
"Di mana aku bisa menemui ketua orang kulit hitam?" tanya Daren via sambungan telepon. Dia tengah menelepon temannya.
"Buat apa? Mereka berbahaya untuk kalian," ucap orang itu.
"Aku hanya ingin bertemu saja. Memastikan kalau mereka bukan pelakunya," kata Daren dan tiba-tiba sebuah panggilan masuk mengganggunya.
"Ah, kasih tahu aku kalau kamu tahu sesuatu!" kata Daren dan menutup panggilannya.
"Apa?" teriak Daren yang sudah setengah emosi.
"Bos! Senja sedang adu gulat dengan seseorang."
Daren yang mendengarnya langsung terdiam. 'Siapa orang yang telah berani mendahuluiku?' batinnya geram.
"Awasi saja. Lagian itu bukan masalah penting. Aku sibuk, jangan telepon aku hanya gara-gara bocah ingusan itu!" teriak Daren dan mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Padahal hatinya bertanya-tanya, tapi mulutnya benar-benar tak bisa dikontrol. Lagian mereka terpisah dengan jarak, Daren bisa apa selain menyuruh anak buahnya?
"Bos, Mr. Louis ingin Anda menghabisi klan dari Nigeria itu!" kata Rehan yang membuat Daren menatap acuh.
Daren memang harus fokus urusan di London dari pada urusan di Indonesia yang belum ada ujungnya.
"Siapkan semua senjatanya. Jangan biarkan kelompok kita kalah," perintah Daren yang diangguki siap oleh Rehan.
...****************...
2 tahun kemudian.
Setelah berhasil mengalahkan lawannya. Akhirnya hari ini Daren kembali ke Indonesia. Sungguh memakan waktu yang sangat lama akibat luka berat yang Daren terima. Bahkan anak buahnya banyak yang mati di tempat. Serangan demi serangan 2 tahun yang lalu masih membekas. Dan semua itu karena ulah Louis yang telah memfitnahnya. Dan sekarang kantor perusahaan Louis akhirnya dimiliki oleh Daren.
__ADS_1
"Aku kembali Senja. Saatnya aku membalaskan dendamku," gumam Daren sambil menatap langit dari Jendela kaca.
"Bos, 2 tahun yg lalu gadis itu mengalami cidera sepertimu!" kata Rehan memberitahu.
"Siapa pelakunya?"
"Mungkin anda tidak percaya..."
"Siapa?" potong Daren dengan tajam.
"Paman Jhon, dia telah menerima bayaran dari orang tua teman sekolahnya Senja."
Daren terlihat biasa saja. "Sekarang anak itu di mana?" tanya Daren penasaran.
"Dia sudah tumbuh dewasa. Sekarang dia kuliah di hukum."
"Semua informasi yang anda butuhkan ada di map ini," ucap Rehan sambil memberikan selembar map. Yang dipastikan isinya mengenai Senja dan ibunya.
"Kerja yang bagus Re. Satu poin untukmu, bulan ini kau menerima gaji 2 kali lipat," kata Daren yang membuat Rehan senang.
...****************...
Senja menginjakkan kakinya tepat di gedung yang menjulang tinggi. Perusahan yang bertuliskan D group itu terlihat begitu megah. Sulit dipercaya kalau orang biasa bisa mendirikan perusahaan seperti ini. Apalagi gedung ini dibuat khusus para pengacara.
Brak!
"Auh!" Senja terhuyung ke depan. Hampir saja dia terjatuh kalau tak berpegangan kaca di depannya.
__ADS_1
Perempuan itu terlihat sangat menor. Kulit terlihat begitu putih. Badannya sintal dan kakinya sangat jenjang. Bahkan pakaiannya pun sangat mewah.
Senja memicingkan matanya tidak suka. Tapi percuma, perempuan tadi sama sekali tidak menoleh. Minta maaf apalagi, sangat tidak sopan.
Senja memasuki ruangan resepsionis. Dan menunjukkan tanda pengenalnya. "Ini tanda pengenal ku, dan ini surat lamaran magang sementara," kata Senja sambil memberikan amplop coklat besar.
"Tunggulah di sini, surat pengajuan magangmu akan diberikan kepada kepala direksi," ucap si resepsionis sambil memberikan map coklat tadi kepada karyawan yang lain.
Berjam-jam Senja menunggu. Tapi belum dipanggil juga. Tiba-tiba Senja kembali melihat perempuan menor yang menabraknya tadi. 'Mak lampir itu, ternyata dia bekerja di sini,' batin Senja agak tak suka.
Senja menunggu. Bahkan jam istirahat pun Senja tetap menunggu. Ingin ia tinggalkan tempat itu, tapi Senja takut menyia-nyiakan kesempatan buat bertemu Daren si anak mafia itu.
Dengan keberanian diri, akhirnya Senja mendatangi si penjaga resepsionis tadi.
"Apa ada kabar untukku?" tanyanya penasaran.
"Belum ada. Sabarlah, kepala direksi masih sibuk. Urusannya tidak hanya menerima pegawai magang sepertimu," culasnya yang membuat Senja hampir emosi. Kalau tidak demi ibunya, Senja tidak mungkin diam saja. Ini awal dia mengajukan diri, tidak mungkin dia berbuat ricuh di sini.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda. Daren tertawa puas. Sedari tadi dia mengawasi Senja dari layar CCTV di ruangannya. 1 kata, sengaja. Daren memang sengaja membuat Senja menunggu. Ini mungkin kebetulan dan takdir, sampai Senja menghampirinya tanpa dihampiri oleh Daren.
"Aku ada urusan, bilang pada resepsionis itu. Jangan bilang apa-apa dulu sebelum jam kerja habis. Setelah jam kerja habis, dia boleh bilang apa yang aku katakan tadi," ucap Daren sambil mengambil jas kerjanya. Daren segera meletakkan jas itu di pundak tanpa memakainya. Dia mengambil jalan khusus direksi yang di mana tidak akan dilewati oleh karyawan biasa. Hanya Daren yang bisa melewatinya.
Sesampainya di lantai bawah, Daren menolehkan kepalanya dan menatap Senja yang masih duduk seperti menahan sesuatu.
'Memangnya menunggu itu enak?' cibir Daren dalam hati.
Dia menuju ke teras kantor, dan mobil sudah ada di depannya. Daren masuk ke dalam mobil itu sendirian. Tanpa Rehan atau anak buahnya yang lain. Dia sedang ada urusan pribadi dengan paman Jhon yang telah berani mengkhianatinya.
__ADS_1
Bersambung....