
Hari ini Bunga mengajak jalan-jalan Devano, Selama dalam perjalanan, anak laki-laki itu terlihat begitu senang. dia selalu berceloteh dan bernyanyi kesukaan nya. meski terdengar lucu setiap perkataan yang cadal dari bibir mungilnya. kadang dia bernyanyi juga terbalik-balik.
"Duuh,, senangnya anak Bunda." mencium kedua pipi cibi Devano kecil itu.
Sampai di lobby pusat permainan anak-anak, Devano yang mulai aktif langsung lari masuk tanpa arah. sehingga terlepas dari genggaman tangan sang bunda. suasana liburan yang ramai, sehingga dia tidak menyadari jika Devano sudah tidak ada disampingnya lagi.
Devano yang kegirangan, sambil berlari-lari kecil, tidak menyadari jika telah menabrak tubuh seseorang pria dari belakang. hingga membuat ponsel pria tersebut terlepas dan jatuh kelantai karena kaget'.
"Bussyet sial." Umpat laki-laki yang tengah menelpon tersebut, dia hanya kebetulan melewati tempat permainan ini. karena lokasinya sangat berdekatan dengan restoran tempat nya akan melakukan meeting dengan rekan bisnisnya.
Devano mundur beberapa langkah kebelakang, dia terlihat ketakutan. dan tiba-tiba air mata lolos di kedua pipinya. dengan suara bergetar. anak kecil itu memanggil Bunda dengan suara pelan, hampir tidak terdengar.
"Bunda.....bunda....Bu...Bun...da."
Zerzio yang semula kaget dan sedikit kesal, akirnya berubah menjadi luluh dan melunak, saat melihat kedua mata elang dan tatapan nya yang lembut. membuat Zerzio seakan tersadar jika tatapan begitu mirip dengan nya. Zerzio berjongkok agar posisinya sejajar dan berhadapan dengan Devano kecil.
"Sayang, kamu jangan nangis. Om orang baik kok dan ngak akan marah." ucap Zerzio, sambil sebelah tangannya mengambil ponselnya yang sudah retak.
__ADS_1
Devano menghentikan tangisnya seketika, lalu mengangkat wajahnya. memandang lekat pria tampan itu.
"Om ciapa?" tanya Devano polos.
"Nama Om Zerzio Sayang, kamu kok sendirian, ibunya mana.?" tanya Zerzio.
"Bunda lagi dicana." menunjuk ketempat antri tiket masuk. karena suasana yang sangat ramai, Zerzio tidak melihat keberadaan Bunga.
"Oooo, begitu ya. Okey mulai sekarang Devano dan Om sahabatan ya.!"
Zerzio mengangkat jemari nya tanda persahabatan mereka dimulai, yang diikuti jari mungil Devano.
Bunga langsung terlonjak kaget panik dan cemas, begitu menyadari jika anaknya Devano sudah tidak berada disampingnya.
"Ya Tuhan, anakku Devano." mulai panik, celingak-celinguk kebingungan. mengedarkan pandangannya ke sekeliling arah.
"Ada apa kak.?" tanya Ratna yang baru kembali dari toilet ikutan panik.
__ADS_1
"Devano, akuu pikir dia bersama mu Ratna? sekarang dia menghilang.!" tangis Bunga pecah dan langsung berlari menuju pusat informasi untuk mendapatkan bantuan, sementara Ratna sibuk mencari dan menatap setiap anak yang berpakaian mirip Devano .
"Kita harus segera melaporkan pada pihak keamanan." ucap Ratna.
Sementara Zerzio langsung berdiri kembali, ketika sang asisten pribadi nya Frans telah berdiri disampingnya.
"Bos kita harus segera menuju kantor pusat sekarang, karena rapat besar akan segera dimulai." Frans melirik jam dipergelangan tangannya.
"Okey, tapi sebelum itu. kita harus mengantarkan anak kecil ini bertemu dengan Bunda nya." Zerzio membimbing tangan kecil Devano.
"Bos, sebaik kita titipkan saja anak ini, pada petugas keamanan ditempat ini saja, karena kita sudah terlambat."
"Baiklah." jawab Zerzio, namun Ratna segera melihat dan berlari menghampiri Devano.
"Sayang kamu kemana saja, bunda cemas baget dan masih nyari-nyari kamu nak." ucap Ratna sambil mengucapkan terimakasih pada Zerzio.
Zerzio mengayunkan langkah kaki panjang, karena ini rapat besar. dia harus berpacu dengan waktu, agar segera sampai. karena terlalu fokus. Zerzio tidak menyadari jika dia dan Bunga berselisih dengan jarak yang begitu dekat. begitu pun Bunga dia juga tidak memperhatikan keberadaan bos barunya itu. karena sedang panik mencari buah hatinya.
__ADS_1
"Bunda." terdengar teriakan nyaring suara kecil Devano yang berdiri dengan Ratna.
"Devano sayang." Bunga langsung berlari menghampiri dan memeluknya.