, dia menghempas kan tubuhnya disofa.


“Seharusnya, Sebagai calon istri yang baik. Kamu harus selalu siap mendukung apapun kegiatan dan pekerjaan Aldo. Bukan nya seperti ini, kamu terlalu banyak menuntut.” Ucap Gea kesal.

__ADS_1


__ADS_2