SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Pengaruh Obat


__ADS_3

"Sudah ku duga kalau kalian akan datang!" Suara itu mencengangkan mereka.


"Kau!" Viktor nampak emosi.


"Ya, ini aku!" jawab Jhon dengan santai.


Daren mengetatkan rahangnya. Jika Jhon masih bersikap biasa saja, pasti dia telah berbuat sesuatu yang merugikan untuk Daren.


"Lepaskan Senjaku paman," sahut Daren kemudian.


"Senjamu? Ckckck, gara-gara gadis murahan itu kau telah berani menelantarkan paman, Daren. Mana mungkin paman membebaskannya. Dan ya, dia begitu legit seperti apa yang paman bayangkan. Pantas saja kau lebih dulu menidurinya ketimbang a..."


Duagh!


Belum juga Jhon selesai bicara. Daren sudah menghadiahinya dengan satu bogeman tepat di pipinya.


"Jangan pernah macam-macam dengan kekasihku paman. Aku pastikan, hidupmu akan berakhir hari ini!" Daren mendorong badan pamannya itu dengan kuat. Dia berjalan melewatinya dan masuk ke dalam gudang yang kumuh itu.


"Justru karena kematianku akan datang. Makanya aku mencicipi tubuhnya sebelum aku mati!" ucap Jhon lagi.


Daren benar-benar kepancing dengan ucapan Jhon barusan. Siapa yang rela berbagi tubuh kekasihnya dengan pengkhianat seperti pamannya itu. Sampai kapanpun Daren tidak ikhlas. Bahkan Daren hanya ingin memiliki tubuh Senja itu sendiri, tidak berbagi dengan siapapun. Tapi Jhon benar-benar b**ingan.


Daren ingin memukulnya sekali lagi. Namun dihentikan oleh suara minta aneh dari dalam sana.


Viktor juga mendengarnya. Dia menatap anaknya yang sudah tak tenang. "Pergilah Daren! Biar ayah yang mengatasi pengkhianat seperti Jhon ini," kata Viktor. Tanpa bicara apapun, Daren segera berlari menuju ke dalam sana. Dia berusaha mencari keberadaan Senja yang semakin lama semakin lirih.


Jhon tersenyum licik. "Cari saja sepuasmu! Kau tak akan pernah menemukannya Daren!" ucap Jhon.


Daren menoleh ke arah Jhon, menatapnya dengan tajam. Ada kegelisahan di wajah Jhon. Jhon tak bisa menipunya, karena Daren sudah hafal betul dengan tabiat Jhon yang tak jujur.


"Tentu aku akan menemukannya. Dan siapkan nyawamu, sebelum melayang!" Daren balas melontarkan senyum yang mengerikan. Dia tidak pernah main-main.


Melihat kode dari Daren. Viktor pun mengerti. Dia mendekat dan hendak mencekal tangan Jhon. Tapi dengan sigap Jhon menepisnya.


"Jangan harap kau bisa membunuhku Viktor. Karena sampai kapanpun, kau yang harus mati!" ucap Jhon sambil melepaskan sabuknya.


Kali ini dia ingin menyambuk Viktor dengan kejam. Daren melihatnya. Tapi nyawa Senja lebih penting. Tidak hanya nyawa Senja saja, tapi ada nyawa anaknya yang masih berada dalam perutnya.


CTARRRR!

__ADS_1


Suara pecutan itu menggema di mana-mana. Dan untungnya, Viktor sangat cerdik. Dengan cepat dia bisa menghindar.


Sementara itu, Senja yang sempat berteriak tadi langsung pingsan akibat obat bius yang diberikan oleh Jhon. Jhon sengaja menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh Senja. Agar Senja tertidur dan tak tahu menahu akan kehadiran Daren yang ingin menolongnya.


Daren terus menelusuri tempat itu satu persatu. Meskipun hanya sebuah gudang lawas. Tapi ruangan di tempat ini sangat rumit. Berkali-kali Daren mengucapkan sumpah serapah akibat perbuatan Jhon kepada Senja.


"Sia*an! Paman sengaja mempermainkan ku. Kalau aku tak ingat bahwa dia yang membesarkanku. Mungkin aku sudah membunuhnya dari tadi," ucap Daren. Dia meninju sebuah tembok hingga bergetar.


Sebenarnya Senja mendengar suara orang dari luar. Hanya saja mata dan mulutnya susah untuk digerakkan. Itu adalah ruangan tersembunyi yang dibuat oleh Jhon secara mendadak. Jika Daren tidak teliti, maka inilah hasilnya. Daren melewati tempat itu begitu saja.


Putus asa, akhirnya Daren ke tempat semula. Dia melihat perkelahian antara ayahnya dengan Jhon.


Viktor menatap mimik anaknya yang tak bahagia. 'Sepertinya Daren belum menemukan Senja,' batinnya.


Duagh!


Di saat Viktor lengah, Jhon langsung meninjunya hingga Viktor terkapar di atas lantai.


"Kurang ajar! Kau tak ada kapok-kapoknya paman. Semakin kesini kau semakin menjadi," ucap Daren. Dia sudah menodongkan pistol itu ke arah pamannya.


Jhon tak memiliki senjata apapun. Dan seperti biasanya, kali ini dia mencoba merayu Daren.


"Ck. Buat apa aku melepaskan Senja? Susah payah aku mencarinya, dan sekarang seenaknya paman menyuruhku untuk menjauhinya? Di mana Senjaku paman? Atau aku benar-benar akan menarik pelatuk ini tepat di atas kepalamu!" ucap Daren. Dia benar-benar serius kali ini.


Sementara itu, Senja mencoba membuka matanya. Dengan susah akhirnya dia bisa setengah sadar. "DAREN!" teriaknya. Tapi lagi-lagi matanya susah terbuka. Badannya lemas mesti telinganya sanggup mendengar. Mulutnya pun berbicara seperti orang mengigau.


"Daren tolong aku Daren. Daren," kata-kata itu terus terucap. Meskipun sebenarnya Senja berucap tanpa sadar.


'Suara itu,' batin Daren. Dia sangat familiar dengan suara itu.


"Cepat katakan paman! Di mana kau sembunyikan Senja!" ucap Daren. Kali ini dia meletakkan pistolnya tepat di pelipis Jhon.


"Bos!" Tiba-tiba ke-2 anak buahnya datang.


"Argh kalian! Cepat bantu ayahku! Dan urus paman ini, jangan biarkan dia lepas!" Daren mendorong tubuh pamannya itu sampai tersungkur di tanah. Rehan segera mendekat ke arah Jhon dan memborgol tangannya. Sementara Ferdi, dia segera membantu Viktor untuk bangun.


"Senjaaaa!" teriak Daren berkali-kali.


"Daren!" sahut Senja, dia berusaha untuk tetap sadar.

__ADS_1


"Senja, apa kau dengar aku?" Saat ini Daren berada di depan tempat rahasia itu.


"A-aku dengar Daren," jawab Senja. Namun suaranya begitu lirih.


"SENJA!" panggil Daren lagi. Kali ini dia sangat yakin, pasti akan menemukan orang yang ia cintai itu.


"Senja, jawab aku Senja!" Daren berhenti sejenak di tempatnya. Matanya mengawasi tempat itu dengan teliti.


'Ini... tempat ini seperti...' Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya Daren mencari celah. Dia menemukan sebuah tempat tersembunyi dari gudang ini.


BRAAAKKK!!!


Pintu kecil terbuat dari triplek yang berlapis semen itu akhirnya terbuka lebar. Daren terkejut bukan main. Bukan karena pintunya, tapi karena keadaan Senja yang seperti dilecehkan.


"Senja, apa yang terjadi denganmu?" Daren segera mendekat dan memeluk tubuh Senja yang lunglai.


"Daren," panggilnya.


"Iya sayang, ini aku. Aku akan menyelamatkanmu," jawab Daren sambil melepaskan ikatan tali yang menempel di tubuh Senja.


Daren melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Senja yang sebagian terbuka. Mungkin itu adalah ulah dari Jhon.


"Kamu jangan khawatir. Setelah ini aku akan habisi paman baji*** itu!" Daren menahan amarahnya. Lalu dia menggendong Senja keluar dari tempat itu.


Berkali-kali Daren menciumnya. Mencium kening hingga bibir Senja. Meskipun tak ada balasan, tapi Daren berusaha melepaskan kerinduannya pada kekasihnya itu.


"Bos!" panggil Rehan yang melihat Daren sudah berdiri di hadapan mereka sambil menggendong seorang wanita hamil.


"Berikan aku senjata yang paling ampuh!" perintah Daren.


"Daren! Apa yang hendak kau lakukan?" Jhon merinding ketakutan.


"Membunuh pria jahat sepertimu!" ucap Daren. Sambil menggendong Senja, dia menerima sebuah pistol yang dilemparkan Rehan kepadanya.


"Lihatlah sayang, aku akan menghabisi nyawa orang ini tepat dihadapanmu!" katanya.


Senja masih setengah sadar.


Akankah nyawa Jhon akan berakhir saat itu juga?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2