
Sally mengambil ponselnya, yang tergeletak begitu saja diranjang. Dia ingin menghubungi Aldo kembali. Meskipun seharian ini mereka selalu bersama, namun malam ini Sally mersa ketakutan. Dan ingin sekali kekasih pujaan menemaninya, Setelah panggilan ketiga barulah terdengar Suara Aldo mengangkat panggilan nya.
“Hallo Sally ada apa.?” Akhir-akhir ini Aldo sudah mulai mersa jengah dan bosan dengan sikap manja dan memaksa Sally.
“Al malam ini tidur di apartemen ku ya.!” Pintanya penuh harap, Sally juga merasa tengkuknya yang tiba-tiba dingin.
“Tidak bisa Sally, karena aku sedang sibuk. Karena lusa pelelangan rumah dan perkebunan akan dilaksanakan.” Ucap Aldo.
“Al please, takut benar-benar takut tidur sendirian sekarang, semenjak kejadian mendengar suara itu.” Ucapnya sambil bergidik ngeri.
“Kamu kan sudah memakai kalung itu Sally, jadi arwah Meisya tidak mungkin akan mendatangi mu lagi, atau kamu mempunyai kesalahan besar selain kesalahan yang pernah kita lakukan berdua dulu.” Selidiki Aldo yang mersa agak curiga, karena Sally selalu melarang jika dia berniat mengungkit kasus meninggalnya mantan istrinya Meisya.
“Kesalahan apa sih Al maksudmu?, aku tidak pernah bertemu atau menemui Meisya lagi. Semenjak dia memergoki hubungan kita diapartement dulu.” Elak Sally serba salah karena dialah yang dengan tanpa perasaan menabrak tubuh Meisya hingga terluka parah, bahkan dia berfikir Meisya sudah meninggal karena kecelakaan itu.
“Ya udah, aku capek dan jangan hubungi aku dulu.” Aldo langsung menutup begitu saja ponselnya.
"Sayang tunggu...kamu kok berubah sekarang." rengek Sally.
Aldo tidak menghiraukan nya lagi, dia membanting kesal ponselnya. mengingat banyak masalah yang harus dia selesaikan dari pada melayani sifat manja Sally saat ini.
"Mau tidak mau sebagian perkebunan dan rumah mewah ini akan segera perpindah tangan." gumam Aldo sambil memperhatikan kartu nama yang dipegangnya.
Tertera nama Gisella, seorang pengusaha muda. yang akan membeli ru!ah dan perkebunan. Aldo mersa sangat penasaran dengan sosok perempuan muda yang menawar rumah dan perkebunan dengan harga yang fantastis itu.
"Sehebat dan secantik apa sih sosok Gisella itu, dan dia benar-benar kaya. tanpa pikir panjang dia langsung setuju membeli sebagian aset mantan istriku." gumam Aldo penasaran, karena Sebelum ini, Aldo menugaskan asisten dan pengacara keluarga Meisya untuk mengurus semua proses penjualan nya.
"Besok aku dan mamanya, sudah harus meninggalkan rumah mewah mewah ini. " Aldo mengelilingi rumah mewah tersebut, sambil menikmati gumpalan asap rokoknya.
"Aldo,"
__ADS_1
Gea tiba-tiba muncul dibelakang sang putra kebanggaan nya itu.
"Ya ma,"
"Ternyata berat juga ya meninggalkan rumah ini, Mama menyesal telah hidup berfoya-foya. coba saja kita bisa mengelola keuangan dengan baik. mungkin rumah semewa dan sebagus ini masih bisa kita tempati." Tutur Gea.
"Apa mama sudah membereskan semua barang-barang Mama.?" tanya Aldo.
"Sudah sayang, terutama perhiasan-perhiasan Mama dan orang tua Meisya dulu. Mama tidak akan membiarkan tertinggal satu benda pun." Ucap Gea antusias.
"Baguslah ma, paling tidak kita tidak begitu kehilangan banyak Harta." balas Aldo.
Besoknya, Aldo bersama asistennya dan juga didampingi seorang pengacara yang mengurus harta kekayaan Meisya dulu, datang menemui Gisella. untuk segera melakukan proses transaksi jual beli mereka yang semula sudah disagupi dan disetujui Gisella.
Gisella memperbaiki sedikit penampilanya, sebelum melangkah mendekati Aldo yang menunggu di ruangan kerja perusahaan kakak angkatnya Devan, yang sengaja digunakan Gisella. Semua bungkam seakan terhipnotis oleh kecantikan nya, terutama Aldo. Dia seakan-akan jatuh cinta kembali pada pertemuan pertama mereka itu, semua terpana dengan langkah kaki Gisella yang langsung duduk di kursi kebesaran CEO yang bertuliskan nama Gisella Anastasia.
"Maaf karena telah membuat kalian menunggu." Ucap Gisella sambil tersenyum manis.
Mereka saling bersalaman, memperkenalkan diri masing-masing, karena ini merupakan pertemuan pertama Aldo dan Gisella. tangan Aldo masih menggenggam hangat tangan Gisela. seakan-akan dia tidak ingin melepaskan nya lagi.
Asisten pr Aldo merasa risih, dia menyenggol Aldo agar segera melepas tangan Gisela.
"Uups, maaf....aku." Aldo terlihat sangat gugup sehingga dia langsung kembali duduk disamping asisten dan pengacara nya.
"Tidak masalah Tuan Aldo." jawab Gisella yang sengaja menebar pesona agar Aldo semakin tergila-gila padanya.
"Rasain kamu Aldo, aku akan membalas semua yang telah kamu perbuat padaku dulu." Gisella tersenyum penuh arti.
Mereka pun kembali pada tujuan dan pembahasan semula, setelah melakukan serah terima dan pembayaran. mereka kembali bersalaman. sebagai bukti jika rumah mewah dan sebagian perkebunan sudah sah menjadi hak milik Gisella Anastasia .
__ADS_1
“Sekarang aku telah merebut semua nya kembali, meskipun baru separuhnya. Aldo tunggu pembalasan ku... aku akan mengambil dan merebut semua nya kembali.” Gumamnya melirik sekilas Aldo yang masih menatap kearahnya.
Semua menyalami tangan Gisela bergantian, mereka memberi selamat atas keberhasilan pengusaha muda itu membeli perkebunan dan rumah mewah.
“Terimakasih.” Balas Gisella sambil tersenyum lepas menerima uluran tangan orang-orang disana, termasuk Aldo.
"Perempuan ini benar-benar can, tidak masalah sebagian harta ku berukurang. karena yang membelinya seorang Bidari cantik. aku akan berusaha untuk mendapatkan mu Gisella. otomatis semuanya akan kembali berbalik padaku. istri cantik dan harta yang melimpah." gumam Aldo.
Setelah melihat kepergian Aldo dan pengacara nya, Gisella langsung tersenyum puas dan sangat bahagia sambil memeluk sertifikat rumahnya yang masih bertuliskan nama kedua orang tuanya, karena belum mereka robah nama kepemilikannya.
Aldo kembali pulang kerumah mereka yang baru, rumah yang dulu sengaja dibuatkan Meisya untuk kedua orang tua Aldo, atas permintaan Gea dan Aldo.
"Akirnya sekarang kita menempati rumah yang benar-benar sudah menjadi hak milik kita seutuhnya." gumam Gea merebahkan tubuh dikursi sofa yang empuk rumah baru mereka.
"Tapi ma, pengacara yang mengurus kekayaan Meisya tadi mengatakan jika rumah baru ini. sertifikat nya atas nama Meisya. bukan atas nama Mama seperti permintaan kita dahulu." terang Aldo ragu.
"Ha....Ha....lucu kamu Aldo, ngapain juga kita pusing-pusing memikirkan nama yang tertulis disertifikat itu. Karena Meisya juga tidak akan pernah kembali lagi dan tidak akan ada yang menuntut kita nak. " terang Gea.
"Iya sih juga ma." balas Aldo.
"Ma yang membeli perkebunan dan rumah Meisya itu, adalah seorang pengusaha muda yang sangat cantik. namanya Gisella Anastasia." Ucap Aldo menerawang membayangkan wajah cantik Meisya.
"Benarkah kah nak." balas Gea antusias.
Aldo mengangguk mantap. sehingga sifat materialistis Gea kembali berkobar yang tidak pernah berubah.
"Al kamu harus mendekati Gisella, Mama yakin dia calon menantu idaman Mama yang sesungguhnya Al dan bukan Sally wanita licik dan manja itu, uang hanya bisa menuntut ini dan itu. dia tidak memberikan kita keuntungan apa-apa malah hanya ikut-ikutan menghabiskan harta peninggalan mantan istri mu." Gea mulai menghasut Aldo yang juga tengah memikirkan cara bagaimana mendekati Gisella.
__ADS_1