
Gisella melangkah anggun dan penuh percaya diri, menghirup segarnya udara tanah air yang sudah sekian tahun ditinggalkan nya. senyum mengembang dibibir mungilnya setiap berpapasan dengan orang-orang yang menyapa ramah. Meisya akan mempati rumah baru pemberian Devan untuk ditempati nya.
"Ternyata tidak banyak yang berubah, meskipun aku telah lama meninggalkan Negara kelahiranku ini." gumam Gisella.
Penampilan Gisella sekarang, terlihat sangat manis, membuat orang betah menatap nya lama-lama, bahkan gaya berjalan bagaikan magnet. Memasuki mobil jemputan yang sudah menunggu kedatangannya didepan pintu bandara internasional itu.
"Akirnya aku kembali lagi kesini, dengan diriku yang sudah berbeda. Mantan suamiku tersayang. Tunggu kehadiran istri jelekmu ini....ha....ha..." Gisella tertawa lepas. Membayangkan wajah Aldo jika bertemu atau tahu jika meis yang dulu sekarang sudah menjelma menjadi wanita yang sangat cantik.
"Sally sekarang terima lah pembalasan ku, kamu juga akan merasakan apa yang aku rasakan dulu, aku akan merebut Aldo dari sisimu, seperti apa yang kamu lakukan terhadap ku dulu." Gisella perang bathin dengan perasaannya sendiri.
Meisya tiba-tiba teringat almarhum kedua orang tuanya, seketika timbul keinginan untuk mengunjungi kedua orangtuanya.
"Pak kita ketempat pemakaman ku, Eh salah maksudku pemakaman kedua orang tuaku." Ucap Gisella.
"Baik Nona." Sopir langsung melajukan mobil menuju pemakaman keluarga Meisya, sepanjang perjalanan janda perawan itu menatap luar jendela kaca mobilnya. Pikiran Meisya kembali menerawang kemasa beberapa tahun silam. dimana dia selalu dipandang rendah dan dimanfaatkan kan orang-orang.
Meisya mengeluarkan foto jadulnya dengan tubuh gendut dan muka tembem. Dia mengulum senyum mersa lucu melihat penampilannya dulu.
"Aku bangga dengan diriku yang dulu, apa adanya" gumam Meisya menerawang.
"Sudah sampai Nona." Ucap pak sopir sambil berjalan memutar membuka kan pintu mobil untuk wanita yang diketahui nya bernama Gisella.
__ADS_1
"Baik, terimakasih." balas Meisya melangkah turun dari mobil.
Langkah anggun Gisella terayun memasuki pemakaman keluarga nya, perlahan dia melepaskan kaca mata hitam yang masih melekat. Dengan air mata bercucuran dia menatap kuburan yang bertuliskan namanya sendiri. Bersebelahan dengan makam sang Mama.
“Ya Allah, ternyata bang Al dan keluarganya sudah mengagap aku benar-benar meninggal, bahkan mereka sudah membuat kuburan atas namaku. Tapi mayat siapa yang mereka kuburkan disini? apa mereka tidak mencari tahu atau memastikan nya dulu. apa sebegitu tidak berarti nya aku dimata kalian.” berbagai pertanyaan berkecamuk dipikiran Meisya, sehingga membuat kebencian nya bertambah.
“Aku harus mencari tahu, siapa sebenarnya yang dikuburkan mereka disini?” Meisya mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Devan.
“Hallo Meisya, Eh Gisella.” Goda Devan.
"Kak ternyata mereka mereka benar-benar mengagap aku tiada, dan menguburkan aku bersebelahan dengan Mama dan papa. Meisya penasaran dengan sosok wanita yang mereka kuburkan disini?” Terang Meisya tersendat-sendat sedih.
“Ooo, itu korban kecelakaan tanpa identitas yang mereka temukan tidak jauh dari lokasi tempat kamu kecelakaan dek, mungkin juga dia ikut tertabrak mobil yang sama dengan mu.” Jawab Arya.
“Mama,papa, maafkan Meisya yang selama ini tidak pernah mendengar kata-kata kalian. Meisya terlalu dibutakan oleh cinta bang Al , yang ternyata tidak pernah mencintaiku. Hu...hu.... maafkan Meisya pa, ma.” Cukup lama dia menangis hingga suara kumandang azan di mushola yang tidak jauh dari pemakaman keluarga itu menghentikan tangis Meisya.
Meisya mengusap air mamatanya, “Mulai sekarang aku harus kuat menjadi diriku yang baru, tidak Meisya yang dulu lemah dan polos. Wanita lemah dan selalu tersakiti dan air mata yang selalu menemani hari-hari ku. sekarang Aku adalah Gisella, wanita cantik, kuat dan pemberani. Yang akan membalaskan dendam Meisya sigadis polos'" Gisell sambil tersenyum menguatkan dirinya.
“Mama,papa, Meisya pulang dulu. Lain waktu Meisya akan mengunjungi kalian.” sambil memanjatkan doa untuk kedua almarhum orang tuanya.” dengan berat hati Meisya meninggalkan pemakaman itu.
Mengayunkan langkah mantap, dan misi untuk membalas perbuatan orang-orang yang telah menyakiti nya. Baik fisik maupun perasaan nya. Terutama harta peninggalan papa yang sudah dinikmati orang-orang yang tidak memiliki hak apapun.
__ADS_1
“Kita langsung pulang pak.” Ucap Meisya melangkah masuk kedalam mobil.
“Baik non.” Mobil mrlaju kesebuah rumah yang sangat mewah.
“Ternyata kak Devan sangat perduli sekali, selain menyediakan tempat yang sangat bagus dan indah untuk aku tempati, dia juga memperkerjakan banyak pelayan. Agar aku tidak kesepian tinggal dirumah yang sangat mewah ini."
Meisya Berjalan pelan sambil melihat setiap ruangan yang sangat luas. Juga terdapat banyak barang-barang berharga. serta terpampang jelas foto keluarga kandung Devan, disudut sebelah kanan juga terpampang jelas foto keluarga Meisya.
"Kak Devan ternyata benar-benar menyayangi kami dengan tulus." Meisya terseyum bahagia melihat foto keluarga nya.
Rumah tersebut sudah lama dibeli Devan, dia berharap akan menempati rumah tersebut dengan istri dan anak-anaknya kelak. Namun diumurnya yang tidak muda lagi Devan belum juga menemukan pasangan hidupnya yang tepat. Meskipun dokter Bunga dan Devan sudah lama saling dekat. Namun keduanya masih sama-sama bertahan dan sibuk dengan dunia mereka masing-masing, dan hubungan diantara mereka masih sebatas persahabatan.
Pernah beberapa kali, dokter Bunga ingin mencoba mengungkapkan perasaan nya terhadap Devan, namun selalu diurungkan nya mengingat ketidak percayaan dirinya yang takut jika tiba-tiba Devan menolak cintanya. sehingga dia lebih memilih memendam rasa cinta nya.
Disebuah club malam termahal, Aldo membanting gelas minuman, dia benar-benar kalut sehingga dia begitu enggan untuk pergi meninggalkan Club malam itu.
"Bagaimana ini? aku Benar-benar Bingung." mengusap kasar rambutnya, nampak sekali jika saat ini dia tengah frustasi. Tidak ada yang berani mendekati Aldo, karena dia akan langsung membentak para wanita malam yang sengaja mendekatinya untuk menggoda.
“Pergi dari hadapan ku dan jangan ganggu aku lagi.” Teriak Aldo, yang langsung membuat wanita itu mundur dengan teratur.
Aldo masih memikirkan nasib perusahaan peninggalan orang tua mantan istrinya Meisya yang hampir diambang kebangkrutan, akibat sang tunangan dan Mama nya yang suka foya-foya Menghambur kan uang. Begitu juga Aldo menghabiskan uang dengan main judi yang merupakan hobi semenjak remaja.
__ADS_1
Meskipun dia sempat berhenti ketika masih ada mertuanya, namun setelah menguasai semua harta Meisya dia kembali mengulangi perbuatan itu, termakan hasutan Rangga dan Rama sahabatnya.
"Aku tidak ingin kehilangan semua ini, aku harus bertindak cepat Sebelum semua nya hancur." gumam Aldo