
Devan menatap intens wajah Meisya, dia ingin memastikan siapa laki yang sedang dimimpikan oleh Meisya, sehingga dia begitu kuat merangkul nya.
“Aku...aku, tidak memimpikan apapun,” Meisya tidak ingin berkata jujur, jika dirinya barusan memimpikan kak Devan nya.
“Pasti kamu selalu memikirkan si brengsek Aldo, sehingga tertawa kedalam mimpi segala.” Nada suara Devan seolah-olah mencemoohkan Meisya.
“Aku tidak pernah memikirkan nya lagi kak,” ucap Meisya memalingkan muka, Meisya mersa kesal mengingat kak Devan selalu menuduh nya jika dia masih menyimpan perasaan pada mantan suami bresengsek nya itu.
Devan bangkit dari ranjang Meisya, dia berjalan menuju meja rias Meisya dan merapikan rambut serta penampilannya. di depan kaca besar yang terletak ditengah-tengah ruangan kamar Meisya.
“Kak Devan mau kemana?” Meisya mengerutkan keningnya melihat tingkah kakaknya.
“Kakak mau pergi ke Club malam, ada janji dengan teman-teman lama kakak dulu,” balas Devan sibuk merapikan penampilannya. yang sebenarnya dia hanya ingin menenangkan pikiran dan perasaan nya yang sesungguhnya terhadap Meisya.
“Kak Meisya boleh ikut ngak?”
Meisya berjalan kearah Devan, dengan posisi saling berhadapan.
“Club malam itu, bukan tempat yang baik untuk gadis seperti mu dek, ditambah lagi kondisi mu yang belum sempurna pulih dari sakit” Devan memegang kedua bahu Meisya meyakinkan.
“Tapi Meisya kesana bukan sendirian, tapi bersama kakak lagian bosan dirumah terus." Meisya masih ngotot ingin ikut.
“Tidak Meisya, kamu itu baru sembuh.” Devan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Meisya yang terlihat sangat kesal.n sambil mengepalkan tangannya.
“Pokoknya Meisya ikut,” Meisya segera menganti pakaian nya, dengan pakaian dan mengolesi bibir mungilnya dengan lipstik. agar tidak terlihat terlalu pucat.
Meisya yang keras kepala, langsung berlari menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, namun begitu sampai dihalaman luas itu, Devan ternyata sudah melajukan mobilnya meninggalkan halaman Rumah di saat Meisya baru sampai diteras utama.
“Kak Devan tunggu, tunggu kak,” tetiak Meisya, namun Devan tidak menghiraukan teriakannya. Karena dia tidak mendengar teriakan Meisya sama sekali.
__ADS_1
Dengan kesal Meisya nekat, dia langsung masuk kedalam mobilnya sendiri, dan mulai meluncur mengikuti arah mobil Devan dari belakang, meskipun ketinggalan jauh. tapi Meisya sudah dapat mengetahui Club malam mana yang akan dikunjungi oleh kakaknya.
Meisya memarkir mobilnya, dan melangkah masuk sambil bertingkah pura-pura. seolah-olah dia sudah terbiasa memasuki Club malam, meskipun sejujurnya gadis itu berusaha menyembunyikan kegugupan nya. mengingat ini pengalaman pertama baginya memasuki sebuah club malam yang terkenal dengan image negatif.
Meisya mengedarkan pandangannya, berusaha mencari-cari sosok Devan yang tidak terlihat. meskipun Meisya semakin mengayunkan langkah kakinya memasuki ruang demi ruangan, yang tercium aroma alkohol yang sangat menyengat dan duara musik yang memekakkan gendang telinga.
“Kak Devan dimana ya,?”
Perasaan cemas dan takut mulai menghantui Meisya, setelah memasuki Club dan tidak menemukan sosok Devan. Meisya duduk disalah satu kursi depan bartender dan memesan minuman mineral.
Sebenarnya Meisya ingin langsung pergi meninggalkan Club, namun dia mulai mersa risih dan berpura-pura bersikap biasa-biasa saja saat sepasang mata elang tengah memperhatikan nya dengan senyum mesum. Laki-laki paruh baya dengan perut yang sedikit membuncit itu berjalan mendekati meja Meisya.
“Hay cantik boleh aku temani,” godanya sambil duduk disebelah Meisya yang mulai gemetar.
Meisya mulai Ketakutan melirik laki-laki yang duduk disampingnya, keringat dingin mulai membasahi tengkuknya yang dingin.
“Sayang, jangan palingkan wajah cantik mu itu, ayo temani aku bersenang-senang aku akan memberikan berapa pun yang kamu inginkan.” Sebelah tantangannya terangkat mengelus dan mengendus-endus rambut bergelombang Meisya yang tergerai lepas.
“Tidak, aku tidak Sudi melayani ku laki-laki brengsek,” teriak Meisya spontan, tanpa sadar keberanian nya tiba-tiba muncul dengan kasar dia mendorong tubuh laki-laki itu hingga terjatuh kelantai Club. Aksi berani Meisya membuat mereka menjadi pusat perhatian semua pengunjung Club malam.
musik tiba-tiba terhenti.
Ada juga diantara mereka yang bergidik ngeri membayangkan nasip gadis pemberani setelah melawan Bos besar mafia yang sangat ditakuti diclub itu. Ada juga yang menatap iba dan salut atas keberaniannya.
“Tangkap ****** ini, dan seret dia kekamar ku,” perintah laki-laki itu dengan wajah memerah menahan amarah dan malu Karena menjadi pusat perhatian semua orang.
Meisya mundur beberapa langkah, tubuh dan keberanian nya tiba-tiba menciut begitu melihat beberapa kaki-laki bertubuh besar dan berotot berjalan ingin mengepungnya.
“Kak Devan...., Kak Devan....tolong Meisya,” teriak Meisya ketakutan dan panik. tubuhnya melorot dilantai dan menelungkup memeluk tubuhnya dari laki-laki yang semakin mendekat kearahnya.
__ADS_1
Devan yang sedang tertawa bahagia bersama teman-temannya, langsung terhenti begitu mendengar teriakan Meisya yang lantang, karena sudah tidak ada lagi suara musik yang biasanya hingar-bingar memekakkan telinga itu. Devan langsung memacu langkah nya berjalan kearah asal suara.
"Ternyata Meisya benar-benar mengikuti ku. bagaimana ini?" gumam Devan panik. seketika ide gila muncul dibenak Devan.
“Istriku sayang, sudah berkali-kali aku memperingatimu untuk tidak mengikuti sampai ketempat ini. Tapi sekarang lihatlah kamu membuat kita terpuruk kedalam masalah besar. bagaimana caraku sekarang menghadapi mereka yang bertubuh besar dan mempunyai otot ini.” teriak Devan seolah-olah sedang memarahi Meisya yang masih tercekat menatap Devan yang muncul tiba-tiba.
Kemudian Devan berbalik menghadap kearah komplotan itu sambil mengatup kedua tangannya.
“Tuan yang terhormat, tolong maafkan kesalahan dan kekencangan istriku ini. Aku sadar jika kami tidak akan pernah mampu menghadirkan melawan Kalian.”
“Cepat lari,” kode Devan kearah Meisya, saat melihat komplotan itu lengah dengan kata-kata nya.
Secepat kilat, sebelah tangan Devan menarik tangan Meisya yang ikut berlari meninggalkan Club.
“Kejar mereka,” perintah Bos komplotan itu geram sambil mengepalkan tangannya.
Aksi kejar-kejaran terus berlanjut, hingga Meisya tidak mampu mengayunkan kakinya. Tenaga gais itu seolah-olah habis. Dengan nafas ngos-ngosan gadis itu mencoba menarik nafas panjang bertumpu pada kedua lututnya yang mulai goyah.
“Cepat Meisya,” teriak Devan lagi mundur mendekati Meisya.
“Kak Devan, Meisya sudah tidak kuat lagi kak.” Ucapnya.
“Itu mereka cepat kejar,”
Devan yang panik segera kanaikan Meisya kepunggungnya dan mencari tempat persembunyian.
“Kak Devan pergilah biarkan Meisya disini, “ ucap Meisya yang tidak tega melihat Devan kesusahan mengendong nya.
"Tidak dek, kakak menyayangi mu dan sudah berjanji untuk selalu menjaga dan melindungi mu apapun terjadi. " ucap Devan
__ADS_1