
...****************...
Di ujung pesisir pantai. Jauh dari ibu kota, jangankan kota. Tempat ini begitu terpencil. Bahkan jauh dari pedesaan juga.
Beberapa bulan yang lalu. Seorang kakek telah menemukan mayat yang mengapung. Kakek itu mengira yang mengapung adalah mayat, namun rupanya saat di cek. Orang itu masih hidup. Jadi kakek Amin merawat orang penemuannya yang tak lain adalah Ferdi.
Sialnya, ponsel Ferdi mati. Itu bukan karena rusak, melainkan baterainya habis. Ingin nge-charge juga tak bisa. Di sini sangat terpencil, jauh dari kata modern. Peralatan charger hp maupun listrik juga tidak ada.
"Keterlaluan paman Jhon. Dia membunuhku lalu menusuk Tuan Daren. Aku tak akan membiarkan semua itu terjadi. Karena aku yakin, Tuan Daren pasti akan mencariku," gumam Ferdi.
3 hari Ferdi hanya mengandalkan air laut. Dan dengan kemurahan hati si kakek, akhirnya Ferdi selamat. Namun saat ini Ferdi tak bisa melakukan apapun. Pakaiannya saja hanya terbuat daun Rumbia layaknya Tarzan jaman kuno. Makan saja seadanya. Tapi semua Ferdi syukuri. Dia hanya berharap bisa kembali ke asalnya dengan cepat.
Sementara itu. Sahabat Daren berhasil menemukan titik terang tentang keberadaan Ferdi. Dan itu membuat Daren bersorak gembira. Ya, setidaknya dia masih ada kesempatan untuk bertemu dengan Senja sebelum Jhon mendahuluinya.
"Baguslah. Ferdi memang cerdik. Tapi sayang, urusanku di pengadilan sini belum selesai. Mungkin 3 hari lagi tugasku selesai, dan kita akan ke tempat di mana Ferdi tinggal," kata Daren.
"Iya Bos. Tapi tempat itu sangat terpencil. Akses internet sangat susah. Tapi kita tak butuh itu. Karena sahabat Anda punya semuanya," ucap Rehan.
Daren juga bisa melakukan semua itu. Tapi dia adalah direktur yang super sibuk. Jadi mau tak mau, tugasnya ia serahkan pada sahabat lamanya.
Di tempat yang berbeda. Usai Shela keluar dari rumah. Diam-diam Senja menyamar untuk menjadi orang lain. Dia tidak puas mengandalkan tes pack saja. Jadi dia akan menemui dokter kandungan. Semua ia lakukan hanya untuk Daren. Agar bayi yang ada dalam kandungannya baik-baik saja. Sejujurnya, Senja bukannya tak mengerti akan obat yang diberikan oleh Shela. Setiap Shela menyuruhnya minum, pasti akan Senja buang setelah Shela pergi. Bukan curiga soal hamil. Karena Senja memang bodoh untuk urusan yang satu itu. Hanya saja Senja malas minum obat, jadi diam-diam dia membuangnya begitu saja.
"Kata ibu ada paman Jhon yang mengintaiku. Jadi aku harus keluar melalui pintu belakang dan melewati pagar tetangga. Ah, ribet sekali hidupku semenjak berurusan dengan mereka," gumam Senja. Dia memalsukan identitasnya hari ini. Biar tidak diketahui oleh siapapun.
Dan terpaksa, hari ini Senja mengaktifkan ponselnya. Otomatis GPS nya langsung terhubung dengan Daren.
Di sana Daren langsung memicingkan matanya. 'Anak ini? Dari bulan yang lalu baru hari ini mengaktifkan ponselnya?' batin Daren. Dia tidak mencurigai apapun. Padahal hari ini Senja sedang bepergian. Tapi tanpa curiga apapun, Daren kembali memasukkan ponselnya ke kantong kemejanya.
__ADS_1
Senja memesan ojek online. Dia pergi ke klinik kandungan.
"Anda sedang hamil Dik. Dan usianya sudah memasuki bulan ke-empat," ucap dokter itu setelah memeriksa perut Senja.
'Ya ampun, hampir 4 bulan aku hamil. Tapi kenapa aku tidak tahu sama sekali?' Mata Senja berkaca-kaca. Bagaimana reaksinya Daren jika mendengar kabar ini?! Mungkinkah Daren senang?
"Bagaimana dengan kondisinya Dok? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Senja khawatir.
"Bayinya sangat kuat. Dan perkembangannya terlihat sangat baik. Dan ya, perbanyak makan buah-buahan. Makan yang teratur. Biar bayinya semakin berkembang," saran dari dokter itu.
"Iya Dok."
"Ini obat vitamin, minum yang teratur. Dan jangan lupa, harus rutin check up," kata dokter itu memberi tahu.
"Makasih banyak Dok. Saya permisi," ucap Senja berpamitan. Dia senang dengan kabar kehamilannya. Tapi Shela? Sepertinya Senja harus berhati-hati pada Shela. Karena Shela ingin menggugurkan calon bayinya.
Seperti rute dari awal. Senja pun berhenti tepat di depan rumah tetangganya. Untung tetangganya sedang ke luar kota. Jadi Senja bebas keluar masuk melalui halaman rumahnya. Kalau tidak, mungkin Senja bakalan kena tegur.
"Huh selamat. Akhirnya sampai rumah juga. Aku harus banyak makan buah dan makan. Biar kamu sehat terus sayang," gumam Senja sambil mengelus perutnya.
Untung dia tadi sempat belanja banyak makanan dan buah-buahan. Semuanya Senja bawa ke dalam kamarnya. Biar aman dari jangkau ibunya. Bukanya pelit, hanya saja Senja takut Shela memberikan berbagai macam obat-obatan lagi. Sudah cukup kemarin-kemarin Senja memakan obat itu. Sekarang tidak lagi.
"Fiuh, makan sudah. Minum obat sudah. Saatnya aku kembali pencarian," ucap Senja sambil membuka laptopnya. Wallpaper laptopnya masih foto Daren.
"Aku kangen sama kamu Daren. Apakah di sana kau juga merindukanku? Setiap malam aku bermimpi tentang dirimu. Kita jalan bersama dan tertawa bersama. Aku harap semua itu bisa jadi kenyataan, meskipun itu mustahil."
Di tempat yang berbeda. Usai rapat Daren kembali membuka ponselnya.
__ADS_1
"GPS nya dinyalakan. Baguslah, dia memang gadis yang baik. Berada di rumah mengikuti perintah ibunya," gumam Daren sambil tersenyum.
Daren tidak tahu, bahwa Senja habis dari klinik. Andai dia tahu, mungkin Daren akan mengetahui kehamilan Senja. Sayang, semua itu terlewatkan. Daren sibuk, jadi tak 100 persen dia mengawasi keberadaan Senja.
"Bagaimana Bos? Apakah tugas Anda hari ini lancar?" tanya Rehan sambil membantu membawakan tas kerja Daren.
"Lancar Re. Dua hari lagi sidang terakhir. Aku berharap hakim ada dipihakku. Biar semua urusan di sini cepat selesai dan aku bisa membantu sahabatku mencari Ferdi," ucap Daren dan Rehan menyemangatinya.
"Semoga. Aku yakin, anda pasti memenangkannya," jawab Rehan dan keduanya berjalan menuju ke kamar hotel mereka masing-masing.
Sementara itu... Shela pulang dengan raut wajah yang masam. Jhon menemuinya. Dan Shela bingung dengan pilihannya. Antara membawa Senja bertemu dengan Jhon, atau menyuruh Senja tinggal di tempat lain. Karena rumahnya sekarang ini sudah mulai tidak aman. Jhon mencurigai keberadaan Senja ada di dalam rumahnya. Dan itu adalah kebenarannya.
"Bagaimana ini? Apakah aku harus menyerahkan Senja dalam keadaan hamil? Atau menyuruhnya untuk sembunyi?"
Shela mondar-mandir dan Senja melihat kelakuannya. "Ibu sudah pulang? Kenapa hanya mondar-mandir seperti itu? Apa ada yang menggangu pikiran ibu?" tanya Senja. Dia berniat untuk ijin kepada Shela.
"Senja, ibu bingung." Shela mendekat dan menggenggam kedua tangan Senja.
"Senja juga bingung Bu."
"Apa yang kamu pikirkan Senja?" tanya Shela penasaran.
"Sepertinya aku ingin tinggal di tempat lain dulu Bu. Di sini rasanya sudah tak nyaman bagiku. Apa ibu mengijinkan?" tanya Senja dan Shela melotot tak percaya.
'Kenapa anak ini bisa tahu?'
Bersambung...
__ADS_1