Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Pertunangan Aldo


__ADS_3

Sudah menjadi kebiasaan Meisya, jika dia sedang galau dan sedih. Dia akan lari pada cemilan dan minuman bersoda. Dia tidak akan berhenti ngemil sampai stok makanan yang dibelinya dalam jumlah banyak itu habis. Barulah setelah itu dia akan tertidur begitu saja dan akan mersa sedikit tenang.


"Aku harus menemui bang Al, agar semua jelas dan aku juga bisa tenang." gumam Meisya. Malam itu , dia berniat kembali menemui Aldo. Dia yakin sekali Aldo tidak akan menyakiti nya. Dan kecelakaan yang menimpanya itu murni kecelakaan. Rasa cinta yang begitu besar terhadap laki-laki, membuat Meisya tidak bisa berfikir secara jernih.


Dengan memakai penutup kepala dan cadar, Meisya kembali kerumahnya. Sambil memperhatikan suasana dan bersembunyi dari balik pagar besi rumah mewahnya sendiri. Meisya menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya. Sambil menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang mengalir deras. Dia berusaha sekuat nya untuk berdiri menyaksikan pesta pertunangan antara Aldo dan Sally yang diadakan di taman samping rumahnya sendiri.


"Tega kamu Bang, bahagia diatas penderitaanku. Kamu malah tersenyum dengan wanita yang kamu cintai, disaksikan semua orang yang memberikan restu atas hubungan kalian. Sementara aku disini begitu terluka. Bahkan tidak ada rasa kehilangan dan kesedihan yang terpancar dari wajahmu." Bathin Meisya, tubuhnya bergetar menahan isakan tangis nya.


"Aku harus pergi, sebelum mereka memergoki keberadaan ku sekarang, awas kamu Aldo, Sally dan Mama Gea. Aku akan membalas kalian semua. Kalian tertawa dan tersenyum bahagia di rumahku sendiri. Memakai uangku untuk berfoya-foya. Mulai sekarang aku akan memperhitungkan semua nya." Api dendam dan kebencian mulai merasuki Meisya yang polos.


"Brugghhh..." Tubuh Meisya menabrak tubuh tegap seseorang  ternyata sudah lama berdiri dibelakang nya.


"Aaaagghhh." Refleks Meisya berteriak, namun Devan dengan sigap segera menutup mulut Meisya dan menarik tangan gadis bertubuh gendut itu menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Kak Devan," Ucap Meisya menatap Devan yang melajukan mobilnya menjauh dari tempat itu.


"Ya aku Meisya, kenapa kamu tidak pernah mau mendengarkan perkataan ku dari dulu. Aldo dan keluarganya itu brengsek dan licik. Dan hanya memanfaatkan mu, tolong buka matamu dan terimalah kenyataan ini Meisya. Kalau Aldo mencintai mu, dia tidak mungkin dapat tersenyum dan bertunangan dengan pacarnya itu, disaat kamu belum satu bulan dinyatakan meninggal dunia." Bentak Devan emosi.


"Aku benci mereka, aku muak....aku ingin membalas mereka dan merebut kembali hak dan harta peninggalan kedua orangtuaku." Teriak Meisya dengan air mata yang membanjiri pipi tembem nya.


"Bagus, keluar kan semua kegundahan dan kesedihan mu disini Meisya, ingat aku Devan kakakku akan selalu bersamamu menghadapi mereka.” Devan menepikan mobilnya disebuah perbukitan, namun memberikan pemandangan yang terlihat begitu indah dengan kilau cahaya lampu yang berbaur dengan cahaya bulan dan bintang malam itu.

__ADS_1


Meisya turun, sambil merentangkan kedua tangannya. Meisya berteriak kencang.


"Aldo brengsek....."


"Sally ulat bulu ketek...."


"Gea nenek lampiiiirrr...."


"Aku benci kalian, benci.....benciiii, suatu saat aku akan kembali dan membalas semua perbuatan kalian terhadap ku dan harta yang kumiliki, kalian harus membayar


 berkali-kali lipat nanti nya...." Teriak Meisya memecah kegelapan malam diperbukitan itu.


Sementara dirumah, Aldo masih penasaran, saat mendengar suara teriakan barusan, dia yakin sekali jika itu adalah suara teriakan Meisya. Namun semua mengatakan tidak ada yang mendengar, dan mengatakan jika suara itu hanyalah iusi halusinasi Aldo saja.


"Sayang, aku tidak ingin momen bahagia kita ini tidak, karena kamu masih mengingat mantan istri mu yang sudah tiada itu." Sally memasang wajah juteknya.


"Bukan seperti itu sayang, cuma aku masih penasaran. Dan Meisya pergi juga begitu cepat. Aku ingin mengusut kematian Meisya agar dia bisa tenang," Ucap Aldo tiba-tiba.


Gea langsung berubah pucat, begitu juga dengan Sally. keduanya saling pandang.


"Sayang, untuk apa kamu mengungkit-ungkit masalah kematian Meisya, bukan kah dengan begini hubungan kalian bisa bebas dan kaluan juga bisa segera menikah." Ucap Mama Gea mencoba membujuk Aldo.

__ADS_1


 "Ma, mungkin I I cara terbaik agar Meisya bisa tenang, dan dia juga tidak menggunakan kita kedepannya." Ucap Aldo.


"Mana mungkin dia menganggu kita. orang yang sudah meninggal tidak akan pernah kembali lagi ke Dunia ini nak." Ucap Gea meyakinkan.


"Iya, sayang kamu apa-apaan sih. dihari bahagia kita ini kamu merusaknya dengan mengingat gadis gendut itu." Sally pura-pura manyun.


"Gea cukup, selama ini aku selalu bersabar menghadapi sikap mu itu. Sekarang aku tidak ingin lagi mendengar kamu meracuni dan mempengaruhi lagi pikiran Aldo dengan sikap buruk dan ambisi sesatmu itu." Semua terdiam, tidak menyangka papa tiba-tiba datang dan memarahi istrinya.


"Aku tidak mempengaruhi Aldo pa, tapi i I kenyataan yang harus dia terima dan hadapi." Ucap Gea.


"Mulai sekarang papa tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki dirumah ini. Papa kesini berharap kalian berubah seperti Janji mu kemaren. tapi apa ma....kamu semakin menjadi-jadi." Ucap papa. Yang sudah muak menghadapi sikap istrinya yang serakah, dan Aldo yang juga mengikuti siafat mamanya.


Dulu dia sangat bahagia saat Meisya menikah dengan Aldo, karena berharap sikap buruk istrinya berubah. Namun malah makin menjadi-jadi, dan bertambah serakah.


"Terserah kamu mas, yang jelas aku tidak mau dan capek hidup miskin dan susah selama ini dengan mu, sekarang terserah kamu aku tidak akan pernah meminta mu kembali lagi kerumah ini." Balas Mama Gea.


Aldo pergi begitu saja meninggalkan rumah, dia capek mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Sally ikut berlari mengejar langkah kaki Aldo. Dia mempunyai senjata yang ampuh meredakan emosi dan kekesalan tunangannya itu. Sally masuk kedalam mobil Aldo dan langsung mengeluarkan jurus Cinta nya, yang selalu berhasil membuat Aldo ketagihan dan mendesah panjang.


"Meisya, bagaimana pun kamu akan selalu kalah olehku." Bisik Sally tersenyum angkuh. Malam itu mereka habiskan dengan percintaan panjang dalam mobil Aldo yang masih terparkir dihalaman luas rumah Meisya.


Sementara itu, Meisya menghirup nafas dalam-dalam, dan mengeluarkan secara perlahan, yah gadis itu telah membulatkan tekadnya. air mata seakan tidak ingin menetes lagi dikedua belah pipinya.

__ADS_1


 "Kita kembali kepentingan ya, sudah malam nanti kamu bisa masuk angin." bujuk Devan.


"Ngak kak, aku masih betah disini." Ucap Meisya yang kembali berteriak sekencang-kencangnya, hingga membangun kan para monyet yang tidur di atas pepohonan tempat mereka berdiri sekarang.


__ADS_2