Semanis Janji, Sepahit Dendamku

Semanis Janji, Sepahit Dendamku
Meisya sakit


__ADS_3

“Bunga angkat wajahmu dan tataplah aku,” Ucap Devan kembali memecahkan lamunan Bunga yang tertunduk sedih.


Perlahan Bunga mengangkat wajahnya, pandangan mereka kembali bertemu. Sulit bagi Bunga mengartikan tatapan Devan yang tajam seolah-olah menusuk langsung ke hulu hatinya.


"Bunga kamu menangis." refleks tangan Devan mengusap air mata gadis cantik ini.


"Ti...tidak mas, aku hanya kelilipan saja." Bunga berusaha tersenyum menyembunyikan perasaan sedihnya, dia tidak menyangka Devan akan menolak cintanya.


"Maafkan aku Bunga karena secara tidak langsung telah menyakiti hati mu," Devan merasa bersalah.


"Tidak apa-apa mas, kamu tidak perlu mersa bersalah. aku mengerti kesibukan dan masalah yang kalian hadapi. maafkan aku yang mengutarakan perasaan ku disaat waktu yang tidak tepat ini." Tutur Bunga.


“Baiklah Bunga, beri aku waktu. Dan belajar membuka hatiku untuk mu .” Jawab Devan mengulurkan tangannya keatas meja, begitu juga Bunga dia menerima uluran tangan Devan dengan gemetar dan perasaan lega. meskipun Devan belum sepenuhnya menerima cintanya.


Nampak pancaran kebahagiaan dari wajah keduanya, terutama Bunga. Gadis itu seperti terbang melayang mendengar jawaban Devan barusan, air mata bahagia membasahi kedua pipinya. Perlahan tangan kekar Devan mengusap air mata Bunga dengan jemarinya.


Devan dan Bunga menikmati makan malam mereka yang romantis, meskipun hanya di taman rumah besar Meisya saja. Namun tidak mengurangi rasa bahagia mereka berdua.


“Mas Devan, aku bahagia sekali. ternyata kamu mau membuka hati untuk ku,” ucap Bunga.


“Bunga, meskipun aku belum bisa mencintaimu sepenuh nya. Tapi aku akan belajar untuk itu.” Terang Devan.


“Terima kasih mas,” jawab Bunga sambil tersenyum manis memperlihatkan lesung pipi sebelah kanan nya.


Sementara di balkon lantai dua depan kamarnya, Meisya menangis sambil menutup Mulutnya dengan telapak tangannya menahan isakan tangis.


“Ya Tuhan, rasanya sangat sakiiiitt..., lebih sakit dari pada penghianatan yang pernah dilakukan oleh Aldo dahulu. Aku benar-benar tidak sanggup menyaksikan kebahagiaan mereka. Kak Devan, Meisya sangat mencintai mu dan menyayangi mu, tapi kita tidak bisa bersama. Semoga kalian berbahagiaa. Kenapa perasaan ku harus berlabuh pada kak Devan, dan bukan pada laki-laki diluaran sana yang berebut untuk mendapatkan Cintaku,” ucap Meisya sedih mengingat cintanya yang selalu gagal untuk berlabuh.


Meisya membalikkan badan, berjalan pelan dengan tatapan hampa menuju kamar mandi. Gadis itu mengisi bactub dengan air mengalir, segera dia masuk dan merebahkan tubuhnya hingga tenggelam sempurna untuk beberapa detik. dan mengulangi nya kembali berharap dengan cara seperti itu beban pikiran dan kesedihan dihati nya dapat berkurang.

__ADS_1


Tangis dan air mata Meisya bercampur air yang merendam tubuhnya. namun rasa sedih dan kehilangan seakan kembali menyiksa hati dan pikiran nya saat ini.


“Aaahhhggh,, Meisya mengangkat wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskan nya.


“Dadaku terasa begitu sesak, aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus kuat dan tidak lemah seperti ini.”


Bathin Meisya menyudahi mandi nya dan kembali berpakaian tebal untuk menutupi perasaan dingin yang tiba-tiba menyeruak ke relung hatinya.


Paginya, Bunga sudah bersiap untuk kembali ke Singapura. dia ingin segera kembali mengingat setumpuk pekerjaan mulia yang tengah menunggu kedatangannya. Ya, profesi Bunga yang sebagai seorang dokter tidak bisa membuat nya libur terlalu lama dari tugas-tugas nya itu.


“Mana Meisya dari semalam dia tidak kelihatan,?” ucap Devan heran karena tidak biasanya adik Imut nya bersikap malas-malasan seperti ini.


“Mungkin masih tidur mas.!” Jawab Bunga yang tidak tidur satu kamar dengan Meisya, dia semalam tidur dikamar tamu mengingat kamar Meisya yang terkunci dari dalam, karena tidak ingin mengganggu Bunga memilih tidur di ruang tamu.


Karena mersa kawatir, Devan langsung menuju kamar adiknya, dan mengetuk pintu kamar dari luar.


Meisya yang hampir semalaman menangis, hingga menjelang pagi gadis itu baru bisa tertidur. mengeliat pelan saat mendengar ketukan pintu kamar nya. Meisya memijid pelipisnya merasa kepalanya yang masih agak pusing.


“Meisya bangun dek,” Devan mengulangi panggilan nya dari balik pintu kamar.


Meisya berusaha membuka matanya kembali, suara Devan Semakin keras dibandingkan teriakannya semula.


“Mataku terasa begitu berat, dan kepala ku sakit sekali.” Gumam Meisya berusaha untuk bangkit, namun dia Seolah-olah kesulitan untuk mengangkat dan menggerakkan kakinya. Meisya hanya bisa sedikit mengeluarkan suaranya yang serak karena kebanyakan menangis semalam.


Devan mulai panik karena Meisya belum juga membukakan pintu dan menjawab panggilan nya, sementara kecemasan mulai menghantui nya takut terjadi sesuatu pada adik kesayangannya. Devan langsung teringat kunci cadangan kamar Meisya, dia pun segera berlari menuju tempat penyimpanan berbagai kunci cadangan. tidak lama dia pun kembali menuju kamar Meisya, tingkah Devan itu menarik perhatian Bunga yang tengah menikmati sarapan nya sendiri.


“Mas, ada apa dengan Meisya,?” Bunga ikut berlari mengejar dibelakang Devan, menuju kelantai dua kamar Meisya.


Devan membuka pintu dengan sedikit tergesa-gesa, dan langsung mengedarkan pandangannya ke tombol lampu kamar.  Lampu menyala sempurna nampak Meisya tengah meringkuk tidur dibalut selimut tebal.

__ADS_1


“Kak Devan,” ucap Meisya lemah.


“Meisya kamu kenapa dek?”


 Devan langsung mendekati Meisya dan duduk di sisi tempat tidur, sebelah tangan Devan terangkat memeriksa suhu tubuh Meisya yang tersa sangat panas.


“Dek badan kamu panas sekali, apa kamu sakit?” Devan mulai panik, Bunga yang baru sampai dikamar itu, langsung ikut memeriksa kening Meisya.


“Aku ambilkan kompresan dulu,” Bunga langsung kembali kebawah.


“Meisya kamu habis menangis, matamu terlihat begitu sembab dan sedikit bengkak.?” Ucap Devan


“Aku cuma teringat Mama dan papa saja kak, jadi terbawa perasaan hingga menangis.” terang Meisya yang berusaha menyembunyikan perasaannya.


“Mama dan papa, atau Aldo,?” mencoba menggoda Meisya.


“Mama, papa dan juga kak Devan”


“ Apa, jadi kamu mikirin kakak juga? sampai nangis, emangnya aku ini sebegitu berarti nya?” wajah Devan mulai berubah, terlihat rasa bersalah dihati.


“Maafkan kakak ya dek, semalam telah mengabaikan mu.” Mengusap lembut tangan Meisya.


“Kak Devan tidak perlu minta maaf, Meisya aja yang sok lebai hingga seperti ini .”  tersenyum menatap wajah tampan Devan.


Bertepatan dengan Bunga, yang juga telah membawa kompresan untuk Meisya, langkah Bunga langsung tercekat didepan pintu, menyaksikan kelembutan sikap Devan memegang tangan Meisya dan pandangan keduanya yang terlihat saling menyayangi satu sama lain.


“Tidak, tidak. aku tidak boleh berprasangka buruk. mereka berdua adalah saudara, buang jauh-jauh pikiran buruk dan cemburu mu Bunga.” Mencoba mengendalikan perasaannya yang tidak menentu melihat kedekatan Meisya dan Devan.


 

__ADS_1


__ADS_2