
“Meisya, tujuan ku datang keindonesia ini Cuma igin mengejar cintanya mas Devan. Kami sudah lama menjalin persahabatan dan cukup dekat. Sehingga aku tidak bisa melirik laki-laki lain selain mengharapkan Cinta nya mas Devan." Bunga berterus terang pada Meis berharap dengan seperti ini, dia mersa lega dan juga ingin mendapatkan dukungan gadis itu.
"Dari semula, aku sudah menduga hal ini karena aku bisa melihat dari tatapan kak bunga pada kak Devan." terang Meisya mencoba untuk bersikap sewajarnya.
" Meisya apakah kamu mau membantu ku,?”
"Bantu seperti apa kak Bunga?"
Meisya tertegun, dia juga sudah mulai mencintai Devan. Bahkan Meisya seakan ingin memiliki laki-laki tampan itu seutuhnya, dia merasa tidak ingin kehilangan Cinta nya lagi. Setelah penghianatan Aldo. Tapi sekarang Meisya benar-benar dilema. Mengingat kebaikan Bunga yang begitu tulus pernah membantu nya.
“Aku ingin menjadi kakak ipar mu, tapi mas Devan, maupun aku Masih belum juga mengungkapkan perasaan kami masing-masing. Sementara aku juga malu mengungkapkan perasaan ku terlebih dahulu, jadi aku harus bagaimana sekarang Meisya?” ucap Bunga dengan wajah memelas nya.
“Sebaiknya kak Bunga berterus terang, dan siap dengan segala jawaban yang akan diberikan oleh kak Devan. Karena Meisya yakin kak Devan ngak bakalan mengecewakan kakak.” Terang Meisya.
“Dari mana kamu tahu, jika mas Devan tidak akan mengecewakan ku?”
“Karena ku tahu, kak Devan itu tidak pernah dekat dengan sembarangan wanita, dia hanya dekat dengan kak Bunga dan aku adiknya.” Jawab Meisya terseyum lembut menyembunyikan keresahan nya saat ini.
“Baiklah Meisya, besok kakak akan mencoba mengungkap kan perasaan kakak pada mas Devan. Kamu bantu doa ya dek, semoga saja kami jadian dan bisa menikah hingga hidup bahagia.” Bunga terlihat bersemangat senyum tidak lepas dari wajah cantik nya, meskipun seharian ini mereka habiskan dengan jalan-jalan.
Bunga sudah mempersiapkan rencana sebaik mungkin, dia sudah membulatkan tekadnya untuk menyatakan cintanya pada Devan. sore ini, Bunga juga meminta bantuan Meisya untuk menyiapkan makan malam romantis yang akan diadakan di taman rumah. Meskipun sederhana namun tidak mengurangi kemewahan dan keindahan taman yang sudah didesain oleh Bunga dibantu Meisya.
Beberapa hidangan makanan dan minuman sudah tersusun dengan rapi, serta cahaya lampu dan lilin yang seakan berlomba memberikan warna warni keindahan cahaya mereka yang sedikit temaram.
__ADS_1
Sekitar meja makan juga dipasang cahaya lilin yang menyerupai Love Devan. Serta musik klasik yang akan mereka putra untuk Bunga dan Devan nanti, agar mereka berdua bisa berdansa menikmati Romantisnya malam.
Meskipun kecewa, namun Meisya tetap berbesar hati merelakan Devan dan Bunga bisa bersama.
“Meisya, lihat mobil mas Devan sudah sampai di halaman depan.” Ucap Bunga yang terlihat gugup dan grogi, dia sudah didandani oleh Meisya secantik mungkin.
“Okey, kak Bunga tidak usah gugup. Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, terus ulangi lagi.” Ucap mereka mulai bersiap-siap menyambut kedatangan Devan pulang dari kantor.
Ceklek pintu terbuka, namun terlihat kosong. Devan Mengerutkan kening bingung sambil mengayunkan langkah mencari-cari keberadaan Bunga dan Meisya yang biasanya menyambut jika dia pulang kerja.
Devan terus mencari hingga matanya membulat melihat taman yang dihias seindah mungkin dengan makanan yang sudah tersedia. Devan berjalan mendekati gadis yang duduk membelakangi nya seorang diri. Devan yakin dari bentuk rambut dan tubuh nya gadis itu pasti Bunga.
“Bunga,”
“Mana Meisya?”
“Dia, dia lagi dikamar mas.” Bunga mulai bersiap menyusun kata-kata nya, yang akan diungkapkan dan diucapkannya pada Devan malam ini. sambil *******-***** jemari tangannya yang terasa dingin.
“Mas Devan silahkan duduk dulu,” Bunga bangkit dan mendekati Devan yang Masih terlihat kebingungan.
“Siapa yang menyiapkan semua ini,?”
“Aku dan Meisya mas,” kegugupan Bunga Semakin terasa saat mereka sudah duduk saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, hembusan nafas Devan terdengar lembut menyentuh kulit wajah Bunga.
__ADS_1
“M..mas Arya, ini semua ide ku. a...a.aku meminta bantuan Meisya karena selama ini aku sangat menyukai mas, dan ingin menjadi wanita yang akan mendampingi mas.” Ucap Bunga sambil berusaha mengendalikan kegugupannya.
Devan tercekat, dia tidak menyangka akan seperti ini Bunga mengungkapkan perasaan nya disaat Devan tengah galau dengan perasaan yang masih berkecamuk berperang dipikiran nya. Meisya dan Bunga merupakan wanita yang dekat dengannya selama ini, sama-sama baik dan tulus tidak seperti perempuan lainnya yang mengejar-ngejar cinta Devan karena harta dan ketampanannya saja.
“Bagaima mas? apa kamu mau menerima diriku. atau kamu juga telah mempunyai seseorang yang telah memenangkan hatimu?” tanya Bunga hati-hati dan menyiapkan perasaannya jika seandainya kekhawatiran nya itu menjadi kenyataan.
Devan menarik nafas dalam-dalam, dan mengembuskan napasnya perlahan. dihatinya hanya ada Meisya sekarang, tapi bunga selama ini juga sangat baik.
“Aku benar-benar dilema, jika dengan menerima kehadiran dan Cinta Bunga, aku bisa melupakan perasaan ku yang salah ini pada adikku Meisya. Dan Meisya juga tidak berharap lebih padaku saat dia tengah terluka dan kecewa terhadap mantan suaminya Aldo, tapi aku juga tidak ingin terjebak dalam kebohongan dan cinta palsu jika menerima Bunga.” Devan masih perang bathin dengan perasaannya sendiri.
Begitu juga dengan Bunga, gadis itu menunduk malu sambil *******-***** jemari tangannya yang terasa dingin.
“Bunga kamu terlalu percaya diri menyatakan cinta pada Devan. Sekarang lihatlah dia hanya diam mendengarkan penuturan mu, mungkin saat ini dia akan membencimu dan menjauh setelah tahu perasaan mu yang sesungguhnya Bunga, ya Tuhan, bagaimana ini? Seharusnya aku tidak melakukan makan malam romantis dan mengeluarkan kata-kata itu. Bunga kenapa kamu tidak berfikir dulu sebelum bertindak. Kenapa kamu tidak memendam saja rasa cinta dihatimu itu,” Bunga merutuki perasaannya dan perbuatan nya dalam hati dengan masih menundukkan kepalanya.
“Bunga angkat wajahmu dan tatap ah aku,” terdengar suara Devan yang memecahkan lamunan Bunga.
"Bunga maafkan aku, bukan aku berniat menolak ataupun mempermainkan perasaan mu. tapi aku masih bingung dengan perasaanku sendiri, ditambah lagi permasalahan yang aku hadapi sekarang sehingga dengan kesibukan itu aku belum memikirkan untuk menjalin hubungan, aku tidak ingin kamu merasa kecewa dengan kesibukan ku nanti, mengabaikan mu atau apapun itu yang nantinya membuat mu merasa jenuh. sekali lagi aku minta maaf Bunga." Ucap Devan.
"Iya mas, aku ngeri kok." Ucap Bunga mengusap air mata nya, dia berusaha untuk tersenyum semanis mungkin untuk menutupi kesedihannya.
"Aku harap kita masih menjadi sahabat baik, kamu tidak marah kan Bunga?"
"Sama sekali tidak mas," Bunga mengajak Devan makan malam, meskipun perasaannya saat ini hancur.
__ADS_1