
Semua karyawan dikantor Devan, dibuat heboh dengan kedatangan Meisya.
" Wah cantik nya, pasti dia calon istri tuan Devan." bisik mereka.
"Pasangan yang sangat cocok." terdengar jawaban yang lainya.
" Ternyata bos Devan yang kita kenal jomblo ini, Memiliki kekasih yang sangat cantik, ayu lagi."
Meisya menunduk malu ketika mendengar bisik-bisik Mereka, sementara Devan tidak mempermasalahkan, bahkan dia terlihat tenang masuk keruangan kerja nya.
"Meisya, sebentar lagi aku akan memerintahkan Juna asisten ku untuk menyiapkan ruang kerja baru untuk mu." terang Devan yang mulai bekerja.
"Baik kak," Meisya duduk disofa yang menghadap langsung ke jendela, dia tersenyum senang melihat hamparan pantai yang luas terdapat dibagian belakang kantor Devan.
"Meisya, semoga kamu betah belajar dan bekerja disini. sampai Waktunya kamu benar-benar siap untuk kembali ketanah air." Ucap Devan.
"Iya kak," balas Meisya tiba-tiba semangat nya hilang. berat rasanya untuk dia berpisah dari Devan yang selama ini menemani hari-hari Meisya baik saat suka dan duka nya.
"Meisya, kamu kenapa menangis?" Devan berjalan menghampiri Meisya yang cepat-cepat menghapus air matanya.
"Kak terimakasih karena sudah ada untuk Meisya, kakak juga sangat baik tulus membantu Meisya." tanpa sadar Meisya menghambur memeluk tubuh Devan.
Devan gelagapan, dia bingung harus bagaimana mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Meisya, dia mersa sesuatu perasaan aneh mulai merasuki relung hati terdalam nya.
"Tentu Meisya, kakak menyayangi mu." itulah perkataan yang sering diucapkan Devan, yang membuat Meisya sering terbang karena bahagia.
"Ayo Meisya, ruangan kerja baru mu sudah siap untuk ditempatkan." Ucap Devan sambil membimbing tangan Meisya, tiba-tiba dia tersadar dan kembali melepaskan pegangannya.
"Ma...maaf Meisya." Ucap Devan gugup. kecanggungan seakan hadir ditengah-tengah mereka berdua.
__ADS_1
"Bagus." Ucap Meisya menata suka ruangan kerja barunya.
"Semoga kamu bisa bekerja dengan baik, Juna asisten ku akan selalu membantu mu nantinya." Ucap Devan sambil keluar dari ruangan kerja Meisya.
"Iya kak."
Meisya mulai belajar banyak dari Juna yang mempunyai banyak pengalaman di bidang perusahaan. meskipun suasana kantor masih sibuk bisik-bisik mengingat Bos mereka yang selalu ini dikenal cuek dan dingin terhadap wanita, tiba-tiba sekarang sudah mengandeng wanita cantik dikantornya.
Meisya juga menjadi pusat perhatian para pria, senyumnya yang begitu menawan dengan bentuk tubuh yang indah, serta sikap Meisya yang baik dan tidak sombong, membuat semua orang menyukainya.
Meisya tersenyum senang menjalani kehidupannya yang baru, meskipun teringat dengan bentuk wajahnya yang dulu, dimana dia sering dipandang sebelah mata, bahkan disekolah pernah orang mengucilkan karena kejelekan nya, namun mereka kembali mendekati Meisya ketika mengetahui jika dia anak orang kaya.
Meisya saat itu sering merasa kesepian, menerima kehadiran mereka teman-teman yang tidak tulus, yang hanya menginginkan keuntungan dari Meisya, namun gadis itu tidak mempermasalahkan semua itu asalkan dia mempunyai seorang teman.
Masih ingat dengan jelas, saat Aldo mendekati Meisya dulunya. dia dan mamanya sangat bersikap manis dan memperlakukan Meisya dengan penuh kelembutan, begitu mengetahui jika Meisya sangat menyukai Aldo.
Dengan ketekunan dan kegigihan, Meisya juga belajar banyak hal termasuk les beberapa bahasa asing. Meisya sekarang juga sangat Pintar, mampu menguasai beberapa bahasa asing dalam waktu yang relatif singkat, dan mahir dalam mengelola perusahaan, banyak pengusaha muda lainya tertarik dan jatuh cinta melihat Meisya, namun gadis itu menolak dengan halus meskipun tidak ada lagi Aldo dihatinya.
Meisya juga bingung sejak kapan perasaan itu muncul yang jelas sekarang dia merasa nyaman berada didekat Devan.
"Ya Tuhan, ini salah dan aku harus segera menghilangkan perasaan yang ini. kak Devan adalah kakaku sekarang dan untuk selamanya." gumam Meisya.
"Kak Devan hanya menganggap ku tidak lebih sebagai adik perempuannya saja." Meisya kembali membatin.
Meisya sekarang merasa betah dan tenang jika sudah menatap wajah Arya yang sekarang disadari nya terlihat begitu tampan dan mempesona. Hingga mampu menggeser posisi Aldo yang selama ini bersemi indah dihatinya.
"Meisya, kita makan siang dulu disebelah ruangan kakak.?" Ucap Devan mengagetkan lamunan panjang Meisya.
"Iya kak, Meisya segera kesana." balas Meisya. semakin suka dan bahagia menjalani hari-hari berda didekat Devan, mereka hampir tiap hari makan siang bareng diperusahaan.
__ADS_1
Pagi ini "Tumben mau bareng kakak, padahal selama ini kamu sudah terlihat nyaman dengan mobil baru yang kakak kasih." Devan Menatap Meisya yang akir - akir ini terlihat mulai aneh dan bersikap sangat manis dan menurut perkataan Devan.
"Ngak tau juga, Cuma Meisya mersa nyaman dan tenang jika bersama dekat kak Devan." refleks Meisya langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan begitu menyadari ucapan nya.
"Aduuuuuh...malunya, .bod...... kamu Meisya." merutuki keceplosan nya barusan. sementara Devan hanya tersenyum mendengar dan melihat wajah merona Meisya.
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, Meisya lebih banyak diam, dan merutuki perasaan nya yang salah terhadap kakaknya itu, sehingga dia memikirkan cara bagaimana supaya dia bisa menghilangkan perasaan itu sebelum semakin bersemi indah dihatinya.
"Tuh kan melamun lagi, Meisya kakak perhatikan kamu akir ini bertambah aneh. Tau nggak.?" Ucap Devan menggoda nya.
"Kak mungkin sekarang saatnya untuk Meisya kembali ke Indonesia, dan mulai membalas perbuatan mereka." Ucap Meisya tiba-tiba seakan mendapatkan ide untuk menjauh dari Devan dan membalaskan rasa sakit hati dan merebut harta milik keluarga nya kembali.
"Kakak pikir juga begitu, karena perusahaan besar peninggalan papa sedang mengalami kebangkrutan, karena dikelola dan dipimpin oleh orang yang salah." Ucap Devan sedih begitu juga Meisya. Menyesal pernah begitu mencintai Aldo.
"Ini kesalahan ku, yang begitu ngotot dan menginginkan Aldo, meskipun kak Devan, Mama dan papa dulu sering wanti-wanti mengingat kan agar Meisya bisa sadar dan melihat siapa sebenarnya Aldo ." Ucap Meisya lirih.
"Sekarang bagaimana perasaanmu terhadap pria brengsek itu.?" Ucap Devan memastikan perasaan Meisya, dia tidak ingin Meisya akan kembali lemah jika bertemu dengan Aldo lagi.
"Sudah tidak ada lagi kak, malah sekarang aku sangat membencinya termasuk ibunya yang serakah itu." Ucap Meisya menyesali kebodohannya dulu.
"Baguslah, jika begitu kakak bisa tenang melepaskanmu kembali. Karena kakak yakin kamu tidak akan tergoda lagi pada pria brengsek itu." Devan menarik nafas lega.
"Tentu kak." Tersenyum dan mengangguk mantap.
Sesuai waktu yang telah ditentukan, Meisya hari ini sudah bersiap untuk kembali, dengan penampilan serta bentuk tubuh yang baru, dia tampil penuh percaya diri.
Devan tersenyum bangga akan hasil usaha keras mereka selama ini. Paling tidak, tidak ada yang akan mengenali gadis itu lagi, termasuk menganti identitas Meisya sebagai Gisella.
__ADS_1