
Hampir dua jam mereka berteduh ditempat kosong itu, hujan yang semula lebat diiringi petir yang menyambar. Perlahan mulai mereda ditandai dengan rintikan yang mulai berhenti.
Meisya memeluk kedua lututnya untuk mengusir rasa dingin yang sangat menusuk, begitu juga dengan Devan. Dia kembali menghubungi sopir pribadinya untuk segera mempercepat laju mobil untuk menjemput keberadaan mereka.
“Meisya, bertahanlah dek.” Ucap Devan yang melihat Meisya yang mulai menggigil kedinginan.
Meisya hanya mengangguk pelan, lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan kata-kata. sesekali gadis itu melirik kearah tampan Devan.
Rasanya Meisya ingin berlari menghambur kepelukan Devan, mengingat jasa dan kebaikan laki-laki kakak angkat nya itu, yang mau berkorban sejauh ini padanya. Meisya merasa berhutang Budi dan terharu mengingat hal itu.
“Meisya kamu kenapa melamun seperti ini, ntar kesambet baru tau rasa.” ucap Devan.
“Apaan sih kak.” Meisya mulai merasa takut, tengkuknya tiba-tiba tersa dingin dan....” Aaaaaaaaggh tidakkk” teriak Meisya. spontan dia terlonjak kaget saat seekor ular berukuran kecil lewat tepat dibelakang nya.
Devan yang juga melihat hal itu, langsung mengambil sebuah kayu sambil mengayunkan dan mengarahkan pada ular tersebut.
“Kak Devan, sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini, berhubung hujan juga udah reda. Aku takut jika masih banyak uoar ditempat ini,” ucap Meisya bergelayut dilengan Devan.
Devan dan Meisya mundur secara perlahan, sambil melindungi diri mereka menggunakan kayu yang dipegang oleh Devan.
“Cepat Meisya,” ucap Devan menarik tangan Meisya, mereka langsung berlari keluar menuju jalan raya yang mulai ramai, Devan dan Meisya mengayunkan langkah pelan dengan nafas yang masih ngos-ngosan menuju halte dan istirahat disana.
Tidak berapa lama mereka duduk dihalte, sebuah mobil yang sangat dikenali Devan berjalan pelan disekitar mereka, senyum mengembang dibibir Devan begitu sadar mobil yang menjemput mereka sudah sampai.
Devan langsung berdiri, dia melambaikan tangan kearah sopir yang mencari-cari keberadaan nya. Devan sangat bersyukur ponselnya tidak mati. Jika tidak entah bagaimana cara mereka menghubungi sopir dan melacak keberadaan mereka sekarang.
“Syukurlah kita akirnya selamat, dan bisa kembali pulang.” Ucap Meisya sangat bahagia duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Devan yang duduk disampingnya.
__ADS_1
“Ya Meisya, aku merasa seperti tengah melakukan petualangan ala-ala Genkster gitu ha...ha...” Balas Devan tertawa bahagia.
“Maaf Bos, saya juga penasaran bagaimana ceritanya Bos dan Nona Meisya. tersesat jauh hingga sampai kedaerah ini.?” Ucap agus sopir pribadi Devan.
“Ceritanya panjang, pak Agus.” Sela Meisya.
Karena tubuhnya yang masih lelah, Meisya kembali tertidur disamping Devan. Sementara Devan tidak bisa memejamkan matanya kembali. Dia lebih memilih mengajak bang Agus ngobrol sampai mobil memasuki gerbang utama rumah besar mereka.
“Dek bangun, kita sudah sampai.” Ucap Devan menguncang pelan bahu Meisya. sebenarnya Devan tidak tega membangunkannya, tapi kondisi badannya yang masih sangat lelah. Devan terpaksa membangun kan Meisya.
Sampai dikamar Meisya langsung menuju kamar mandinya, mengisi bactub dengan air hangat lalu berendam. sambil menikmati aroma terapi dan membersihkan tubuhnya.
Meisya antara bahagia dan deg-degan, membayangkan aksinya dan Devan lari dari kejaran komplotan mafia hingga mereka tersesat, bahkan sempat dipatok ular.
“Kak Devan, aku bahagia berada disampingmu. bahkan Meisya sangat ingin sekali memiliki dirimu kak, seutuh.” Gumam Meisya.
Dikamar nya Devan, selepas membersihkan tubuhnya. tiba-tiba ponsel berdering panggilan masuk dari Bunga yang saat ini masih menjabat sebagai teman dekatnya.
“Hallo juga mas Devan, aku dari semalam mencoba menghubungi ponselmu tapi tidak pernah diangkat, begitu juga dengan Meisya. kalian berdua sama-sama kompak mengabaikan ku.” Ucap Bunga mulai resah.
“Uuups sorry Bunga, aku tidak bermaksud seperti itu, semalam keadaan ku sangat darurat bersama Meisya.” Terang Devan.
“Maksud mas Devan,?”
“Pokoknya kami berdua dalam kondisi yang sangat darurat semalam, karena kesalahan Meisya yang menantang komplotan mafia. Kami dikejar-kejar hingga tersesat di suatu tempat. Karena kami lari dan bersembunyi dalam bok yang bersangkutan diatas kontainer pengangkut barang-barang.” terang Devan.
Bunga sedikit iri, dia membayangkan sebuah film Action, dan berharap dia dan Devan yang menjadi tokoh utamanya, seperti cerita Devan barusan. namun bukan dia yang merasa kan hal itu melainkan Devan dan Meisya.
__ADS_1
Bunga berusaha menyingkirkan perasaan cemburu dan kekesalan, dia meyakinkan dirinya jika diantara Meisya dan Devan tidak memiliki hubungan apa-apa.
Malam ini Aldo terlihat begitu rapi, karena dia ingin mengajak Gisella untuk makan malam di luar, tapi panggilan telpon dari Sally mengganggu konsentrasi Aldo yang tengah menyisir rambutnya.
“Aku harus bisa menarik perhatian Gisella malam ini, semenjak bertemu dengan gadis itu aku tidak bisa tenang. Aku benar-benar jatuh cinta sesuatu yang belum pernah aku rasakan pada Meisya maupun Sally.
Gumam Aldo, sambil menyemprot farfum pada tubuhnya. semua itu tidak lepas dari perhatian Gea mamanya, dia ikut senang melihat perubahan anaknya yang terlihat seperti abg yang sedang jatuh cinta.
Sementara Sally tengah mondar-mandir kesal, mengingat Aldo yang hampir tidak pernah memperdulikan nya lagi. Aldo seolah-olah telah melupakan perasaan nya, termasuk jika dia pernah jatuh cinta pada wanita yang bernama Sally.
“Aku harus menemui Aldo langsung kerumahnya, dia tidak boleh mengabaikan ku begitu saja. setelah aku menyerahkan semuanya pada laki-laki brengsek itu.” Sally langsung melajukan mobil kerumahnya Aldo.
“ Aldo.... Aldo.....,” Sally berteriak kencang memasuki rumah Aldo yang hanya memberikan status sebagai tunangannya saja selama ini, tanpa memberikan kejelasan hubungan mereka kedepan nya.
“Sally, ada apa?” sapa Gea pura-pura tidak ada kejadian.
“Mana Aldo Tante,?” tanya Sally dengan wajah memerah karena emosi.
“Sayang sekali kamu terlambat datang kesini nya, Aldo baru saja pergi bareng teman-temannya.” Ucap Gea mencoba membohongi Sally.
“Tante jangan bohong, aku tidak percaya jika Aldo pergi dengan teman-teman nya, dia sekarang sudah berubah semenjak bertemu dengan wanita yang bernama Gisella itu.” Ucap Sally geram terbakar api cemburu.
“Kamu jangan berburuk sangka dulu Sally, sebuah hubungan tidak akan berjalan sempurna jika diantara kalian berdua tidak saling percaya.” Terang Gea.
“Tante jangan sok muna, aku yakin semua ini tidak terlepas dari hasutan Tante yang mudah tergiur dengan uang perempuan yang bernama Gisella.” Ucap Sally.
“Sally kamu jangan sembarangan ngomong, ingat aku calon mertuaku. Aku bisa saja menghancurkan hubungan mu dengan anakku Aldo.” Ancam Gea.
__ADS_1
“Terserah, kalau kamu dan anak kesayangan mu itu mau mendekam dan membusuk dipenjara.” Ancam Sally balik.
“Mmmhh, atas dasar apa kamu ingin memenjarakan aku dan Aldo.” Gea sedikit merinding mendengar ancaman Sally.