
Zerzio sudah sampai di lobby apartemen, dia menghentikan langkah, saat matanya menangkap sosok Bunga sedang berjalan membimbing anaknya Devano.
"Anak dan istriku tercinta, kelihatannya mereka seperti habis belanja. kenapa aku, selalu tidak bisa mengendalikan diriku jika sudah melihat mereka." nampak Devano memegang sebuah robot mainan barunya.
"Devano sayang, senang ngak jalan-jalan bareng bunda hari ini." tanya Bunga pada anaknya.
"Senang sekali Bunda, terimakasih bunda, karena telah beliiin Devano mainan baru lagi." terdengar suara polos nya.
"Tentu sayang, apapun yang Bunda lakukan. itu semua demi Devano nak." mereka berjalan menuju lift.
"Hallo Devano putraku yang tampan.!"
Tiba-tiba Bunga terlonjak kaget, saat mendengar suara Zerzio yang secara tiba-tiba dari arah belakangnya.
"Kok heran gitu, Devano udah lupa ya...kita kan pernah ketemu di pusat permainan anak-anak dulu" jelas Zerzio.
Senyum mengembang dibibir mungil Devano, saat dia kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Zerzio.
"Iya Bunga ingat. Om yang pernah nolongin Bunga waktu kita ketemu disana.!" Bunga menunjuk ke arah lobby
__ADS_1
Bunga langsung menarik tangan Devano, lalu membawa kedalam gendongannya.
"Sayang, kamu ngak boleh langsung akrab gitu, sama orang yang baru Kamu kenal." bisik Bunga namun terdengar jelas ditelinga Zerzio. Bunga langsung menuju lift. karena dia yakin sekarang Zerzio tidak mungkin lagi bisa berbuat macam-macam lagi terhadapnya, mengingat ada Devano dalam dekapan nya.
Dalam lift. Zerzio kembali berdiri dengan jarak yang begitu dekat dengan Bunga, sambil terus menggoda Devano yang begitu senang bertemu kembali dengannya.
"Devano sini aku bantuin gendong bundanya ya? uuips salah maksudnya gendongan Devano," ucap Zerzio begitu mendapatkan plototan tajam mata Bunga kearahnya. Zerzio melonggos kesal melihat Bunga yang terus mengabaikan nya, namun dia tidak kehabisan akal.
"Mas anaknya tampan dan luci sekali ya." ucap yang lainnya.
"Iya mirip banget deh sama bapaknya.!" ibu yang berdiri disebelah Bunga ikut ikut berkomentar.
Melihat hal itu, Bunga mengepalkan tangannya. ingin rasanya dia mencakar- cakar wajah Zerzio yang masih tertawa lepas. ditambah lagi Frans yang sengaja ikut menimpali.
"Tahan Bunga. tahannnn....emosi dan kemarahan mu, mereka sengaja agar aku menyerahkan dan menuruti permintaan presdir mesum ini." Gumam Bunga.
Bunga langsung keluar begitu pintu lift terbuka.
"Maaf Anda mau kemana, tolong jangan ganggu kami.!" ucap Bunga tegas.
__ADS_1
"Aku tidak mengganggumu cantik, tapi mulai sekarang kita tetanggaan.
"Okey Bos, kalau begitu aku permisi dulu." ucap Frans pergi meninggalkan mereka.
"Sekarang tinggal kamu cantik, kenapa masih berdiri disini. atau kamu mau ikut masuk kedalam apartemen ku. jika begitu aku sangat senang sekali. karena tidak merasa kesepian lagi tinggal sendirian." ucap Zerzio.
"Bunda Devano mau tinggal bersama Om, biar Devano juga ada teman." rengek anak laki-laki yang selama ini butuh sosok figur seorang ayah.
"Tolong Anda tinggalkan kami, dan jangan ganggu kami lagi." Bunga sudah hampir kehilangan kesabarannya.
"Okey baiklah, tapi tolong kamu minggir. karena kamu berdiri tepat di depan pintu masuk apartemenku." ujar Zerzio sambil mengulum senyum.
"Apa." mata Bunga membulat. dia benar-benar syok dan tidak percaya, mengingat ruang apartemen mereka berhadapan.
"Kenapa wajahmu menjadi tegang begitu sayang, aku sengaja membeli apartemen ini. agar kita bisa setiap hari bersama baik dikantor maupun apartemen, nanti setelah kita menikah aku akan mengajakmu tinggal di mentions kita yang baru." goda Zerzio.
"Apa tujuanmu mendekati ku.?"
"Tujuan ku cuma satu, ingin selalu dekat denganmu. menikahi mu dan membesarkan anak kita. kamu tidak mempunyai alasan lagi untuk mengelak karena aku sudah mengetahui semuanya." ulang Zerzio kembali.
__ADS_1