
"Aduh ada apa dengan perutku dari semalam selalu mulas-mulas, apa aku keracunan makanan laut itu." Gumam Devan dengan muka pucat.
Meisya langsung menghubungi dokter keluarga, untuk memeriksa kondisi Devan, dugaan mereka benar ternyata Devan keracunan makanan yang dibelikan oleh Meisya. dokter memberikan obat melalui suntikan agar reaksi nya cepat bekerja.
"Terimakasih dok," balas Meisya mengantar dokter sampai teras utama.
"Sama-sama Nona." setelah kepergian dokter, Meisya kembali ke kamar Devan.
Meisya tidak tega, melihat kondisi Devan yang masih tertidur pulas efek samping dari obat yang diberikan dokter barusan. dia duduk disisi ranjang sambil mendekat kan wajah nya, posisi wajah Meisya sangat dekat.
"Aku bingung dengan perasaanku sendiri, antara sedih, bahagia dan malu. ya aku sangat malu mengingat selama ini aku baru sadar jika Mei sangat mencintaimu kak Devan."
Tanpa sadar, tangan Meisya terangkat mengelus pelan kepala Devan. sambil ikut merebahkan tubuhnya disamping laki-laki itu. hingga ikut tertidur mengingat sudah terlalu larut malam.
"Mmmhhh, AAaaaaaaggh..." Devan Menguap, seraya mengeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
"Meisya,?"
__ADS_1
Devan baru menyadari jika Meisya tidur disebelahnya sambil meringkuk, timbul rasa kasihan melihat gadis yang sangat dicintainya, yang terlihat kedinginan. Devan menyelimuti seluruh tubuh Meisya hingga batas leher, secara perlahan dia tidak ingin adik kesayangannya terbangun.
"Syukurlah perut dan rasa misalnya sudah hilang, setelah mendapatkan obat dari dokter." Devan kembali melirik lekad kearah Meisya ingin sekali dia membawa Meisya kepelukan nya, mencumbui dan mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang nya. tidur bersama dalam satu selimut.
"Aaaagghhh, pikiran kotor ku selalu muncul jika sudah bersama-sama Meisya." mengusap kasar rambutnya.
"Sebaiknya aku pergi mandi, agar gairah ku yang memuncak ini bisa aku kendalikan." Gumam Devan.
Devan bangkit dan membersihkan tubuhnya berendam dalam bactub, berusaha untuk menghilangkan pikiran mesumnya, namun semakin dia berusaha, dorongan kuat dari dalam membuatnya hampir hilang kendali. wajah Meisya begitu dekat dibenaknya.
***
"Aduh kebelet banget," Gumamnya berjalan sambil memejamkan matanya, mencari arah positif kamar mandi.
Meisya yang menyangka jika dia masih berada dikamar nya sendiri, menyeret langkah kaki Menuju kamar mandi dengan Mata yang menyipit, karena Meisya ingin sehabis buang air kecil dia akan melanjutkan tidurnya kembali.
Ceklek....,, pintu terbuka. refleks Devan yang masih berendam indah terkaget dan langsung menoleh kearah pintu.
__ADS_1
"Astaga Meisya, ngapain dia kesini, bisa-bisa aku khilaf karena sedari tadi aku sudah berusaha keras untuk mengendalikan gairah ku.?" Gumam Devan.
Sebelah tangan Devan berusaha mengambil handuk, namun karena jarak yang tidak terlalu dekat, serta posisi handuk yang tergantung miring. handuk itupun jatuh kelantai. sehingga tidak mungkin bagi Devan turun mengambilnya untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Devan memilih menutup reproduksi nya mengunakan tangan dan bungkam seribu basa, karena dia yakin Meisya saat ini tidak menyadari keberadaannya, yang sedang berendam di bactub yang sempat dilewati nya.
"Meisya bermimpi sedang berjalan atau apa ya?" gumam Devan bingung Bercampur heran. dan yang lebih membuat Devan hampir pingsan ditempat. saat melihat Meisya dengan santainya membuka celana dan duduk di closet duduk yang hanya terhalang tirai transparan, yang bisa terlihat jelas dari tempat Devan berendam.
"Ujian apa ini, kenapa aku bisa begitu bergairah melihat bagian tubuh Meisya, tidak...ini salah, aku harus segera pergi dari sini." Devan segera bangkit.
"Aduuuuuh,"
Karena tergesa-gesa dan panik Devan jatuh terlentang di lantai Sebelah tangannya berusaha menggapai handuk untuk menutupi tubuhnya.
Meisya yang tengah melamun indah, sambil menumpu wajah dengan kedua belah tangannya, terlonjak kaget dan langsung menyudahi buang air kecil dan berlari kearah datang nya Suara.
"AAaaaaaaggh,.. Aaaaaaaaggh," teriak Meisya histeris sambil berusaha untuk menghindar dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Meisya tolong aku," ucap Devan kesakitan, namun dia sudah berhasil melilitkan handuk dipinggang nya. kondisi Devan yang masih lemah membuat nya kesusahan untuk berdiri kembali.
Meisya yang syok, segera menguasai keadaan. namun lantai yang terkena cipratan air menjadi licin sehingga Meisya ikut tergelincir jatuh di atas tubuh Devan. kedua nya sama-sama gugup dengan posisi mereka sekarang.