
"Untuk apa sih ma, kita harus kesana segala.?" balas Aldo yang malas pergi ke pemakaman keluarga Meisya.
"Ingat nak, ini semua Harta mereka yang sebentar lagi akan berpindah tangan. Mama Ngak mau arwah Meisya dan orang tuanya menghantui kita nantinya, " Ucap Gea.
"Malas banget pergi ke makam itu ma," Aldo melongos kesal. namun dia tidak bisa terus mengelak, karena mamanya Gea terus memaksa.
"Baiklah ma, kita pergi kemkam Meisya dulu." jawab Aldo Akirnya berjalan menuju mobilnya yang diikuti Sally dan Gea dari belakang.
Aldo melajukan mobilnya, mereka bertiga langsung menuju pemakaman keluarga Meisya, Aldo dan mamanya menaburkan bunga mawar diatas tiga malam dihadapannya itu. Sambil menatap batu nisan yang bertuliskan nama Meisya Salvina.
Dirumahnya, Meisya tiba-tiba ingin sekali mengunjungi makam kedua orang tuanya, sehingga pagi menjelang siang itu dia meminta sopir nya menyiapkan mobil. Dengan kaca mata hitam dan warna kerudung yang senada Meisya melajukan mobilnya menuju pemakaman keluarga.
“Ini kan mobilnya bang Aldo, untuk apa dia kesini?” pikir Meisya heran.
Meisya melangkah anggun masuk menuju gerbang pemakaman. Dari kejauhan dia melihat Aldo dan mamanya, disana juga ada Sally wanita pelakor yang merusak rumah tangga nya dan Aldo. mereka duduk dihadapan makam yang dianggap mereka adalah Meisya.
"Kalian semua tidak lebih dari seekor ular, untuk apa kalian mengunjungi makam ku. apa kalian sudah insaf atau berlagak sok suci." gumam Meisya menatap penuh kebencian.
"Aku harus mendekat dan mendengar apa yang mereka bicarakan dimakan ku."
Meisya dengan rasa penasaran nya, berjalan mengendap-endap dan bersembunyi di bawah pohon beringin yang posisi nya berdekatan dengan mereka yang tengah berbicara dengan nisan yang bertuliskan nama Meisya tersebut.
Meisya mempertajam pendengarannya, dia ingin tahu apa yang tengah dibicarakan Aldo yang tegah mengusap namanya yang tertulis di batu itu, serta ekspresi mama Gea yang terlihat menangis. Sambil menaburkan bunga. Sementara Sally hanya berdiri mematung dibelakang Aldo wajah gadis itu terlihat puas dengan senyum penuh kemenangan yang terpancar dari wajahnya.
Meisya menatap kearah mereka penuh kebencian, tiba-tiba ingatan tentang keserakahan Aldo serta penghianatan nya dengan Sally membuat dadanya seketika memanas. Meisya mengepalkan tangannya emosi sambil terus memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Dasar orang-orang munafik kalian, sok suci." Meisya mengulangi umpatan nya.
“Meisya istriku sayang, maafkan kesalahan-kesalahan yang pernah Abang perbuat terhadap mu. Abang benar-benar menyesal. Dan abang kesini juga mau meminta izinmu untuk melelang sebagian asetmu sayang, untuk menyelamatkan perusahaan. serta nasib ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya perusahaan Kita ” Ucap Aldo mengusap nama yang tertulis di batu nisan.
“Iya Meisya, Mama juga minta maaf ya nak,” ucap Gea sambil mengikut Sally yang berdiri mematung. Gea memberi kode agar Sally ikut meminta maaf pada Meisya.
“Meisya aku juga minta maaf padamu, karena telah membuat mu terluka dan kecewa karena sikap ku dulu. Sekarang aku juga benar-benar menyesal.” Ucap Sally dengan wajah ketus dan terpaksa nya.
Sikap yang mereka tunjukkan itu, membuat Meisya yang bersembunyi diantara dedaunan pohon beringin itu menggertakan giginya menahan gejolak emosinya. Ide gila muncul dibenak janda perawan itu, seketika dia mengeluarkan ponselnya dan memutar suara yang mengerikan dengan tawa yang menirukan suara kuntilanak, Meisya juga ikut bersuara.
“ Hi...hi...hi...hi...ha...ha... Bang Al ku,”
“Bang mana janji manis mu dulu, hi...hi hi hi...”
"Malah engkau mengkhianati ku, dustamu benar-benar pahit bang." Ucap nya sambil berpura-pura menangis panjang.
"Suara apa itu?, tidakkkkk...tidak mungkin itu Meisya, mana ada hantu di siang bolong begini." teriak Aldo.
"Benararan Al, Mama yakin sekali jika itu benararan suara Meisya." bisik gea ketakutan.
“ Meisya maafkan kami, kami bertiga mengaku salah...kami minta maaf dan mohon ampun.” Ucap mereka ketakutan.
“Tidak ada kata maaf untuk orang serakah seperti kalian, tunggu pembalasanku Hi... hi...hi,” Teriak Meisya.
Sally lari paling depan, dia ingin menyelamatkan dirinya terlebih dahulu, diikuti Mama Gea, sementara Aldo masih mengatup tangannya sambil terus meminta Maaf dan ampun dari arwah yang dianggap nya sebagai Meisya. Melihat hal itu Mama Gea langsung berbalik, dia menarik lengan baju Aldo.
__ADS_1
“Aldo ayok nak, tinggal kan tempat ini segera sebelum kemarahan Meisya bertambah besar Melihat mu seperti ini.”
“I..iy ma.” Aldo Akirnya Mengikuti langkah mamanya, begitu berhasil masuk kedalam mobilnya, mereka langsung tancap gas meninggalkan lokasi pemakaman. Dengan perasaan yang masih dirundingkan ketakutan.
"Ha...Ha...rasain kalian." umpat Meisya menatap puas kepergian mereka yang sangat ketakutan. dia tidak mampu menahan perasaan lucu sambil tertawa lepas menyaksikan mereka yang lari terbirit-birit ketakutan.
“Ini belum seberapa, kalian tunggu saja pembalasanku selanjutnya.” Ucap Meisya tersenyum penuh kemenangan.
Tiba-tiba, Daun kering jatuh tepat disamping Meisya berdiri, tiba-tiba jatuh karena hembusan angin yang bertiup kencang. Seketika meis refleks menoleh kearah datangnya Suara. Seraya memegangi tengkuk nya yang terasa dingin.
“Jangan-jangan... iiiihhh,” Meisya ikutan lari meninggalkan pohon beringin besar tersebut Menuju mobil nya dan melajukan kembali pulang kerumah.
“Besoknya kalau mau pergi ke makam Mama dan papa, sebaiknya aku ajak salah satu pelayan saja, atau sopir biar lebih aman.” Gumam Meisya yang semula begitu pemberani sekarang nyalinya berubah menciut.
Sampai diteras rumah, senyum mengembang dibibir mungilnya ketika melihat Devan duduk dikursi santai menuggu kedatangannya.
“Kak Devan,” teriak Meisya kegirangan sambil berjalan cepat mendekati devan. Dia mencium punggung tangan laki-laki yang sudah mengisi hatinya tersebut, hingga mampu menggeser posisi Aldo.
Sebisa mungkin Meisya menyembunyikan perasaannya, dia tidak ingin kakak angkatnya itu mengetahui isi hati nya sekarang, Meisya takut Devan akan marah dan meninggalkan nya. Meisya masih trauma kehilangan Aldo, dia tidak ingin kehilangan pria yang dicintainya lagi.
“Dek kamu habis dari mana? Kenapa terlihat kucel seperti bekicot gitu.” Menggoda Meisya dengan mengedipkan sebelah matanya.
“Nanti dulu Meisya jawab pertanyaan Kakak, sekarang tolong jelaskan kenapa kakak kembali pulang kerumah air secara tiba-tiba. tanpa memberitahu Meisya terlebih dahulu.” Ucap nya manja.
“Kalau kakak beritahu kamu dulu, itu bukanlah kejutan lagi Sayang.” Devan mencubit gemes hidung Meisya, yang merupakan kesukaan nya semenjak gadis itu masih kecil.
__ADS_1
Wajah Meisya langsung bersemu merah, dia hampir saja melayang mendengar kata-kata sayang yang terucap begitu saja dari bibir Devan. meskipun Devan mengganggap itu hal yang biasa namun tidak bagi Meisya.