Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Mencari Paranormal


__ADS_3

“Apa, kamu mikirin kakak?” tanya Devan, menghentikan suapan terakhir nya. menatap lembut Meisya yang tiba-tiba berubah gugup dengan muka merah merona.


“Maksud Meisya, mikirin cara kak Devan  untuk melawan mereka, agar kita bisa memiliki apa yang sudah menjadi hak kita." Akirnya Meisya bernafas lega bisa mengalihkan topik pembicaraan.


“Kamu ikuti saja permainan kakak, jika mereka bisa licik. kita akan jauh lebih pintar menghadapi musuh seperti Aldo dan keluarganya itu.” Balas Devan berdiri bersiap untuk pergi.


“Kak Devan mau ke mana,?”


“Mau mutar-mutar dulu sapa tau ketemu bidadari dinegara kita ini. biar kakakmu ini tidak menyandang status jomblo akut lagi.” Godanya Meninggalkan Meisya yang masih menatap punggung Devan yang pergi meninggalkan rumah.


"Kak Devan, aku masih merindukan mu kak. dan masih ingin ngobrol-ngobrol lama dengan mu." gumam Meisya sambil melambaikan tangan melihat mobil Devan yang sudah meluncur pergi meninggalkan pekarangan rumah mewah ini.


Sementara Aldo, Mama Gea dan kekasihnya Sally masih mengatur pernafasan mereka. Yang habis ketakutan setelah mendengar Suara tawa persis kuntilanak dan suara Meisya.


“Ma, aku yakin sekali Meisya tidak tenang di alamnya.?” Terang Aldo resah, keringat dingin membasahi wajah tampan nya.


“Mama pikir juga begitu, sebaiknya kita harus mendatangi paranormal. Bagaimana menurutmu Sally.?”  Menatap calon menantu nya yang sedari tadi bungkam Karena madih syok dengan kejadian yang mereka alami barusan.


“Sal.... Sally setuju saja ma.” Balasnya tergagap.


"Tapi Mama tidak tahu dan kenal satupun Paranormal, mengingat selama ini Mama dan Aldo tidak mempercayai hal ini, tapi sekarang kami berdua benar-benar Bingung dan tidak punya pilihan lain." Ucap Gea.


"Aku punya salah seorang paranormal kenalan salah seorang asisten ku, kita bisa menghubungi nya meminta alamat Paranormal tersebut." ucap Sally.


Setelah mendapatkan alamat Paranormal, Siang itu mereka mendatangi alamat tersebut, Aldo tanpa pikir panjang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi Menuju tempat itu, dia masih ketakutan jika itu benar-benar arwah Meisya mantan istri jeleknya.


“Kamu yakin ini tempatnya Sally?” tanya Gea yang terlihat ragu melihat rumah yang terlihat sepi dan terpencil itu. bahkan disekelilingnya tidak ada satupun rumah penduduk lainya.

__ADS_1


“Yakin ma, ”


Dengan langkah ragu, dan sedikit takut-takut mereka mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu tersebut, sementara Sally lebih memilih bergelayut di lengan Aldo, sebelah tangannya mengigit jemarinya. Dia tidak sanggup membayangkan jika Meisya kembali menuntut pertanggungjawaban atas kematian nya.


“Tok...tok...tok..” Aldo mengetuk pintu dari luar.


“Masuk.” Terdengar suara berat dan kasar dari dalam rumah.


Ceklek.....,, pintu terbuka lebar.


“Aaaa....tidaaaakkk...,” teriak Mama Gea dan Sally berbarengan, ketika melihat patung persis tengkorak hidup berdiri di hadapan mereka. seolah-olah tangan yang bergoyang-goyang itu ingin menarik dan menangkap tubuh mereka berdua.


“Kalian tolong tenang, itu Cuma patung.” Bentak Aldo yang mulai terlihat kesal dengan tingkah mama dan kekasihnya Sally yang sangat berlebihan menurutnya.


“Untuk apa kalian mendatangi kediaman ku?” seorang laki-laki bertubuh besar dan kumis hampir menutupi seluruh mulut nya. sedang duduk bersila dan memainkan kumisnya yang tebal.


“Ka... Kami mauminta pertolongan mbah.” Ucap Sally.


Mereka bertiga duduk dihadapan paranormal yang masih memelintir kumisnya. sementara Sally kembali bergelayut di lengan Aldo.


“Kami diganggu oleh arwah gentayangan Mbah.” Ucap mereka serempak.


“Baiklah itu Cuma perkara kecil bagi ku.” Memainkan tangannya diatas a kendi yang berisi air, nampak Kilauan cahaya yang terpancar dari cicin batu akik nya, yang sengaja diarahkan melalui cahaya lampu-lampu yang dibuat temaram. serta kumpulan asap yang tiba-tiba muncul.


Suasana semakin mencekam, tiba-tiba ruangan itu terlihat gelap, dan lampu kembali menyala. Sang paranormal mulai sibuk dengan mantra-mantra nya. Satu setengah jam berlalu nampak paranormal sibuk mengibas-ngibas tangannya dengan sebuah keris. Setelah itu dia menyimpan kembali kerisnya dengan nafas ngos-ngosan.


“ Dia lawan yang sangat kuat, kalian bertiga harus hati-hati.” sambil memberikan tiga buah kalung.

__ADS_1


“Pakailah lah kalung ini. Agar arwah gentayangan itu takut mendekati kalian. kalau perlu lempar dia pakai pasir putih ini, agar dia kembali ke alamnya dan tidak pernah berani muncul lahi.”


“Babaik Mbah.” Mengambil kalung itu, dan memasang nya dileher masing-masing. serta kantong kecil yang berisi pasir putih.


“Sekarang kalian boleh pergi, aku akan membantu kalian dari jarak jauh.” Ucap nya memainkan kumisnya kembali.


“Baik, terimakasih Mbah.” Sambil mengeluarkan sejumlah uang, dan menyerahkan ketangan paranormal itu. Lalu mereka berdiri bersiap untuk segera pergi kembali.


“Tunggu, aku barusan mendapatkan bisikan. Jika jumlah uang ini tidak cukup bagi jin dan dedemit yang aku tugaskan untuk melawan arwah perempuan itu.” Mata paranormal gadungan itu tertuju pada perhiasan yang dikenakan Sally danmama Gea.


"Aku butuh perhiasan kalian berdua sebagai jaminan nya, jika usaha ini gagal kalian bisa kembali lagi menemuiku dan mengambil semua nya kembali." terang Paranormal gadungan itu sambil tersenyum yang terlihat begitu menyeramkan.


"Ba... Baiklah Mbah."


Akirnya dengan berat hati, keduanya membuka perhiasan berharga mereka dan meletakkannya diatas meja kecil dihadapan paranormal yang masih berusaha menyembunyikan senyum dan tawanya.


Setelah melihat mobil Aldo telah berlalu meninggalkan halaman rumahnya, paranormal gadungan dan istrinya yang merupakan asisten rumah tangga Sally itupun tos bareng, mereka tertawa bahagia dan senang,  Melihat korban mereka berikut nya ini memberikan sejumlah uang dengan jumlah banyak, termasuk perhiasan berharga yang mereka miliki.


"Mereka berdua benar-benar bodoh, ha...ha...hari gini masih percaya Paranormal." Ucap nya sambil bersiap meninggalkan tempat itu, dan pindah ketempat lain mencari mangsanya yang baru.


 Sampai dirumah nya, Sally menatap leher putih bersih nya. Yang biasanya terpasang kalung Berlian indah dengan harga fantastis, sekarang digantikan dengan kalung yang terlihat seperti imitasi berhias kepala tengkorak didepan nya.


“Benar-benar penampilan yang membuatku jelek dan tidak seperti wanita sosialita lagi, tapi aku harus bisa apa selain mengikuti perkataan paranormal sialan itu.” Mengumpat sendiri didepan cara meja hiasnya.


Sally menaburkan pasir putih disekitar kamar, dan sisanya dia meminta salah satu pelayan untuk menaburkan disekeliling rumah besar nya.


"Aku yakin kuntilanak itu tidak akan berani muncul lagi." gumam Sally.

__ADS_1


Sally mengambil ponselnya, yang tergeletak begitu saja diranjang. Dia ingin menghubungi Aldo kembali. Meskipun seharian ini mereka selalu bersama, namun malam ini Sally mersa ketakutan. Dan ingin sekali Aldo menemaninya, Setelah panggilan ketiga barulah Aldo mengangkat panggilan nya.


 


__ADS_2